Harga Plastik Meroket, Pedagang di Depok Semakin Resah
adainfo.id – Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir juga dirasakan langsung oleh pedagang di Kota Depok, seiring terganggunya pasokan bahan baku dan fluktuasi harga global yang memicu lonjakan biaya di tingkat distribusi.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada pedagang plastik, tetapi juga merambat ke pelaku usaha kecil yang bergantung pada kemasan plastik untuk aktivitas sehari-hari.
Salah satu pedagang plastik di Pasar Musi, Sukmajaya, Kota Depok, Marvin (20), mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik sudah terjadi dalam dua bulan terakhir dan kini semakin terasa.
“Untuk semua jenis plastik mengalami kenaikan, itu mulai dari plastik prapatan, kantong plastik, gelas plastik, dan semua jenis yang berbahan plastik,” ungkapnya saat ditemui di lokasi, Selasa (07/04/2026).
Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu jenis produk, tetapi merata pada seluruh kategori plastik yang dijual di pasaran.
Hal ini membuat pedagang harus menyesuaikan harga jual secara bertahap agar tetap bisa menutup biaya modal yang terus meningkat.
Lonjakan Harga Capai Ribuan Rupiah per Produk
Marvin menjelaskan bahwa kenaikan harga plastik cukup signifikan, dengan rata-rata kenaikan mencapai Rp2.000 hingga Rp3.000 per kemasan, tergantung jenis produk.
“Sekarang ini, kenaikan harga plastik sekitaran Rp2 ribu sampai Rp3 ribu per piece. Kayak plastik prapatan yang biasanya dijual di harga Rp5 ribu sekarang naik jadi Rp7 ribu. Terus gelas plastik yang biasanya Rp9 ribu sekarang harganya udah Rp12 ribu,” jelasnya.
Kenaikan ini terjadi secara bertahap, dimulai dari peningkatan kecil hingga akhirnya melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus lebih cermat dalam mengatur stok dan harga agar tetap kompetitif di pasar.
Kenaikan harga plastik tidak lepas dari faktor global yang memengaruhi rantai pasok bahan baku.
Salah satu penyebab utama adalah terganggunya pasokan bahan baku impor, khususnya nafta, yang menjadi komponen penting dalam produksi plastik.
Indonesia masih sangat bergantung pada impor bahan baku plastik dari berbagai negara, sehingga gangguan distribusi di tingkat global langsung berdampak pada harga domestik.
Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia juga turut berkontribusi terhadap kenaikan biaya produksi plastik.
Kenaikan harga minyak menyebabkan biaya pengolahan bahan baku meningkat, yang kemudian diteruskan ke distributor hingga pedagang.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa impor plastik dan barang berbahan plastik Indonesia mencapai nilai yang cukup besar, mencerminkan tingginya ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.
Negara seperti China, Thailand, hingga Korea Selatan menjadi pemasok utama bahan plastik ke Indonesia, diikuti oleh sejumlah negara lain yang turut menopang kebutuhan dalam negeri.
Permintaan Tetap Tinggi Meski Harga Naik
Meskipun harga mengalami kenaikan, permintaan terhadap plastik di pasar masih relatif stabil.
Hal ini disebabkan oleh tingginya kebutuhan masyarakat terhadap kemasan plastik, baik untuk keperluan rumah tangga maupun usaha.
“Kalau konsumen sendiri, masih banyak yang beli meski harga plastik naik. Mungkin karena masih tinggi juga keperluan masyarakat buat menggunakan plastik. Jadi untuk di sini sendiri belum ada penurunan konsumen yang besar,” paparnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa plastik masih menjadi kebutuhan utama yang sulit digantikan dalam waktu singkat.
Terutama bagi pelaku usaha kecil seperti pedagang makanan dan minuman.
Namun, stabilnya permintaan tidak serta-merta mengurangi beban pedagang, karena margin keuntungan tetap tertekan akibat kenaikan harga modal.
Ancaman Kenaikan Harga Barang di Tingkat Konsumen
Kenaikan harga plastik berpotensi menimbulkan efek domino terhadap harga barang lainnya.
Khususnya produk yang menggunakan kemasan plastik sebagai bagian dari distribusi.
Pelaku usaha kecil yang bergantung pada plastik sebagai kemasan utama kemungkinan akan menyesuaikan harga jual untuk menutupi biaya produksi yang meningkat.
Jika kondisi ini terus berlanjut, maka dampaknya dapat dirasakan langsung oleh konsumen dalam bentuk kenaikan harga berbagai produk di pasaran.
Pedagang berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga bahan baku plastik agar tidak terus melonjak.
Stabilitas pasokan dinilai menjadi kunci utama dalam menekan harga, sehingga aktivitas perdagangan tetap berjalan normal dan daya beli masyarakat tidak terganggu.
Di sisi lain, upaya pengendalian harga juga diharapkan mampu melindungi pelaku usaha kecil dari tekanan biaya yang semakin besar.
Terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada bahan kemasan plastik dalam menjalankan usaha sehari-hari.












