Fokus Putar Film Nasional, PFN Siapkan Bioskop Negara Sinewara

AZL
Ilustrasi lahan PFN di Otista, Jakarta Timur yang akan dibangun bioskop negara Sinewara. (Foto: PFN)

adainfo.id – Langkah strategis penguatan industri film nasional mulai memasuki babak baru setelah Produksi Film Negara (PFN) yang merupakan perusahaan BUMN perfilman menyiapkan pembangunan jaringan bioskop milik negara bernama Sinewara.

Proyek ini dirancang sebagai model awal pengembangan bioskop pelat merah yang akan memprioritaskan film Indonesia sebagai konten utama pemutaran.

Rencana tersebut dipaparkan Direktur Utama PFN, Riefian Fajarsyah, dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, awal Februari lalu.

Dalam forum tersebut, ia menegaskan bahwa proyek ini menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional karena untuk pertama kalinya negara memiliki jaringan bioskop yang dibangun dan dikelola langsung oleh BUMN perfilman.

Riefian yang dikenal publik sebagai Ivan Seventeen, menyampaikan bahwa proyek percontohan atau pilot project akan berdiri di kawasan lahan aset PFN di Otista, Jakarta Timur.

Lokasi tersebut dipilih karena merupakan aset milik perusahaan sehingga efisien dari sisi investasi awal dan pengembangan infrastruktur.

“Insya Allah Ketua, PFN akan mendirikan bioskop negara pertama yang bernama Sinewara yang berlokasi di Otista, itu di lahan PFN. Jadi ini sebagai pilot project untuk bioskop negara pertama,” kata Ivan dikutip, Senin (16/02/2026).

Pilot Project di Otista Jakarta Timur

Kawasan Otista Jakarta Timur diproyeksikan menjadi titik awal kebangkitan bioskop negara.

Dengan memanfaatkan lahan milik sendiri, PFN menilai pembangunan tahap pertama dapat ditekan dari sisi biaya akuisisi lahan.

Sehingga fokus investasi dapat diarahkan pada pembangunan fasilitas pemutaran yang representatif.

Konsep Sinewara tidak hanya sebatas ruang pemutaran film, melainkan dirancang sebagai pusat aktivitas kreatif.

PFN ingin menghadirkan ruang apresiasi, diskusi, hingga kolaborasi antar sineas lokal.

Model ini diharapkan mampu menghidupkan kembali peran negara dalam distribusi dan eksibisi film nasional.

PFN memposisikan proyek ini sebagai model awal jaringan bioskop pelat merah.

Jika tahap pertama dinilai berhasil secara operasional dan finansial, konsep serupa akan direplikasi di berbagai daerah.

Skema ekspansi dirancang berbasis kolaborasi dengan pemerintah daerah.

“Semoga ini bisa menjadi stimulan dan juga trigger untuk daerah-daerah lain ikut mengembangkan bisnis bioskop negara ini dengan cara bergabung menjadi shareholder,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, pengembangan jaringan bioskop negara tidak hanya terpusat di Jakarta.

Daerah diberi peluang untuk terlibat sebagai pemegang saham sehingga tercipta rasa kepemilikan bersama terhadap infrastruktur perfilman nasional.

Fokus Film Indonesia

Salah satu pembeda utama Sinewara dibanding jaringan bioskop komersial seperti Cinema XXI, CGV Cinemas, dan Cinépolis adalah fokus konten.

Sinewara direncanakan hanya memutar film-film Indonesia. Kebijakan tersebut menjadi strategi afirmatif untuk memperluas ruang tayang film nasional.

Selama ini, banyak film Indonesia menghadapi keterbatasan layar serta durasi tayang yang relatif singkat di jaringan komersial, terutama ketika harus bersaing dengan film impor beranggaran besar.

PFN menilai ruang eksibisi yang terbatas menjadi salah satu tantangan struktural dalam ekosistem perfilman nasional.

Dengan hadirnya bioskop negara yang secara khusus memutar film Indonesia, sineas Tanah Air diharapkan memperoleh kepastian layar dan durasi tayang yang lebih memadai.

Selain memperpanjang usia edar film nasional, konsep ini juga membuka peluang bagi film independen, film daerah, dan karya sineas muda untuk menjangkau penonton yang lebih luas.

Sinewara diproyeksikan menjadi panggung khusus bagi karya lokal yang selama ini sulit mendapatkan slot strategis.

Penguatan Ekosistem Perfilman Nasional

Industri film tidak hanya berbicara soal produksi, tetapi juga distribusi dan eksibisi.

Tanpa akses layar yang cukup, film berkualitas sekalipun berisiko tidak menjangkau audiens maksimal.

Oleh karena itu, pembangunan bioskop negara dinilai sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri.

PFN melihat adanya kebutuhan intervensi negara dalam menciptakan keseimbangan ekosistem.

Dominasi jaringan bioskop swasta memang telah mempercepat modernisasi fasilitas pemutaran, namun pada saat bersamaan memunculkan tantangan distribusi bagi film nasional tertentu.

Dengan Sinewara, negara berupaya hadir sebagai fasilitator ruang distribusi alternatif.

Pendekatan ini diharapkan menciptakan diversifikasi pasar sekaligus memperluas penetrasi film Indonesia ke wilayah yang belum terjangkau jaringan komersial.

Model kolaborasi dengan pemerintah daerah juga membuka peluang pemerataan akses tontonan berkualitas.

Banyak daerah di Indonesia yang belum memiliki bioskop permanen atau hanya memiliki satu layar dengan pilihan terbatas.

Jaringan bioskop negara dapat menjadi solusi untuk memperluas akses budaya dan hiburan.

Efisiensi Investasi dan Skema Bisnis

Pemanfaatan aset lahan di Otista menjadi strategi efisiensi investasi tahap awal.

Tanpa beban pembelian lahan baru, PFN dapat mengalokasikan anggaran untuk pembangunan gedung, teknologi proyeksi, sistem audio, serta fasilitas pendukung lainnya.

Skema bisnis Sinewara dirancang lebih fleksibel dibanding jaringan komersial.

Selain pemutaran reguler, bioskop ini dapat dimanfaatkan untuk pemutaran khusus, festival film, diskusi sineas, peluncuran film, hingga program edukasi perfilman bagi pelajar dan mahasiswa.

Pendekatan multifungsi ini diharapkan menciptakan arus pendapatan yang beragam sekaligus memperkuat posisi Sinewara sebagai pusat aktivitas kreatif.

PFN juga membuka peluang kolaborasi dengan komunitas film dan institusi pendidikan untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang.

Keterlibatan pemerintah daerah sebagai shareholder memberi peluang pembiayaan bersama.

Skema ini memungkinkan daerah memiliki saham dalam pengelolaan bioskop negara sehingga ekspansi jaringan dapat dilakukan secara bertahap dan terukur.

Momentum Kebangkitan Film Nasional

Dalam beberapa tahun terakhir, film Indonesia menunjukkan tren pertumbuhan positif dari sisi jumlah produksi dan penonton.

Namun tantangan distribusi tetap menjadi isu krusial. Kehadiran bioskop negara dinilai dapat menjadi katalisator kebangkitan perfilman nasional.

Sinewara diharapkan tidak sekadar menjadi simbol kehadiran negara, tetapi juga instrumen nyata untuk memperkuat daya saing film Indonesia.

Dengan layar khusus bagi karya lokal, potensi ekonomi kreatif dari sektor perfilman dapat dioptimalkan.

PFN sebagai BUMN perfilman memiliki mandat historis dalam pembangunan industri film nasional.

Transformasi menuju pengelolaan jaringan bioskop menjadi langkah adaptif menghadapi dinamika industri global yang semakin kompetitif.

Ke depan, keberhasilan pilot project di Otista akan menjadi indikator penting sebelum ekspansi dilakukan ke kota-kota lain.

Evaluasi operasional, minat penonton, serta keberlanjutan finansial akan menjadi pertimbangan dalam menentukan skala pengembangan berikutnya.

Dengan konsep bioskop negara yang terintegrasi, fokus pada film Indonesia, serta model kolaboratif lintas daerah, Sinewara diproyeksikan menjadi wajah baru eksibisi film nasional di tengah persaingan industri hiburan yang kian dinamis.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *