Akses Jalan di Depok Terputus Akibat Banjir, Warga Desak Penanganan Permanen

AZL
Kondisi banjir di jalur penghubung Bulak Barat, Cipayung - Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok, Sabtu (11/04/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Banjir yang tidak kunjung surut di jalur penghubung Bulak Barat, Cipayung – Pasir Putih, Sawangan, Kota Depok, menyebabkan akses utama warga terputus total dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Kondisi ini memaksa warga mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu lebih lama, terutama bagi pekerja yang setiap hari harus berangkat ke luar wilayah tersebut.

Jalan yang terendam air dalam waktu lama juga berdampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari mobilitas hingga distribusi kebutuhan sehari-hari yang ikut terganggu.

Terputusnya akses utama itu pun membuat warga harus memutar sejauh kurang lebih tiga kilometer untuk mencapai tujuan mereka.

Jalur alternatif yang tersedia dinilai tidak efisien karena membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama dibandingkan jalur utama yang kini terendam.

Situasi ini menjadi beban tambahan bagi warga yang memiliki mobilitas tinggi, terutama pekerja dan pelajar yang harus berangkat setiap hari.

Sejumlah warga mengaku kesulitan beradaptasi dengan kondisi tersebut, terlebih karena banjir yang kini menyerupai situ ini tidak menunjukkan tanda-tanda akan surut dalam waktu dekat.

Banjir Bertahan Hingga Lima Bulan

Salah satu warga terdampak, Dijah (45), mengungkapkan bahwa kondisi banjir telah berlangsung cukup lama tanpa adanya penanganan permanen dari pihak terkait.

“Kasian orang kalau mau lewat harus muter dulu ke Tanah Merah, apalagi yang pengen berangkat kerja jadi susah selama ini akses jalannya,” ungkapnya saat ditemui di lokasi, Sabtu (11/04/2026).

Ia menambahkan bahwa banjir yang bertahan hingga sekitar lima bulan membuat kawasan tersebut seolah terisolasi.

Dalam kondisi normal tanpa hujan pun, ketinggian air masih cukup tinggi dan menutup seluruh badan jalan.

“Ini saja lagi nggak hujan air sudah segini, apalagi pas hujan gede. Pernah waktu hujan gede sampai naik ke atas sampai ngerendem rumah yang di atas,” jelasnya.

Lamanya banjir ini menimbulkan kekhawatiran warga terhadap potensi banjir yang lebih besar, terutama saat intensitas hujan meningkat.

David (30), warga lainnya, menilai kondisi ini sangat menghambat mobilitas masyarakat dan membutuhkan solusi segera dari pemerintah.

“Ya kita susah jadi beraktivitas, karena akses jalan sudah nggak bisa digunakan. Apalagi air sudah beberapa bulan begini-begini aja, sudah jadi kayak situ. Jadi kita warga perlu akses jalan baru,” ujar David.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa akses jalan merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat. Ketika jalur utama terganggu, dampaknya langsung dirasakan dalam berbagai sektor kehidupan.

Inisiatif Warga Gunakan Getek

Dalam upaya mengatasi keterbatasan akses, warga setempat berinisiatif membuat getek atau perahu eretan secara mandiri.

Alat sederhana tersebut digunakan sebagai sarana alternatif untuk melintasi genangan air.

Penggunaan getek menjadi solusi sementara yang cukup membantu mobilitas warga, meskipun tidak sepenuhnya efektif.

Warga tetap menghadapi risiko keselamatan serta keterbatasan kapasitas angkut.

Inisiatif ini menunjukkan adanya upaya swadaya masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat, sekaligus menggambarkan urgensi penanganan dari pihak berwenang.

Selain itu, penggunaan getek juga menjadi simbol bagaimana warga harus beradaptasi dengan kondisi yang tidak normal dalam jangka waktu yang cukup lama.

Dugaan Penyebab dan Harapan Penanganan

Banjir yang menyebabkan terputusnya akses jalan tersebut diduga oleh menyempitnya saluran air di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

Kondisi tersebut membuat aliran air tidak berjalan optimal dan menyebabkan genangan bertahan dalam waktu lama.

Hingga saat ini, belum ada langkah penanganan permanen yang dilakukan, sehingga genangan air masih terus menghambat aktivitas warga.

Situasi ini memunculkan harapan warga agar pemerintah segera mengambil tindakan konkret.

Warga berharap adanya perbaikan saluran air serta pembangunan infrastruktur yang mampu mengatasi permasalahan banjir secara menyeluruh.

Selain itu, pembangunan jalur alternatif yang memadai juga dinilai penting untuk mengembalikan mobilitas masyarakat.

Kondisi banjir yang berlangsung lama ini menjadi perhatian serius karena tidak hanya berdampak pada akses jalan, tetapi juga pada kualitas hidup masyarakat di kawasan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *