Waspada Virus Nipah, Dinkes Depok Paparkan Risiko dan Pencegahannya

ARY
Ilustrasi kelelawar sebagai inang alami Virus Nipah yang berpotensi menularkan penyakit ke manusia. (Foto: Unsplash/Zdeněk Macháček)

adainfo.id – Kewaspadaan global kembali meningkat menyusul kemunculan ulang Virus Nipah, penyakit menular berbahaya yang dapat berpindah dari hewan ke manusia dan berpotensi menimbulkan kematian.

Penyakit zoonosis ini menjadi sorotan setelah dilaporkan adanya kasus baru yang terkonfirmasi secara laboratorium di India, sehingga memicu perhatian otoritas kesehatan internasional.

Virus Nipah bukanlah penyakit baru. Patogen ini pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1998 dan dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.

Kini, kemunculannya kembali menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan kesehatan masyarakat, termasuk di Indonesia.

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), laporan diterima dari National IHR Focal Point for India terkait dua kasus konfirmasi laboratorium Virus Nipah.

Kedua kasus tersebut terjadi pada tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit di Barasat, Benggala Barat, India.

Laporan resmi itu diterima WHO pada 26 Januari 2026 dan langsung menjadi perhatian kesehatan global, mengingat risiko penularannya yang dapat terjadi antarmanusia dalam kondisi tertentu.

Cara Penularan dari Hewan ke Manusia

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Depok, Devi Maryori, menjelaskan bahwa penularan penyakit ini dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

Hewan yang diketahui menjadi reservoir virus ini antara lain kelelawar, babi, serta kontak dengan cairan tubuh hewan seperti darah, urin, air liur, dan feses.

Selain itu, konsumsi makanan yang terkontaminasi juga berisiko menularkan virus.

“Penularan virus nipah orang ke orang juga dapat terjadi kalau kontak dengan orang yang terinfeksi virus tersebut maupun cairan tubuhnya melalui droplet, urin, atau darah,” ungkapnya dikutip Selasa (03/02/2026).

Devi menambahkan, kasus penularan Virus Nipah dari hewan ke manusia kerap terjadi melalui buah-buahan yang telah dimakan atau digigit oleh kalong atau kelelawar.

Selain itu, konsumsi nira sawit segar yang terpapar cairan tubuh hewan terinfeksi juga menjadi salah satu jalur penularan yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, pada kasus yang terjadi di Malaysia, Virus Nipah banyak ditemukan pada kalangan peternak babi.

Penularan terjadi akibat kontak langsung dengan babi yang terinfeksi.

Sebagai inang perantara, babi yang terpapar Virus Nipah dapat tidak menunjukkan gejala, namun sebagian mengalami gangguan pernapasan hingga gejala neurologis.

Tetap Waspada dan Terapkan PHBS

Menyikapi potensi ancaman tersebut, Devi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaan sejak dini.

Langkah pencegahan dinilai menjadi kunci utama untuk menekan risiko penularan Virus Nipah di tengah masyarakat.

“Tetap waspada, jangan lupa terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sebagai bentuk antisipasi,” tandasnya.

Upaya menjaga kebersihan lingkungan, menghindari konsumsi makanan yang tidak terjamin kebersihannya.

Kemudian, menghindari kontak langsung dengan hewan liar menjadi langkah penting dalam mencegah penyebaran penyakit zoonosis ini.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *