Bahan Baku Tekstil Naik Drastis: Industri Tertekan, Harga Baju Terancam Naik
adainfo.id – Industri tekstil dan produk tekstil nasional menghadapi tekanan signifikan akibat lonjakan harga bahan baku yang dipicu konflik di kawasan Timur Tengah, yang mendorong harga minyak dunia mencapai sekitar US$ 110 per barel dan berimbas pada potensi kenaikan harga baju di tingkat ritel.
Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta menerangkan bahwa harga paraxylene yang merupakan bahan baku utama polyester saat ini sudah berada di level US$ 1.300 per ton atau naik sekitar 40% dari 2 minggu yang lalu, namun kenaikan harga ini belum sepenuhnya sampai ke industri hilir.
Kenaikan harga tersebut menjadi indikator awal tekanan pada rantai pasok industri tekstil yang memiliki keterkaitan erat dengan harga energi global.
Tak hanya itu, kenaikan harga bahan baku seperti paraxylene tidak hanya berdampak pada produsen hulu, tetapi juga berpotensi menimbulkan efek domino ke seluruh rantai industri tekstil.
Mulai dari produsen serat, benang, kain, hingga industri pakaian jadi diperkirakan akan merasakan dampak kenaikan tersebut secara bertahap.
“Dalam 1 minggu ke depan, kenaikan harga ini akan terdistribusi ke produsen kain dan 2 minggu berikutnya akan terdistribusi ke sektor pakaian jadi,” papar Redma dikutip Rabu (08/04/2026).
Proses distribusi kenaikan harga ini mencerminkan struktur industri tekstil yang berlapis, di mana setiap tahap produksi memiliki ketergantungan terhadap bahan baku sebelumnya.
Dengan demikian, tekanan harga yang terjadi di hulu akan terus mengalir hingga ke produk akhir yang diterima konsumen.
Harga Baju di Ritel Berpotensi Naik Hingga 10 Persen
Dampak dari kenaikan harga bahan baku tekstil diperkirakan akan dirasakan langsung oleh konsumen dalam waktu dekat.
Sektor ritel diprediksi akan melakukan penyesuaian harga untuk menjaga margin usaha di tengah kenaikan biaya produksi.
Redma menyebutkan bahwa kenaikan harga barang jadi seperti baju di tingkat ritel dapat mencapai hingga 10 persen.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat, terutama di tengah situasi ekonomi yang masih dalam tahap pemulihan.
Meski demikian, pelaku industri masih berupaya menjaga keseimbangan antara kenaikan biaya produksi dan stabilitas harga di pasar.
Permintaan Pasar Masih Stabil di Tengah Tekanan Harga
Di tengah lonjakan harga bahan baku, permintaan pasar terhadap produk tekstil masih menunjukkan kondisi yang relatif stabil.
Bahkan, terdapat kecenderungan peningkatan permintaan terhadap produk dalam negeri.
“Hingga saat ini bahan baku baik untuk polyester maupun rayon yang diproduksi di dalam negeri belum ada kendala, barangnya ada, hanya harganya yang tinggi,” ungkapnya.
Kenaikan harga bahan baku impor menjadi salah satu faktor yang mendorong konsumen beralih ke produk lokal.
Hal ini membuka peluang bagi industri dalam negeri untuk memperkuat posisinya di pasar domestik.
Namun, stabilitas permintaan ini tetap harus diimbangi dengan kemampuan produksi yang memadai agar tidak terjadi ketidakseimbangan antara supply dan demand.
Meskipun permintaan pasar masih terjaga, tingkat utilisasi industri tekstil nasional belum menunjukkan pemulihan optimal.
Untuk produsen polyester, tingkat utilisasi masih berada di bawah 40 persen, sementara produsen rayon berada di kisaran 70 persen.
Rendahnya tingkat utilisasi ini menunjukkan bahwa sebagian kapasitas produksi belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kondisi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk ketidakpastian pasar serta tantangan struktural di dalam negeri.
Kondisi tersebut membuat sebagian produsen memilih untuk tidak beroperasi secara penuh.
Produsen Fokus Layani Konsumen Loyal
Dalam situasi yang penuh tekanan ini, produsen tekstil mengambil langkah strategis dengan memprioritaskan pelayanan kepada konsumen loyal.
“Belum bisa jalan full karena yang sudah berhenti tidak mau jalan lagi selama pemerintah membiarkan praktik unfair terus terjadi di pasar domestik,” jelasnya.
Langkah ini diambil sebagai bentuk adaptasi terhadap kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Produsen yang masih beroperasi memilih untuk menjaga hubungan dengan pelanggan tetap dibandingkan memperluas pasar baru yang berisiko.
“Jadi saat ini para produsen yang masih jalan hanya melayani konsumen loyal saja, mereka yang biasa menggunakan bahan baku impor tidak diprioritaskan,” terangnya.
Kondisi ini mencerminkan adanya perubahan strategi dalam industri tekstil untuk bertahan di tengah tekanan biaya dan dinamika pasar global.
Selain itu, isu praktik perdagangan yang dianggap tidak adil juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pelaku industri dalam menjalankan operasionalnya.
Tekanan dari berbagai sisi ini menunjukkan bahwa industri tekstil nasional tengah berada dalam fase penyesuaian yang membutuhkan dukungan kebijakan serta stabilitas pasar untuk kembali tumbuh secara optimal.












