Sanggar Gong Si Bolong Dipilih Jadi Lokasi Observasi Budaya Pelajar Depok
adainfo.id – Upaya mengenalkan dan melestarikan budaya lokal terus dilakukan di tengah derasnya pengaruh budaya modern yang semakin dekat dengan generasi muda.
Salah satunya dilakukan SMP Al Hasra Bojongsari, Kota Depok, melalui program C Explorer dengan mengajak siswa melakukan observasi budaya di Sanggar Kesenian Tradisional Gong Si Bolong.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman yang bertujuan mengenalkan langsung kekayaan budaya daerah kepada para siswa.
Melalui kunjungan ini, peserta didik tidak hanya mendapatkan pengetahuan secara teori, tetapi juga berkesempatan melihat dan mencoba berbagai kesenian tradisional yang masih bertahan di Kota Depok.
Guru pendamping SMP Al Hasra Bojongsari, Sri Nurhayati, mengatakan pemilihan Sanggar Gong Si Bolong dilakukan sebagai bentuk komitmen sekolah untuk ikut menjaga keberlangsungan budaya lokal yang menjadi identitas masyarakat.
Gong Si Bolong Dipilih Jadi Lokasi Observasi Budaya
Menurut Sri, sekolah sebelumnya melakukan pencarian sejumlah lokasi yang memiliki nilai budaya kuat dan masih aktif melestarikan kesenian tradisional.
Dari beberapa pilihan yang tersedia, Gong Si Bolong dinilai menjadi salah satu lokasi yang tepat karena memiliki keterkaitan erat dengan budaya Betawi yang berkembang di wilayah Depok.
“Karena kita memang ingin ikut melestarikan budaya yang ada di sekitar kita. Meskipun kami berada di Bojongsari, setelah mencari lokasi yang terdekat, akhirnya memilih Gong Si Bolong. Selain itu ada juga Saung Djiih dan Kinang Putra,” ujarnya disela kegiatan observasi budaya di Sanggar Gong Si Bolong, Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Selasa (09/06/2026).
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk nyata pengenalan budaya lokal kepada pelajar sejak usia dini agar mereka memahami warisan budaya yang tumbuh di lingkungan sekitar.
Generasi Muda Dinilai Mulai Jauh dari Budaya Tradisional
Sri mengaku prihatin melihat kondisi saat ini di mana banyak generasi muda lebih mengenal budaya populer dan kesenian modern dibandingkan budaya tradisional yang berasal dari daerahnya sendiri.
Menurutnya, perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi membuat anak-anak lebih akrab dengan tren global dibandingkan kesenian tradisional yang selama ini menjadi bagian dari identitas bangsa.
“Saat ini anak-anak lebih cenderung menyukai kesenian yang lebih modern. Makanya kami berusaha memperkenalkan kepada mereka bahwa di sekitar kita masih ada kesenian dan budaya yang harus ikut dilestarikan agar tidak punah,” katanya.
Karena itu, sekolah merasa perlu menghadirkan pengalaman langsung agar siswa dapat mengenal budaya tradisional secara lebih dekat dan menarik.
Siswa Diajak Mengenal Alat Musik hingga Palang Pintu
Dalam kegiatan observasi budaya tersebut, para siswa diperkenalkan dengan berbagai bentuk kesenian tradisional yang masih dilestarikan oleh Sanggar Gong Si Bolong.
Mereka tidak hanya menyaksikan pertunjukan seni, tetapi juga diberi kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan alat musik tradisional serta mempelajari nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Selain mengenal alat musik tradisional, siswa juga diajak memahami seni tari serta kesenian khas Betawi seperti palang pintu yang selama ini menjadi bagian penting dalam berbagai tradisi masyarakat Betawi.
Menurut Sri, pengalaman langsung seperti ini memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
“Kalau anak-anak sudah datang, melihat, mencoba, merasakan, dan meresapi, mereka akan sadar bahwa ini adalah budaya yang kita miliki dan harus dilestarikan. Tidak harus menjadi ahli, tetapi setidaknya mereka mengenal dan mengetahui budaya daerahnya,” tuturnya.
Pengalaman Langsung Dinilai Lebih Efektif
Pengenalan budaya melalui metode observasi lapangan dinilai mampu membangun kedekatan emosional siswa dengan kesenian tradisional.
Ketika siswa melihat secara langsung proses latihan, memainkan alat musik, atau menyaksikan pertunjukan budaya, mereka akan lebih mudah memahami makna dan pentingnya pelestarian budaya.
Pendekatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk membangun rasa bangga terhadap budaya daerah yang dimiliki masyarakat Depok dan sekitarnya.
Sekolah berharap pengalaman yang diperoleh siswa selama kegiatan berlangsung dapat menjadi bekal pengetahuan yang terus diingat hingga dewasa.
Antusiasme Siswa Tinggi Selama Kegiatan
Sri mengungkapkan bahwa para siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi selama mengikuti rangkaian kegiatan observasi budaya di Sanggar Gong Si Bolong.
Meski sebagian besar peserta baru pertama kali berinteraksi secara langsung dengan kesenian tradisional Betawi, mereka terlihat menikmati setiap sesi yang diberikan oleh pengelola sanggar.
Mulai dari mengenal alat musik, menyaksikan pertunjukan seni, hingga mencoba beberapa aktivitas budaya, seluruh kegiatan disambut dengan rasa ingin tahu yang besar dari para siswa.
“Alhamdulillah mereka antusias dan senang dengan kegiatan ini. Walaupun banyak yang baru pertama kali mencoba, anak-anak tetap menikmati pengalaman tersebut,” pungkasnya.
Melalui program C Explorer, SMP Al Hasra berharap dapat terus menghadirkan kegiatan edukatif yang memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Langkah tersebut dinilai penting agar warisan budaya seperti yang dilestarikan Sanggar Gong Si Bolong tetap dikenal, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya di tengah arus modernisasi yang terus berkembang.












