Ancaman Gempa di Pulau Jawa Ternyata Lebih Besar, Banyak Sesar Aktif Masih Misterius

ARY
Retakan jalan imbas gempa bumi. (Foto: Thx4Stock)

adainfo.id – Ancaman gempa bumi di Pulau Jawa ternyata masih menyimpan banyak tanda tanya. Di balik tingginya aktivitas penduduk dan pesatnya pembangunan infrastruktur, para peneliti mengingatkan bahwa masih banyak sesar aktif yang belum dipahami secara menyeluruh.

Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan besar dalam upaya memperkuat mitigasi bencana dan mengurangi risiko kerusakan akibat gempa bumi di masa mendatang.

Peringatan itu disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Danny Hilman Natawidjaja.

Menurutnya, pemahaman terhadap sumber-sumber gempa di Pulau Jawa masih terus berkembang dan menyimpan berbagai ketidakpastian yang perlu diteliti lebih lanjut.

Ketidaklengkapan informasi mengenai karakteristik sesar aktif berpotensi memengaruhi tingkat akurasi dalam penilaian bahaya dan risiko gempa bumi, terutama di wilayah yang selama ini dianggap relatif aman dari ancaman kegempaan.

Banyak Sesar Aktif di Jawa Belum Terpetakan Secara Lengkap

Danny menjelaskan bahwa sistem sumber gempa di Pulau Jawa sangat kompleks.

Selama ini perhatian publik lebih banyak tertuju pada ancaman megathrust atau zona subduksi di selatan Pulau Jawa.

Padahal, terdapat banyak sesar aktif di daratan yang juga memiliki potensi memicu gempa merusak.

Menurutnya, sejumlah sesar memang telah teridentifikasi, tetapi berbagai karakteristik pentingnya masih belum diketahui secara pasti.

“Pengetahuan kita mengenai sesar aktif di Jawa masih menyimpan banyak ketidakpastian. Ada sejumlah sesar yang sudah diketahui, tetapi karakteristik pentingnya seperti laju pergeseran, segmentasi, hingga magnitudo maksimum masih belum sepenuhnya dipahami,” ungkapnya dikutip, Selasa (09/06/2026).

Kondisi tersebut membuat para peneliti terus melakukan kajian untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai potensi ancaman gempa di berbagai wilayah Pulau Jawa.

Java Back-Arc Thrust Jadi Perhatian Peneliti

Salah satu struktur geologi yang menjadi fokus perhatian adalah Java Back-Arc Thrust, yaitu sesar naik besar yang membentang dari wilayah Jakarta hingga Surabaya.

Keberadaan struktur geologi tersebut dinilai memiliki kontribusi signifikan terhadap tingkat bahaya gempa di kawasan utara Pulau Jawa.

Selama ini wilayah utara Jawa kerap dianggap lebih aman dibandingkan wilayah selatan yang berhadapan langsung dengan zona subduksi Samudra Hindia.

Namun temuan ilmiah menunjukkan bahwa ancaman gempa juga dapat berasal dari sesar aktif yang berada di daratan.

Karena itu, para ahli menilai penting untuk terus memperbarui informasi terkait sumber-sumber gempa agar masyarakat dan pemerintah memiliki gambaran risiko yang lebih akurat.

Peta Bahaya Gempa Terus Diperbarui

Danny menegaskan bahwa peta bahaya gempa yang digunakan saat ini bukanlah dokumen yang bersifat permanen.

Peta tersebut merupakan hasil interpretasi dari berbagai data geologi dan aktivitas kegempaan yang terus berkembang seiring bertambahnya penelitian.

Setiap temuan baru berpotensi mengubah pemahaman mengenai sumber gempa dan tingkat ancaman di suatu wilayah.

Salah satu contoh terbaru adalah hasil penelitian BRIN di kawasan sekitar Gunung Ciremai yang menemukan informasi baru mengenai keberadaan sesar aktif serta perubahan segmentasi pada sejumlah struktur patahan yang telah diketahui sebelumnya.

Temuan tersebut dinilai dapat memengaruhi estimasi tingkat bahaya gempa, khususnya pada skala lokal.

“Setiap bukti geologi baru dapat mengubah pemahaman kita mengenai sumber gempa. Dampaknya mungkin tidak terlalu besar pada skala regional, tetapi dapat signifikan bagi penilaian bahaya di tingkat lokal,” bebernya.

Ancaman Gempa Bukan Hanya Guncangan

Selain guncangan tanah, Danny mengingatkan bahwa sesar aktif juga dapat memicu berbagai dampak lanjutan yang tidak kalah berbahaya.

Bahaya turunan tersebut meliputi rekahan permukaan tanah, longsor, likuefaksi, hingga tsunami lokal yang dapat menyebabkan kerusakan luas.

Menurutnya, salah satu aspek yang masih kurang mendapat perhatian dalam pembangunan adalah ancaman rekahan permukaan akibat pergeseran sesar aktif.

Fenomena tersebut dapat merusak berbagai infrastruktur penting apabila dibangun tepat di atas jalur sesar.

Jalan tol, jalur kereta api, bendungan, jaringan pipa energi, hingga fasilitas publik lainnya berpotensi mengalami kerusakan serius akibat pergerakan tanah secara langsung.

“Bangunan dapat dirancang agar lebih tahan terhadap guncangan gempa, tetapi sangat sulit merancang struktur yang mampu bertahan terhadap pergeseran permukaan tanah hingga beberapa meter akibat pergerakan sesar,” ucapnya.

Indonesia Dinilai Perlu Mencontoh Negara Maju

Danny menyebut sejumlah negara seperti Jepang, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan Taiwan telah menerapkan kebijakan pembatasan pembangunan pada zona sesar aktif.

Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan infrastruktur dan korban jiwa ketika terjadi gempa.

Sementara itu, Indonesia masih menghadapi tantangan dalam menerapkan kebijakan serupa karena keterbatasan data rinci mengenai lokasi dan karakteristik sesar aktif.

Oleh karena itu, penguatan riset geologi dan kebencanaan dinilai menjadi langkah penting yang harus terus didorong.

Data Bahaya Jadi Fondasi Mitigasi Bencana

Menurut Danny, upaya mitigasi bencana tidak hanya bergantung pada data jumlah penduduk atau tingkat kerentanan suatu wilayah.

Informasi mengenai sumber bahaya juga memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan tingkat risiko yang sebenarnya.

Ia menjelaskan bahwa risiko bencana merupakan kombinasi antara tingkat bahaya, paparan, dan kerentanan.

Apabila data mengenai sumber bahaya masih memiliki ketidakpastian tinggi, maka hasil penilaian risiko juga tidak akan optimal.

“Risiko merupakan fungsi dari bahaya, paparan, dan kerentanan. Karena itu, peningkatan kualitas data bahaya, termasuk pemetaan sesar aktif dan pemahaman siklus gempa serta tsunami, menjadi fondasi penting untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih akurat,” terangnya.

Melalui berbagai penelitian kebumian yang terus dilakukan, BRIN berupaya memperkuat pemahaman mengenai sesar aktif di Pulau Jawa dan sumber-sumber gempa lainnya di Indonesia.

Hasil penelitian tersebut diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan mitigasi bencana yang lebih efektif.

Sekaligus juga mendukung pembangunan infrastruktur yang lebih aman dan meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi ancaman gempa bumi di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *