Longsor Pasirlangu, Pemerhati Perempuan dan Anak Ini Dorong Pemerintah Lindungi Kelompok Rentan

ARY
Suasana Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat yang terdampak longsor. Pemerhati perempuan dan anak asal Depok, Novi Anggriani ungkapkan kelompok rentan jadi prioritas. (Foto: Instagram @bnpb_indonesia)

adainfo.id – Bencana longsor Pasirlangu yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menimbun sedikitnya 30 rumah warga dan menelan puluhan korban saat warga tengah terlelap tidur pada Sabtu (24/01/2026) dini hari.

Peristiwa tragis yang terjadi sekitar pukul 03.00 WIB tersebut menyisakan duka mendalam bagi masyarakat setempat.

Material tanah dan bebatuan yang bergerak secara tiba-tiba menghantam permukiman padat penduduk, membuat sebagian warga tidak sempat menyelamatkan diri.

Keprihatinan atas musibah ini disampaikan pemerhati perempuan dan anak asal Depok, Novi Anggriani.

Ia menyampaikan duka cita mendalam kepada para korban jiwa serta keluarga yang terdampak bencana longsor Pasirlangu.

“Ini adalah tragedi kemanusiaan yang sangat memilukan. Saya turut berduka sedalam-dalamnya untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan,” papar Novi, Senin (26/01/2026).

Berdasarkan data terbaru hingga Minggu (25/01/2026) pukul 12.00 WIB, tim pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan telah menemukan 16 jenazah dari lokasi bencana.

Sementara itu, 80 warga masih dinyatakan hilang, dan proses pencarian terus dilakukan secara intensif oleh tim gabungan di tengah medan yang sulit dan kondisi tanah yang masih labil.

Sejak awal kejadian, tercatat 113 warga terdampak longsor Pasirlangu. Dari jumlah tersebut, 23 orang berhasil selamat.

Sedangkan lainnya masih dalam proses pencarian atau telah dievakuasi ke lokasi pengungsian yang lebih aman.

Perempuan dan Anak Diminta Jadi Prioritas Utama

Novi menegaskan bahwa penanganan pascabencana harus menempatkan perempuan dan anak-anak sebagai prioritas utama.

Menurutnya, kelompok rentan ini membutuhkan perlindungan ekstra, baik dari sisi fisik maupun psikologis.

Perempuan yang berkarier di Boston, Amerika Serikat ini menilai, dampak bencana tidak hanya berupa kehilangan tempat tinggal.

Akan tetapi juga trauma mendalam yang berpotensi membekas dalam jangka panjang.

“Pemerintah harus memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi, mulai dari makanan, tempat tinggal yang layak, layanan kesehatan, hingga pendampingan psikososial dan trauma healing, khususnya bagi anak-anak,” paparnya.

Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan pendampingan, tidak hanya pada masa tanggap darurat, tetapi hingga fase pemulihan sosial dan psikologis masyarakat.

Ajakan Gotong Royong dan Dukungan Moral

Selain peran pemerintah, Novi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut bergotong royong membantu para korban longsor Pasirlangu.

Menurutnya, solidaritas sosial menjadi kunci untuk mempercepat pemulihan para penyintas.

“Jika tidak bisa membantu secara materi, doa yang tulus dan motivasi akan menjadi penyemangat mereka untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan pascabencana,” jelasnya.

Ia menilai dukungan moral sangat dibutuhkan, mengingat banyak warga kehilangan anggota keluarga, rumah, serta sumber penghidupan dalam sekejap.

Hingga saat ini, tim gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI-Polri, pemerintah daerah, dan relawan masih terus melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun material longsor.

Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan faktor keselamatan petugas, karena kondisi tanah di lokasi kejadian masih rawan dan berpotensi terjadi longsor susulan.

Pemerintah daerah setempat juga terus memantau perkembangan cuaca serta menyiagakan langkah-langkah antisipasi guna mencegah jatuhnya korban tambahan.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *