Tradisi Sedekah Laut di Mundu Pesisir, Simbol Syukur dan Pelestarian Budaya
adainfo.id – Tradisi Sedekah Laut atau Nadran kembali digelar masyarakat nelayan di pesisir utara Kabupaten Cirebon. Acara penuh makna itu berlangsung di Desa Mundu Pesisir, Kecamatan Mundu, pada Senin (22/9/2025).
Kegiatan tahunan ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat nelayan atas hasil tangkapan ikan yang melimpah sepanjang tahun. Selain itu, mereka memanjatkan doa bersama agar selalu diberikan keselamatan dan keberkahan dalam mencari nafkah di laut.
Bagi masyarakat pesisir, laut bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga ruang spiritual yang penuh simbol. Melalui ritual sedekah laut, hubungan antara manusia dan alam laut dijaga tetap harmonis.
Kuwu Desa Mundu Pesisir, H. Khaerun, menegaskan pentingnya menjaga tradisi sedekah laut yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang.
Menurutnya, Nadran bukan hanya sekadar ritual syukur, tetapi juga sarana untuk memperkuat kebersamaan antarwarga.
“Tradisi ini sangat baik untuk terus dijaga, karena melalui rasa syukur dan sedekah, masyarakat tidak hanya memelihara budaya, tetapi juga berharap mendapatkan berkah dan hasil laut yang melimpah,” ungkapnya.
Generasi muda pun dilibatkan agar memahami makna tradisi ini, sehingga kelestarian budaya tidak terputus oleh arus modernisasi.
Potensi Wisata Budaya di Pesisir Cirebon Serta Pesan Kelestarian Laut
Selain memiliki nilai religius dan sosial, tradisi Nadran juga menyimpan potensi wisata budaya yang besar.
Khaerun menyebutkan bahwa dengan pengelolaan yang baik, tradisi sedekah laut di Desa Mundu Pesisir dapat menjadi magnet wisatawan.
“Tradisi sedekah laut ini bisa menjadi sarana wisata budaya. Kalau dikembangkan, dapat menarik wisatawan untuk datang ke Desa Mundu Pesisir,” jelasnya.
Di sejumlah daerah pesisir Jawa, Nadran telah menjadi agenda pariwisata yang mendatangkan ribuan pengunjung. Hal serupa diyakini bisa diwujudkan di Cirebon dengan dukungan pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat.
Selain sebagai bentuk syukur, tradisi sedekah laut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Dalam kesempatan itu, Kuwu H. Khaerun mengingatkan pentingnya menjaga ekosistem laut agar manfaatnya dapat terus dirasakan lintas generasi.
“Menjaga laut adalah kewajiban kita bersama. Jika laut lestari, maka masyarakat pesisir akan terus merasakan kebaikannya,” ujarnya.
Pesan ini menjadi relevan di tengah tantangan kerusakan lingkungan, mulai dari pencemaran laut, penangkapan ikan berlebih, hingga abrasi pantai. Tradisi Nadran, dengan demikian, juga berfungsi sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan alam.
Identitas Budaya Pesisir Cirebon
Tradisi sedekah laut di Mundu Pesisir juga menjadi momentum kebersamaan yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Warga, pemerintah desa, hingga aparat TNI-Polri turut hadir mendukung kelancaran acara.
“Alhamdulillah masyarakat hari ini bergembira melaksanakan acara syukuran atau sedekah laut. Kami berterima kasih kepada masyarakat, TNI, Polri serta instansi terkait atas partisipasinya,” tambah H. Khaerun.
Kebersamaan ini mencerminkan nilai gotong royong yang masih terjaga di kalangan masyarakat pesisir, sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi bukan hanya soal ritual, tetapi juga ruang untuk mempererat solidaritas sosial.
Tradisi Nadran di Mundu Pesisir tidak hanya sekadar kegiatan tahunan, tetapi juga menjadi simbol identitas masyarakat pesisir Cirebon.
Bagi warga setempat, mempertahankan tradisi ini sama artinya dengan menjaga jati diri sebagai komunitas nelayan yang hidup berdampingan dengan laut.
Lebih jauh, Nadran juga menunjukkan kekayaan budaya Cirebon yang tidak hanya dikenal lewat warisan keraton dan seni Islam, tetapi juga melalui jejak spiritual dan budaya maritim yang masih bertahan hingga kini.
Dengan pelestarian yang konsisten, tradisi sedekah laut diharapkan mampu menjadi perekat sosial, sumber inspirasi, sekaligus potensi wisata budaya yang menjanjikan di masa depan.











