Fenomena Banyu Mudal di Depok, Sumur Berbuih yang Perlu Dilestarikan
adainfo.id – Fenomena keluarnya air berbuih di Banyu Mudal, Pengasinan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, kembali menjadi sorotan publik setelah aktivitas gelembung dan aroma khas dari sumur tersebut terus berlangsung hingga kini.
Banyu Mudal belakangan ini menarik perhatian masyarakat karena fenomena air yang terus mengeluarkan buih gelembung tanpa henti.
Lokasinya yang berada di Jalan Panggulan tersebut tersembunyi di antara semak-semak rimbun di dekat jembatan aliran kali, tepat di samping Masjid Mambaul Irfan.
Sumur berbentuk persegi dengan ukuran sekitar 2,5 hingga 3 meter tersebut dibatasi seng setinggi kurang lebih 1,5 meter.
Dari dalamnya, air terus muncul disertai gelembung dan aroma menyerupai belerang serta unsur seperti minyak tanah.
Fenomena ini disebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan masih terus terjadi hingga kini.
Asal Usul Sumur Diduga dari Pengeboran Zaman Belanda
Suip (100), kuncen Banyu Mudal, mengatakan sumur tersebut diduga berasal dari pengeboran pada masa kolonial Belanda yang tidak pernah diselesaikan.
Hingga kini, Suip masih setia merawat dan membersihkan area sumur tersebut.
“Setau saya itu awalnya sumur ada tadinya emang pas zaman Belanda mau dibor buat bikin sumur minyak. Tapi nggak tahu kenapa pengeboran itu nggak sampai selesai pengerjaannya,” ungkapnya Senin (06/04/2026).
Ia juga membenarkan, bahwasanya pada era Presiden Soekarno, pemerintah Indonesia bersama tenaga ahli dari Jepang juga sempat melakukan penelitian untuk mengecek potensi kandungan minyak di lokasi tersebut.
Namun hasilnya menunjukkan kandungan minyak relatif kecil sehingga tidak layak dikembangkan sebagai sumber minyak komersial.
Seiring waktu, intensitas gas dan minyak yang muncul dari sumur tersebut memang mulai berkurang.
Meski demikian, aktivitas alami berupa gelembung air dan aroma khas masih tetap berlangsung.
Kandungan belerang yang tercium dari lokasi menjadi salah satu indikasi adanya reaksi alami di dalam tanah.
Selain itu, munculnya bau menyerupai minyak tanah semakin menguatkan dugaan bahwa sumur tersebut memiliki keterkaitan dengan sumber energi bawah tanah, meski tidak ekonomis untuk dieksploitasi.
Fenomena ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama karena keberlangsungannya yang stabil selama puluhan tahun tanpa mengalami perubahan signifikan.
Banyu Mudal Kini Jadi Lokasi Pengobatan Alternatif
Meski tidak lagi dianggap sebagai sumber energi potensial, kondisi sumur justru menghadirkan manfaat lain bagi masyarakat.
Banyu Mudal kini dikenal sebagai lokasi pengobatan alternatif yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah.
Kandungan belerang dan gas yang keluar dari dalam tanah diyakini sejumlah pengunjung mampu membantu mengatasi berbagai penyakit kulit.
Tidak sedikit pengunjung yang datang untuk berendam, bahkan membawa pulang air dari sumur tersebut.
“Kalau buat berobat emang sering orang dari mana-mana datang buat berendam di sini, kadang juga nyerok airnya buat dibawa. Nyari berkahnya. Banyak yang datang dari Jawa, Banten, luar pulau juga ada,” jelas Suip.
Fenomena ini menunjukkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap potensi penyembuhan alami dari sumber air tersebut, meskipun belum sepenuhnya didukung oleh kajian ilmiah yang komprehensif.
Suip juga menambahkan bahwa di sekitar kawasan Panggulan terdapat tiga sumur serupa yang masih mengeluarkan air.
Dua sumur memiliki diameter besar, sementara satu lainnya berukuran lebih kecil.
Keberadaan beberapa sumur aktif ini memperkuat dugaan adanya kandungan alami di bawah permukaan tanah yang tersebar di kawasan tersebut.
Namun hingga saat ini, penelitian lebih lanjut terkait struktur geologi dan kandungan mineralnya masih terbatas.
Meskipun demikian, kondisi ini memberikan potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek penelitian maupun wisata berbasis edukasi lingkungan.
Perubahan Makna dari Sumber Energi ke Ruang Budaya
Menariknya, pengunjung justru lebih banyak berasal dari luar daerah, sementara warga sekitar cenderung menganggapnya sebagai bagian dari sejarah lingkungan mereka.
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana Banyu Mudal mengalami perubahan makna dari waktu ke waktu.
Dari yang semula dianggap sebagai sumber energi potensial, kemudian menjadi situs sejarah, hingga kini berkembang sebagai ruang budaya dan spiritual bagi masyarakat.
Keunikan ini menjadikan Banyu Mudal tidak hanya sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai bagian dari memori kolektif warga setempat.
Transformasi fungsi ini menunjukkan bagaimana masyarakat mampu beradaptasi dan memberi makna baru terhadap lingkungan sekitar mereka, terutama ketika potensi ekonomi awal tidak lagi relevan.
Potensi Wisata dan Perlunya Pengelolaan Berkelanjutan
Karena itu, diperlukan perhatian dari pemerintah dan dinas terkait agar keberlangsungan sumur Banyu Mudal dapat terus lestari dan terjaga.
Penataan kawasan, penelitian ilmiah, serta pengelolaan berbasis masyarakat dinilai penting agar potensi wisata, sejarah, dan budaya di lokasi tersebut dapat berkembang tanpa menghilangkan nilai alaminya.
Fenomena air berbuih yang muncul secara alami dapat menjadi bahan penelitian bagi akademisi maupun pelajar.
Sekaligus memperkaya pengetahuan masyarakat mengenai potensi alam di wilayah perkotaan.
Dengan pengelolaan yang tepat, Banyu Mudal tidak hanya menjadi tempat pengobatan alternatif, tetapi juga dapat berkembang sebagai destinasi wisata lokal yang memberi manfaat ekonomi bagi warga sekitar.
Penataan akses, penyediaan informasi, serta menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan menjadi langkah penting.
Hal tersebut agar fenomena alam yang telah bertahan puluhan tahun ini tetap terjaga sebagai warisan sejarah dan budaya masyarakat.












