Munggahan Surli Jadi Cara Komunitas Sepeda Depok Sambut Bulan Suci
adainfo.id – Olahraga sepeda kini menjelma menjadi bagian dari rutinitas harian sekaligus medium pelepas penat dari tekanan pekerjaan.
Fenomena ini paling kentara di kalangan anak muda perkotaan yang menjadikan sepeda bukan hanya alat olahraga, tetapi juga sarana membangun jejaring sosial dan identitas komunitas.
Di tengah tren tersebut, berbagai komunitas sepeda mulai mengembangkan pola kegiatan yang lebih tematik dan bermakna.
Tidak lagi sekadar bersepeda di jalur protokol atau kawasan car free day, komunitas gowes kini merancang rute-rute alternatif yang menawarkan pengalaman berbeda, menyentuh sisi sosial, budaya, hingga lingkungan.
Salah satu kegiatan yang mencerminkan pergeseran orientasi ini digelar oleh komunitas Gowesin Depok melalui agenda bertajuk Munggahan Surli atau Susur Kali.
Kegiatan ini dirancang sebagai ajang silaturahmi lintas komunitas sekaligus sarana menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Munggahan Surli melibatkan sejumlah komunitas sepeda dari wilayah Depok dan Jakarta.
Hampir 100 pesepeda ambil bagian dalam kegiatan tersebut, menjadikannya salah satu agenda komunitas dengan partisipasi cukup besar di awal 2026.
Pemilihan waktu menjelang Ramadan juga memberi makna tersendiri, karena tradisi munggahan kerap dimaknai sebagai momentum membersihkan diri dan mempererat hubungan sosial sebelum memasuki bulan ibadah.
Titik kumpul peserta berada di taman Sungai Elok Cantik dan Menawan (SeCawan), kawasan Pancoran Mas, Depok.
Dari lokasi tersebut, rombongan pesepeda bergerak secara beriringan menuju Depo KRL Depok di Ratu Jaya, melintasi jembatan kuning Kalimulya, masuk ke kawasan Grand Depok City (GDC), dan berakhir di Danau Salam, Universitas Indonesia.
Rute yang dipilih mengikuti aliran Sungai Ciliwung, menjadikan kegiatan ini tidak sekadar gowes jarak menengah, tetapi juga perjalanan eksploratif menyusuri wajah lain kota yang jarang tersentuh aktivitas bersepeda massal.
Menyusuri Jalur Alternatif Kota
Berbeda dengan agenda gowes pada umumnya yang cenderung memilih jalur lebar dan steril dari kendaraan berat, Munggahan Surli justru membawa peserta melintasi jalan kampung, bantaran kali, tanjakan terjal, hingga area kebun warga.
Jalur ini menuntut konsentrasi, teknik dasar bersepeda yang baik, serta stamina yang cukup, namun di sisi lain menawarkan pengalaman visual dan emosional yang lebih kaya.
Peserta disuguhi pemandangan permukiman padat, ruang terbuka hijau yang tersisa, serta kondisi bantaran sungai yang menjadi denyut nadi ekosistem kota.
Interaksi dengan warga sekitar juga menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan, mulai dari sapaan ringan hingga sekadar melintas di gang-gang sempit yang jarang dilewati pesepeda.
Konsep ini dipilih untuk memberi sudut pandang baru tentang ruang kota.
Jalur-jalur yang kerap luput dari perhatian justru menyimpan cerita tentang kehidupan urban yang sesungguhnya, lengkap dengan tantangan dan potensi yang ada di dalamnya
Fakhri Fadillah (25), peserta dari Komunitas Sepik, menilai kegiatan susur kali memberi pengalaman yang berbeda dari rutinitas bersepeda yang biasa ia jalani.
Menurutnya, rute alternatif membuka wawasan tentang wilayah kota yang selama ini hanya dilewati kendaraan bermotor.
“Ini salah satu pengalaman yang menarik buat saya, biasanya bersepeda hanya di jalan-jalan utama, namun kali ini saya bisa menyusur pelosok-pelosok wilayah Depok, mulai dari gang-gang, tanjakan terjal, dan pemandangan kebon warga,” katanya, Selasa (10/02/2026).
Bagi Fakhri, bersepeda tidak lagi soal kecepatan atau jarak tempuh, melainkan tentang bagaimana menikmati proses dan memahami lingkungan sekitar.
Ia menilai kegiatan seperti ini dapat memperkaya pengalaman pesepeda urban yang selama ini terkungkung rutinitas rute yang itu-itu saja.
Ruang Temu Antar Komunitas
Panitia kegiatan menjelaskan bahwa Munggahan Surli dirancang sebagai ruang temu antar komunitas sepeda agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Dengan bersepeda bersama dalam satu rute panjang, interaksi antar-peserta menjadi lebih cair dan kolaboratif.
Tidak ada sekat komunitas atau perbedaan jenis sepeda, semua dilebur dalam semangat kebersamaan.
Konsep susur kawasan permukiman dan bantaran sungai juga dipilih untuk membangun kedekatan sosial antara pesepeda dan lingkungan sekitar.
Peserta diajak untuk lebih peka terhadap kondisi ruang kota, termasuk jalur air dan kawasan hijau yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan ekologis perkotaan.
Kegiatan ini juga menjadi sarana berbagi pengetahuan antar komunitas, mulai dari teknik bersepeda di jalur non-aspal, manajemen kelompok besar, hingga diskusi ringan tentang keselamatan dan etika bersepeda di ruang publik.
Tren Baru Kultur Bersepeda Urban
Kegiatan berbasis komunitas dengan pendekatan tematik seperti Munggahan Surli dinilai mencerminkan tren baru dalam kultur bersepeda urban.
Orientasi bersepeda tidak lagi semata-mata pada aspek fisik, tetapi juga pengalaman, interaksi sosial, dan eksplorasi ruang kota.
Dalam konteks perkotaan yang kian padat dan individualistis, kegiatan gowes bersama menjadi medium efektif untuk membangun jejaring sosial lintas latar belakang.
Pesepeda dari berbagai profesi dan usia dapat bertemu dalam satu lintasan, berbagi cerita, dan membangun rasa memiliki terhadap kota yang mereka huni.
Selain itu, pendekatan ini juga dinilai mampu menumbuhkan kepedulian terhadap isu lingkungan.
Dengan menyusuri bantaran sungai dan kawasan hijau, peserta secara langsung melihat kondisi ekosistem perkotaan, sekaligus menyadari pentingnya menjaga ruang-ruang tersebut agar tetap lestari.
Bagi komunitas gowes, sepeda bukan lagi sekadar alat transportasi atau olahraga, melainkan medium sosial yang mampu menjembatani kepentingan individu dan kolektif.
Melalui kegiatan yang dirancang dengan narasi dan tujuan jelas, bersepeda dapat menjadi sarana edukasi, advokasi, sekaligus rekreasi yang inklusif.
Komunitas berharap tren bersepeda urban terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan mobilitas berkelanjutan.
Dengan menghadirkan konsep-konsep kreatif dan tematik, kegiatan gowes diharapkan tidak hanya diminati oleh kalangan tertentu, tetapi juga mampu menarik partisipasi masyarakat yang lebih luas.
Munggahan Surli menjadi salah satu contoh bagaimana komunitas sepeda dapat berperan aktif dalam membentuk wajah baru bersepeda di perkotaan, tidak hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan sosial dan refleksi terhadap lingkungan kota.











