Danantara Siapkan Strategi Hilirisasi untuk Perkuat Industri Baja Nasional
adainfo.id – Upaya memperkuat kemandirian industri baja nasional terus digencarkan pemerintah melalui strategi hilirisasi dan integrasi lintas sektor.
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) menyiapkan peta jalan pembenahan industri baja sebagai fondasi penting pertumbuhan ekonomi jangka panjang Indonesia.
Langkah tersebut mencakup restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor baja, pengembangan proyek hulu, serta penyelarasan kebutuhan baja nasional dengan industri strategis seperti perkeretaapian dan perkapalan.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan bahwa sektor industri menjadi pilar utama dalam strategi pembangunan ekonomi nasional.
Hal itu disampaikannya dalam rapat bersama Komisi VI DPR RI yang disiarkan langsung melalui akun YouTube resmi DPR RI, Kamis (05/02/2026).
“Sektor industri menjadi fondasi pertumbuhan. Kita ingin memastikan industri nasional tumbuh sehat, kompetitif, dan mampu memenuhi kebutuhan domestik,” kata Dony dilansir dari akun YouTube DPR RI, Kamis (05/02/2026).
Menurut Dony, penguatan ekosistem baja nasional harus dimulai dari pembenahan fundamental industri, khususnya pada perusahaan baja milik negara.
Restrukturisasi Krakatau Steel Jadi Titik Awal
Danantara menempatkan restrukturisasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk sebagai langkah awal penguatan industri baja nasional.
Perusahaan tersebut sebelumnya menghadapi tekanan berat akibat tingginya beban utang dan efisiensi produksi yang rendah.
“Yang pertama adalah berkaitan dengan baja, termasuk di dalamnya kita melakukan perbaikan terhadap Krakatau Steel. Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat secara finansial,” ujar Dony.
Manajemen menilai perbaikan struktur biaya, efisiensi operasional, serta penataan ulang model bisnis menjadi kunci pemulihan Krakatau Steel.
Meski demikian, sejumlah pelaku industri menilai konsistensi perbaikan jangka panjang tetap diperlukan agar perusahaan tidak kembali tertekan oleh fluktuasi harga baja global.
Selain pembenahan BUMN, Danantara juga mendorong percepatan proyek hilirisasi di sektor hulu.
Proyek tersebut ditargetkan segera memasuki tahap peletakan batu pertama atau groundbreaking.
“Groundbreaking di bulan depan itu untuk penambahan kapasitas 3 juta ton daripada baja kita,” kata Dony.
Penambahan kapasitas produksi ini dinilai krusial mengingat kebutuhan baja domestik terus meningkat seiring pembangunan infrastruktur, industri manufaktur, hingga proyek strategis nasional.
Impor Baja Masih Dominan
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, konsumsi baja nasional telah mencapai puluhan juta ton per tahun.
Namun, produksi dalam negeri belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Pemerintah mengakui bahwa pasar baja nasional masih dibanjiri produk impor.
Dalam sejumlah paparan resmi, lebih dari separuh kebutuhan baja untuk jenis tertentu masih dipenuhi dari luar negeri.
Di sisi lain, tingkat utilisasi pabrik baja nasional juga masih tergolong rendah.
Sejumlah pimpinan industri mencatat pemanfaatan kapasitas produksi rata-rata masih berada di kisaran 50 hingga 60 persen, jauh di bawah tingkat ideal industri yang umumnya di atas 80 persen.
Kondisi tersebut mendorong Danantara dan pemerintah untuk menyusun strategi integrasi permintaan baja lintas sektor, mulai dari proyek perkeretaapian hingga industri galangan kapal.
Integrasi kebutuhan ini diharapkan dapat meningkatkan serapan baja produksi dalam negeri, memperkuat daya saing industri nasional, serta secara bertahap menekan ketergantungan terhadap impor baja.
Ke depan, pemerintah menargetkan industri baja nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menjadi pemain penting dalam rantai pasok regional.











