Alam Jawa Barat Bukan Milik Segelintir Orang, Ini Penegasan Dedi Mulyadi

ARY
Ilustrasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan komitmen menjaga keindahan alam. (Foto: Unsplash/Irfan Maulidi)

adainfo.id – Komitmen menjaga keindahan alam Jawa Barat (Jabar) kembali ditegaskan Gubernur Dedi Mulyadi melalui pernyataan terbuka yang ditujukan kepada masyarakat luas.

Pesan tersebut menekankan bahwa ruang publik dan kekayaan alam di wilayah Jabar merupakan milik bersama yang harus dapat diakses seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi.

Penegasan itu disampaikan Dedi Mulyadi sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah dalam memastikan bahwa setiap sudut keindahan alam tidak hanya menjadi objek kunjungan, tetapi juga ruang kebersamaan yang dirawat secara kolektif.

Melalui akun media sosialnya, Dedi mengajak warga untuk turut menjaga kelestarian serta ketertiban di berbagai destinasi alam dan ruang publik yang telah ditata.

Dalam pernyataannya, Dedi Mulyadi menempatkan keindahan alam sebagai anugerah yang memiliki makna mendalam bagi kehidupan masyarakat.

“Anugerah alam yang indah merupakan keberkahan dalam kehidupan kita,” ucap Dedi dikutip Rabu (11/02/2026).

Ia menggambarkan kekayaan lanskap Jawa Barat sebagai aset yang tidak ternilai dan menjadi identitas daerah.

Panorama alam yang beragam, mulai dari pegunungan hingga pesisir, menurutnya merupakan nilai estetika yang harus dijaga keberlanjutannya.

“Gunung yang tinggi menjulang, hamparan kebun teh seperti permadani yang terhampar, sawah yang luas membentang, laut yang bergemuruh adalah nilai estetika keindahan yang bisa kita nikmati bersama,” paparnya.

Gambaran tersebut menunjukkan betapa luas dan beragamnya potensi alam yang dimiliki Jawa Barat.

Keindahan itu tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.

Dedi menekankan bahwa keindahan tersebut bukan hak eksklusif kelompok tertentu.

Pemerintah, menurutnya, berkewajiban memastikan akses yang adil bagi semua warga.

Akses Tanpa Diskriminasi

Dedi juga menegaskan prinsip kesetaraan dalam menikmati ruang publik dan destinasi alam.

“Untuk itu, seluruh keindahan itu harus bisa dinikmati tanpa harus membedakan kaya, miskin, punya uang atau tidak punya uang, sehingga pemerintah Provinsi Jawa Barat berusaha untuk menghadirkan keindahan itu dan dinikmati oleh bersama,” ungkapnya.

Pernyataan ini menjadi penekanan bahwa keindahan alam Jawa Barat harus terbuka bagi siapa saja.

Tidak boleh ada praktik yang membuat akses menjadi terbatas atau memberatkan masyarakat, terutama kelompok ekonomi lemah.

Kebijakan penataan ruang publik dan destinasi wisata diarahkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat berupaya menghadirkan fasilitas yang representatif tanpa menghilangkan prinsip inklusivitas.

Peringatan terhadap Pungutan Liar

Seiring meningkatnya kunjungan masyarakat ke berbagai lokasi wisata dan ruang publik, Dedi juga mengingatkan potensi munculnya praktik pungutan liar (Pungli).

Ia secara tegas meminta masyarakat untuk tidak melayani oknum yang memanfaatkan situasi tersebut.

“Dengan satu pesan, jangan setelah indah, banyak orang, muncullah tukang parkir yang tiba-tiba mengutip pungutan, jangan dilayani dan jangan diberi,” bebernya.

Pernyataan itu menjadi peringatan keras terhadap praktik parkir liar yang kerap muncul di lokasi yang baru ditata atau sedang populer.

Jika dibiarkan, hal tersebut dapat mencederai semangat kebersamaan serta merusak citra ruang publik yang telah dibangun.

Partisipasi masyarakat sangat penting dalam mencegah praktik pungli.

Tanpa dukungan warga, upaya pemerintah menjaga ketertiban akan menghadapi tantangan yang lebih besar.

Sorotan terhadap Pedagang dan Kebersihan

Selain pungutan liar, Dedi juga menyoroti fenomena pedagang kaki lima yang tidak tertib dan berpotensi meninggalkan persoalan kebersihan.

“Atau banyak berkerumunnya para pedagang kaki lima, meninggalkan sampah berserakan dimana-mana,” ucapnya.

Keberadaan pedagang sebenarnya dapat menjadi bagian dari dinamika ekonomi lokal.

Namun tanpa pengelolaan yang baik, kondisi tersebut bisa berdampak negatif terhadap lingkungan.

Masyarakat diingatkan bahwa kebersihan adalah elemen penting dalam menjaga keindahan ruang publik.

Destinasi yang awalnya tertata rapi dapat dengan cepat kehilangan daya tarik apabila sampah dibiarkan menumpuk dan tidak terurus.

Fenomena ini, menurutnya, sering terjadi di sejumlah lokasi yang sempat viral atau ramai dikunjungi.

“Seringkali spot seperti itu muncul sesaat, kemudian hilang dan ditinggalkan seperti bangkai yang tak orang mempedulikan,” terangnya.

Ungkapan tersebut mencerminkan kekhawatiran bahwa tanpa kesadaran kolektif, sebuah ruang publik hanya akan menjadi tren sesaat sebelum akhirnya terbengkalai.

Keberlanjutan dan Tanggung Jawab Bersama

Dedi menegaskan bahwa setiap fasilitas dan ruang yang telah dihadirkan pemerintah harus dijaga keberlanjutannya.

Penataan yang sudah dilakukan memerlukan perawatan dan kepedulian bersama agar manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek.

“Untuk itu apa yang dihadirkan, dirawat dan dijaga, bukan untuk sekelompok orang, tapi untuk semua orang,” tandasnya.

Pernyataan tersebut memperkuat pesan bahwa ruang publik adalah simbol kebersamaan.

Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga kualitas dan ketertiban, sehingga peran masyarakat menjadi faktor penentu.

Kesadaran kolektif menjadi fondasi agar keindahan alam Jawa Barat tetap lestari.

Tanpa kedisiplinan dan partisipasi warga, upaya penataan yang telah dilakukan berisiko tidak bertahan lama.

Ajakan Menjaga Warisan untuk Generasi Mendatang

Pesan Dedi Mulyadi juga mengandung dimensi jangka panjang.

Keindahan alam bukan hanya untuk dinikmati saat ini, tetapi juga untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan menjaga kebersihan, menolak pungutan liar, serta memastikan ruang publik tetap tertib, masyarakat turut berkontribusi dalam menjaga kualitas lingkungan hidup.

Upaya ini tidak hanya berdampak pada estetika, tetapi juga pada kenyamanan dan keberlanjutan sosial.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa komitmen menjaga alam adalah bagian dari visi pembangunan yang berkelanjutan. Keindahan yang ada hari ini harus tetap dapat dirasakan esok hari.

Melalui pesan yang disampaikan secara terbuka, Dedi Mulyadi berharap seluruh warga Jawa Barat memiliki kesadaran yang sama bahwa alam adalah milik bersama.

Keindahan yang telah dianugerahkan tidak hanya untuk dipandang, tetapi juga untuk dirawat dan dijaga dengan penuh tanggung jawab.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *