Ambisi Trump Kuasai Greenland Dinilai Berbahaya bagi Tatanan Global
adainfo.id – Amerika Serikat kembali memicu ketegangan geopolitik global setelah Presiden Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginan untuk merebut Greenland dengan cara apa pun, dengan dalih kepentingan keamanan nasional dan meningkatnya aktivitas Rusia serta China di kawasan Arktik.
Trump menegaskan bahwa penguasaan Greenland yang saat ini berada di bawah kedaulatan Denmark akan memberikan dampak besar terhadap sistem pertahanan Amerika Serikat.
Ia bahkan memperingatkan bahwa jika Washington tidak segera bertindak, Rusia dan China berpotensi lebih dulu mengambil alih wilayah tersebut.
Pernyataan kontroversial itu langsung menuai perhatian dan kekhawatiran komunitas internasional.
Mengingat Greenland memiliki posisi geografis strategis sekaligus menyimpan sumber daya alam bernilai tinggi.
Pakar Hubungan Internasional: Pernyataan Trump Perlu Disikapi Serius
Guru Besar Departemen Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, menilai pernyataan Trump bukan hal sepele, meskipun secara kebijakan sulit direalisasikan.
“Meskipun Greenland secara geografis memiliki wilayah yang strategis dan menjadikan ia penting bagi sistem pertahanan AS, jalur pelayaran masa depan, dan akses ke mineral kritis, namun kehendak dalam ‘merebut’ wilayah ini bukanlah suatu hal yang realistis,” paparnya dikutip dari laman resmi UGM, Selasa (20/01/2026).
Menurut Nur, wacana tersebut mencerminkan gaya khas Trump yang provokatif, langsung, dan sarat kejutan, namun tetap mengandung kalkulasi geopolitik.
“Saya kira, akan lebih tepat membaca keinginan Trump sebagai bargaining tactic dan signal politics, dengan tiga target audiens,” bebernya.
Nur menjelaskan, di hadapan publik domestik Amerika Serikat, Trump ingin menampilkan citra sebagai pemimpin tegas yang siap “mengamankan aset” strategis demi kepentingan nasional.
Sementara kepada sekutu, khususnya Denmark, pernyataan tersebut menjadi bentuk tekanan agar lebih sejalan dengan agenda keamanan Amerika Serikat di kawasan Arktik.
Adapun kepada komunitas global, terutama Rusia dan Tiongkok, Trump hendak mengirim pesan bahwa Amerika Serikat tetap berambisi mempertahankan dan memperluas hegemoninya.
Narsisme Politik dan Ekspansionisme Transaksional
Lebih jauh, Nur menilai sikap Trump juga tidak bisa dilepaskan dari karakter personalnya sebagai pemimpin dengan kecenderungan narsisme politik yang kuat.
Ia menyebut Trump kerap mempersonalisasi geopolitik, memperlakukan wilayah layaknya properti, serta melihat hubungan internasional sebagai transaksi bisnis.
“Trump menjadikan Greenland sebagai ‘panggung,’ kehendaknya merebut wilayah ini terbukti efektif menciptakan kegaduhan, menguji reaksi, dan menggeser batas-batas wacana diplomatik,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, Greenland diposisikan sebagai simbol “major deal” untuk menunjukkan siapa pihak yang dominan dan siapa yang harus menyesuaikan diri.
Namun, Nur mengingatkan bahwa jika keinginan Trump benar-benar diwujudkan, dampaknya akan sangat serius terhadap tatanan global.
“Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap kedaulatan negara dan penentuan nasib sendiri,” jelasnya.
Ia menilai langkah tersebut berpotensi merusak legitimasi tatanan internasional berbasis aturan, mengguncang hubungan trans-Atlantik, memicu reaksi keras Uni Eropa, serta melemahkan NATO secara politik.
“Jika hal ini terjadi akan menunjukkan semakin tersisihnya norma dan hukum internasional sehingga digantikan oleh kekuatan material dan pemaksaan kehendak. Penanda bagi pergeseran tatanan internasional menjadi lebih kasar, transaksional, dan penuh dengan risiko,” tutupnya.











