BBM Non Subsidi Naik Tajam, Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini

ARY
Deretan mesin pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU. (Foto: Hanindito Prabandaru/Unsplash)

adainfo.id – Harga bahan bakar minyak (BBM) yang naik kembali menjadi sorotan publik setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian tarif untuk produk non subsidi mulai 10 Juni 2026.

Perubahan harga ini langsung berdampak pada dua produk utama, yakni Pertamax dan Pertamax Green, yang mengalami lonjakan cukup signifikan di seluruh jaringan SPBU Indonesia.

Penyesuaian ini menandai fase baru dalam dinamika energi nasional di tengah tekanan harga minyak dunia dan ketidakpastian geopolitik global yang masih berlangsung.

Kenaikan tersebut juga memicu perhatian luas dari masyarakat pengguna kendaraan pribadi maupun pelaku usaha transportasi.

Harga Pertamax Tembus Rp16 Ribuan per Liter

Dalam kebijakan terbaru ini, Pertamina menetapkan harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.

Kenaikan ini setara dengan selisih Rp3.950 per liter dalam satu kali penyesuaian harga.

Sementara itu, Pertamax Green 95 (RON 95) juga mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter, atau naik sebesar Rp4.100 per liter.

Kenaikan ini menjadikan produk BBM non subsidi tersebut berada pada level harga baru yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.

“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun dalam keterangannya dikutip Selasa (09/06/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebijakan harga tidak dilakukan secara sepihak, melainkan mengikuti mekanisme regulasi yang berlaku di sektor energi nasional.

Faktor Global Dorong Penyesuaian Harga BBM

Kenaikan harga BBM non subsidi ini tidak lepas dari kondisi pasar energi global yang masih bergejolak.

Fluktuasi harga minyak mentah dunia, tekanan geopolitik di beberapa kawasan, serta ketidakpastian pasokan energi menjadi faktor utama yang mendorong penyesuaian harga di tingkat domestik.

Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa mekanisme evaluasi harga dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan harga minyak internasional dan biaya pengadaan energi.

Hal ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan distribusi energi sekaligus memastikan kualitas layanan tetap terjaga di seluruh Indonesia.

Meski demikian, perusahaan pelat merah tersebut memastikan bahwa pasokan BBM tetap aman dan tidak mengalami gangguan distribusi di lapangan.

Harga BBM Subsidi Tidak Berubah

Di tengah kenaikan BBM non subsidi, Pertamina memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tetap tidak mengalami perubahan.

Pertalite masih dijual pada harga Rp10.000 per liter, sementara Biosolar tetap berada di angka Rp6.800 per liter.

Kebijakan ini dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah dan Pertamina dalam menjaga daya beli masyarakat, terutama bagi kelompok pengguna kendaraan yang masih bergantung pada BBM subsidi untuk aktivitas sehari-hari.

Pertamina juga mengimbau masyarakat untuk mengakses informasi resmi melalui kanal perusahaan maupun aplikasi MyPertamina guna mendapatkan pembaruan harga secara akurat.

“Dalam komitmen melaksanakan tugas pendistribusian BBM Bersubsidi baik BBM jenis gasoline yaitu Pertalite dan BBM jenis gasoil yaitu Biosolar, Harga jual kedua produk BBM bersubsidi tersebut tetap dilayani dengan harga jual Pertalite Rp10.000/liter dan Biosolar Rp6.800/liter,” demikian pernyataan resmi Pertamina.

Daftar Lengkap Harga BBM Non Subsidi Terbaru

Penyesuaian harga ini turut berdampak pada seluruh produk BBM non subsidi Pertamina yang dipasarkan di SPBU.

Untuk Pertamax Series, Pertamax Turbo (RON 98) tetap berada di harga Rp20.750 per liter tanpa perubahan.

Sementara itu, pada Dex Series, Dexlite (CN 51) tetap di Rp23.000 per liter dan Pertamina Dex (CN 53) stabil di Rp24.800 per liter.

Dengan demikian, hanya produk Pertamax dan Pertamax Green yang mengalami kenaikan pada periode penyesuaian harga kali ini, sedangkan produk lainnya masih bertahan pada level harga sebelumnya.

Dampak Kenaikan BBM terhadap Sektor Konsumsi

Kenaikan harga BBM non subsidi diperkirakan akan memberikan efek lanjutan terhadap biaya operasional transportasi, logistik, hingga sektor konsumsi masyarakat perkotaan.

Meski tidak berdampak langsung pada BBM subsidi, perubahan harga ini tetap menjadi indikator penting bagi pergerakan inflasi energi di Indonesia.

Sejumlah pelaku usaha transportasi dan logistik diperkirakan akan melakukan penyesuaian tarif jika tren harga energi global masih menunjukkan kenaikan dalam beberapa waktu ke depan.

Pemerintah pun diperkirakan akan terus memantau dampak kebijakan ini terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, kebijakan penyesuaian harga ini juga dinilai sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan fiskal dan keberlanjutan industri energi dalam jangka panjang, terutama di tengah ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *