Anak Muda Diajak Terlibat Politik, Qonita Soroti Pentingnya Regenerasi

ACS
Anggota DPRD Depok Qonita Lutfiyah saat sosialisasi Komisi A bersama generasi muda, Jumat (27/02/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Pentingnya keterlibatan generasi muda dalam dunia politik kembali ditegaskan Anggota DPRD Kota Depok, Qonita Lutfiyah, saat menggelar Sosialisasi Tugas dan Wewenang Komisi A DPRD Kota Depok Tahun Sidang 2026, Jumat (27/02/2026).

Sosialisasi ini tidak hanya menjadi forum penyampaian informasi mengenai fungsi kelembagaan DPRD, tetapi juga ruang dialog antara wakil rakyat dan masyarakat, khususnya kalangan generasi muda.

Dalam paparannya, Qonita menjelaskan bahwa sosialisasi komisi merupakan kewajiban anggota dewan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai tugas, fungsi, serta kewenangan DPRD, terutama Komisi A yang membidangi pemerintahan dan hukum.

“Kegiatan sosialisasi komisi ini sesuai dengan jadwal yang sudah diputuskan oleh Bamus. Kami memang harus terus menyampaikan kepada masyarakat apa saja tugas dan fungsi anggota DPRD, agar publik memahami peran dan tanggung jawab kami,” ujarnya.

Sebagai bagian dari lembaga legislatif daerah, DPRD memiliki fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan.

Melalui kegiatan ini, Qonita menilai pentingnya keterbukaan informasi agar masyarakat tidak hanya menjadi objek kebijakan.

Akan tetapi juga subjek yang aktif mengawal proses demokrasi di tingkat daerah.

Mayoritas Peserta Kalangan Anak Muda

Menariknya, mayoritas peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut berasal dari kalangan anak muda.

Qonita mengaku secara sengaja melibatkan generasi muda agar mereka tidak buta politik dan memiliki kepekaan terhadap dinamika kebijakan publik.

“Saya memang ingin anak-anak muda tidak buta politik. Mereka harus memiliki kepekaan terhadap isu-isu politik dan kebijakan, karena keputusan politik itu sangat memengaruhi kehidupan mereka ke depan,” katanya.

Ia menilai, keputusan politik yang dihasilkan hari ini akan berdampak jangka panjang terhadap masa depan generasi muda, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, maupun kesempatan kerja.

Karena itu, kesadaran politik sejak dini menjadi bekal penting bagi mereka untuk ikut menentukan arah pembangunan.

Regenerasi Kepemimpinan dalam Demokrasi

Qonita menekankan bahwa regenerasi kepemimpinan merupakan hal mutlak dalam sistem demokrasi.

Tanpa regenerasi, estafet kepemimpinan akan terhenti dan berpotensi menciptakan stagnasi dalam pengambilan kebijakan.

“Regenerasi itu harus ada. Pemimpin yang baik adalah yang mampu memunculkan generasi berikutnya, bukan berhenti pada dirinya saja. Karena itu saya mengajak anak-anak muda untuk termotivasi terlibat dalam politik, baik sebagai pelaku langsung maupun sebagai pendukung yang aktif dan kritis,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan politik tidak selalu berarti harus menjadi calon legislatif atau pejabat publik.

Partisipasi aktif sebagai pemilih yang kritis, pengawas kebijakan, hingga kontributor gagasan di ruang publik juga merupakan bentuk kontribusi nyata dalam demokrasi.

Ia menilai, anak muda memiliki energi dan perspektif segar yang dibutuhkan dalam proses perumusan kebijakan publik.

Tanpa keterlibatan mereka, kebijakan berisiko tidak adaptif terhadap perkembangan zaman.

Minat Tinggi, Saluran Masih Terbatas

Dalam diskusi bersama peserta, Qonita mengungkapkan bahwa minat anak muda terhadap politik sebenarnya cukup besar.

Namun, banyak dari mereka yang masih kebingungan dalam menyalurkan aspirasi dan gagasan secara efektif.

“Dari diskusi saya dengan anak-anak muda, sebenarnya bukan karena mereka tidak punya keinginan. Justru ide dan pemikiran mereka sangat baik. Hanya saja, terkadang mereka bingung harus menyalurkannya lewat apa dan bagaimana caranya,” ungkapnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara semangat partisipasi dan akses terhadap ruang politik formal.

Oleh sebab itu, pendidikan politik dan forum dialog dinilai menjadi jembatan penting untuk mempertemukan gagasan generasi muda dengan proses pengambilan kebijakan.

Qonita menambahkan bahwa perubahan dalam sistem tidak bisa dilakukan dari luar semata, tetapi membutuhkan keterlibatan langsung di dalamnya.

“Kalau kita ingin mengubah sistem, maka kita harus masuk ke dalam sistem itu sendiri. Dan masuk ke dalam sistem tidak bisa dilepaskan dari politik,” tegasnya.

Pendidikan Politik Berkelanjutan

Ke depan, Qonita memastikan bahwa pendekatan kepada generasi muda tidak berhenti pada satu kegiatan sosialisasi saja.

Ia berkomitmen untuk terus melakukan pendidikan politik secara berkelanjutan melalui berbagai kegiatan diskusi dan forum interaktif.

“Selain sosialisasi komisi seperti hari ini, saya juga rutin mengadakan pendidikan politik untuk anak-anak muda. Kami melakukan pendekatan persuasif, mengajak diskusi, dan merangkul mereka. Intinya, anak muda itu punya semangat besar, hanya saja mereka butuh ruang dan arahan. Kita harus membuat mereka merasa bahwa keberadaan mereka dibutuhkan dalam proses pembangunan,” pungkasnya.

Ia menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak dapat dilepaskan dari partisipasi aktif masyarakat, termasuk generasi muda.

Dengan membuka ruang dialog yang inklusif, DPRD diharapkan mampu menjadi mitra strategis dalam menumbuhkan kesadaran politik yang sehat dan konstruktif.

Melalui sosialisasi Komisi A DPRD Depok Tahun Sidang 2026 ini, isu anak muda melek politik Depok menjadi sorotan utama.

Keterlibatan generasi muda dalam proses demokrasi daerah dinilai sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan di masa mendatang.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *