Jagung Pangan Jadi Komoditas Strategis Dukung Industri Domestik

ARY
Ilustrasi jagung pangan untuk memasok industri domestik. (Foto: Unsplash/Tianlei Wu)

adainfo.id – Penguatan produksi dan hilirisasi jagung pangan nasional terus digenjot pemerintah sebagai bagian dari strategi besar menuju swasembada jagung 2026.

Langkah percepatan ini diarahkan untuk memastikan pasokan dalam negeri tetap terjaga sekaligus mendorong pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi.

Pemerintah memproyeksikan produksi jagung nasional pada 2026 mampu mencapai 18 juta ton pipilan kering.

Target tersebut menjadi fondasi utama dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat struktur industri pangan berbasis komoditas domestik.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menekankan pentingnya diversifikasi pemanfaatan jagung.

Selama ini, komoditas jagung nasional lebih banyak diserap sektor pakan ternak.

Ke depan, jagung diarahkan menjadi bahan baku strategis bagi industri pengolahan pangan.

Pengembangan jagung pangan dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.

Selain memperluas pasar petani, kebijakan ini juga membuka peluang pertumbuhan industri berbasis pati dan turunan jagung lainnya.

Produksi Jagung Tumbuh Positif

Optimisme pemerintah terhadap swasembada jagung 2026 tidak terlepas dari tren peningkatan produksi yang terus menunjukkan perbaikan.

Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, potensi produksi jagung periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 4,94 juta ton.

Angka tersebut meningkat 4,18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kenaikan produksi tersebut menjadi indikator kuat bahwa intervensi pemerintah di sektor hulu mulai menunjukkan hasil signifikan.

Peningkatan luas tanam, distribusi benih unggul, serta dukungan teknologi budidaya menjadi faktor pendorong utama.

Selain produksi triwulanan yang meningkat, pemerintah juga mencatat adanya surplus dan stok carry over sekitar 4,5 juta ton berdasarkan neraca pangan nasional.

Dengan ketersediaan tersebut, kebutuhan domestik diyakini dapat terpenuhi tanpa harus mengandalkan impor.

Untuk melindungi produsen di tingkat hulu, pemerintah menetapkan harga pembelian jagung di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram.

Kebijakan harga ini diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara kepentingan petani dan kebutuhan industri.

Stabilitas harga menjadi faktor penting dalam mendorong petani meningkatkan produktivitas.

Dengan kepastian pasar dan harga yang kompetitif, petani memiliki insentif untuk memperluas areal tanam dan mengoptimalkan hasil panen.

Perluasan ke Industri Pangan

Selama bertahun-tahun, struktur pemanfaatan jagung nasional didominasi oleh sektor pakan ternak, khususnya untuk ayam pedaging dan ayam petelur.

Ketergantungan ini menyebabkan nilai tambah komoditas sebagian besar berhenti di sektor hulu.

Melalui strategi hilirisasi, pemerintah kini mendorong pemanfaatan jagung sebagai bahan baku industri pangan.

Jagung berdaya pati tinggi dibutuhkan untuk berbagai produk olahan, termasuk pati jagung, sirup glukosa, hingga bahan baku industri makanan dan minuman.

Kebutuhan jagung pangan untuk industri nasional diperkirakan mencapai sekitar 450.000 ton per tahun.

Permintaan tersebut terutama datang dari industri pengolahan pati dan produk turunannya.

Salah satu industri yang membutuhkan pasokan jagung berdaya pati tinggi adalah PT Tereos FKS Indonesia.

Ketersediaan bahan baku domestik menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan rantai produksi industri tersebut.

Untuk memastikan kesesuaian spesifikasi bahan baku, Kementerian Pertanian menjalin koordinasi dengan produsen benih nasional, termasuk PT Restu Agropro Jayamas di Kediri, Jawa Timur.

Pengembangan varietas unggul dengan kandungan pati sesuai kebutuhan industri menjadi prioritas.

Penguatan Hilirisasi dan Kemitraan

Direktur Hilirisasi Hasil Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, Tiurmauli Silalahi, menegaskan bahwa sinergi antara petani dan industri menjadi kunci keberhasilan program ini.

“Saat ini Direktorat Hilirisasi Hasil Tanaman bersama Kementerian Koordinator Bidang Pangan melakukan sosialisasi dan menjalin kerja sama dengan berbagai provinsi sentra jagung untuk memastikan pasokan industri berjalan berkelanjutan,” papar Tiurmauli dikutip Minggu (15/02/2026).

Dengan pola kemitraan yang jelas, petani memiliki kepastian pasar, sementara industri memperoleh pasokan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Yudi Sastro, menekankan bahwa pengembangan jagung pangan sangat memungkinkan didukung teknologi pengolahan modern yang semakin berkembang.

“Melalui penguatan kemitraan dan hilirisasi, jagung tidak hanya menjadi komoditas pakan, tetapi juga sumber bahan baku industri pangan bernilai tambah tinggi bagi ekonomi nasional,” jelas Yudi.

Hilirisasi dinilai sebagai strategi transformasi struktural sektor pertanian.

Jagung tidak lagi dipandang sekadar komoditas primer, melainkan bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Penguatan rantai pasok dilakukan melalui integrasi produksi, distribusi, hingga pengolahan.

Pemerintah juga mendorong digitalisasi data produksi untuk memastikan transparansi dan akurasi pasokan.

Dampak terhadap Kesejahteraan Petani

Strategi pengembangan jagung pangan diyakini memberi dampak langsung terhadap kesejahteraan petani.

Dengan terbukanya akses pasar industri, petani tidak hanya bergantung pada permintaan pakan ternak.

Diversifikasi pasar memungkinkan peningkatan nilai jual dan stabilitas pendapatan.

Permintaan industri yang bersifat reguler menciptakan kepastian jangka panjang bagi pelaku usaha tani.

Selain itu, pengembangan varietas khusus industri membuka peluang peningkatan produktivitas lahan.

Dukungan teknologi budidaya dan pendampingan teknis dari pemerintah diharapkan mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil panen.

Jagung dipandang sebagai komoditas strategis yang mampu menopang sektor peternakan sekaligus memperkuat fondasi industri pangan nasional.

Transformasi ini sejalan dengan agenda besar ketahanan pangan dan peningkatan daya saing produk dalam negeri.

Dengan dukungan kebijakan harga, peningkatan produksi, serta hilirisasi berbasis kemitraan, jagung ditempatkan sebagai salah satu pilar utama pembangunan pertanian modern.

Strategi ini sekaligus mempertegas komitmen pemerintah dalam membangun kemandirian pangan nasional berbasis komoditas unggulan domestik.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *