Mal Rongsok Depok, Surga Barang Bekas

YAD
Suasana Mal Rongsok Depok yang menjual berbagai barang bekas. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Di tengah padatnya aktivitas dan modernisasi Kota Depok, berdiri sebuah tempat yang menawarkan pengalaman berbeda bagi para pencari barang unik dan bernilai guna.

Tempat itu dikenal dengan nama Mal Rongsok, pusat jual beli barang bekas yang telah bertahan lebih dari satu dekade dan terus menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern, Mal Rongsok hadir dengan bangunan kayu semipermanen.

Namun justru dari kesederhanaan itulah daya tariknya muncul, lengkap dengan alunan musik yang diputar di dalam area pasar barang bekas tersebut.

Begitu melangkah masuk, pengunjung langsung disuguhi pemandangan deretan pengeras suara, monitor komputer, perangkat audio, hingga berbagai komponen elektronik bekas yang berjajar di sisi kanan dan kiri lorong.

Semakin ke dalam, ragam barang semakin beragam. Di bagian belakang dan lantai atas, tersusun rapi pintu bekas, lemari tua, meja, kursi, hingga perabot rumah tangga yang telah dimakan usia namun masih layak pakai.

Tak hanya memenuhi lantai, ratusan barang lain bahkan tergantung di langit-langit, terbungkus plastik, menunggu pembeli yang jeli melihat peluang.

Pembeli Datang dari Luar Depok

Sistem transaksi di Mal Rongsok tergolong sederhana. Pembeli cukup menunjuk barang yang diminati, lalu menawar harga langsung kepada penjual.

Pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Kota Depok. Banyak pula pembeli dari luar daerah yang sengaja berburu barang bekas di lokasi ini.

Salah satunya Aang, warga Kabupaten Tangerang, yang mengaku mengetahui Mal Rongsok dari media sosial.

“Tahu dari media sosial, saya lihat ada barang yang saya mau beli,” ucap Aang, Kamis (05/02/2026).

Aang datang khusus untuk membeli meja dan kursi bekas yang menurutnya masih memiliki kualitas baik.

“Barang ya masih bagus dan bisa digunakan,” ucap Aang.

Berawal dari Bengkel Servis

Mal Rongsok didirikan oleh Nurcholish Agi pada tahun 2010.

Sebelum merintis usaha jual beli rongsokan, Nurcholish sempat mengadu nasib dengan membuka jasa servis motor dan televisi.

Dari usaha tersebut, Nurcholish mulai mengumpulkan berbagai suku cadang otomotif dan komponen elektronik bekas.

Seiring berjalannya waktu, koleksi barangnya berkembang ke berbagai jenis, mulai dari elektronik rumah tangga hingga mebel.

Kini, jumlah barang yang tersimpan di Mal Rongsok diperkirakan mencapai puluhan ribu jenis.

“Kalau sekitar 40 ribu macam ada. Saya tahu fungsinya, cuma kadang lupa letaknya,” ujar Nurcholish sambil tersenyum.

Omzet Ratusan Juta dari Barang Bekas

Prinsip bisnis Nurcholish terbilang sederhana dan diwarisi dari sang ayah yang memiliki toko kelontong.

Baginya, kunci berdagang adalah menyediakan sebanyak mungkin barang agar pembeli memiliki banyak pilihan.

Meski tampak semrawut, Mal Rongsok justru mencatat perputaran ekonomi yang tidak kecil.

Nurcholish mengklaim omzet usahanya bisa mencapai Rp150 juta per bulan.

Namun demikian, hampir seluruh pemasukan tersebut kembali diputar untuk membeli barang bekas lainnya.

Jika membutuhkan dana cepat, Nurcholish mengaku cukup menjual besi tua yang tersimpan dalam jumlah ton.

“Ini bukan menimbun, tapi investasi. Barang lama itu nilainya bisa naik. Ada saja yang cari,” pungkas Nurcholish.

Keberadaan Mal Rongsok tidak hanya menjadi tempat transaksi barang bekas, tetapi juga mencerminkan denyut ekonomi sirkular di tengah kota.

Barang-barang lama yang dianggap usang oleh sebagian orang, justru menemukan nilai baru di tangan pembeli yang tepat.

Di tengah gempuran gaya hidup konsumtif, Mal Rongsok hadir sebagai pengingat bahwa barang bekas pun masih memiliki manfaat dan nilai ekonomi.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *