Ancaman Nyata di Laut Indonesia, Banyak Satwa Langka Terancam Punah
adainfo.id – Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, terutama dari sektor kelautan yang menyimpan beragam potensi hayati.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, wilayah perairan Indonesia menyimpan keragaman spesies yang menjadikannya salah satu pusat keanekaragaman hayati global.
Namun di balik potensi tersebut, eksplorasi ilmiah terhadap ekosistem laut Indonesia masih tergolong minim.
Dekan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Budi Setiadi Daryono menilai potensi laut Indonesia yang sangat besar belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal.
Ia menyoroti bahwa hingga kini sebagian besar wilayah laut Indonesia bahkan belum diteliti secara menyeluruh.
Indonesia sendiri dikenal juga sebagai salah satu negara megabiodiversity di dunia.
Memiliki kekayaan keanekaragaman hayati menempatkan Indonesia berada di urutan ke-2 atau ke-3 terbesar di dunia.
Dengan dua per tiga wilayah berbentuk perairan, keanekaragaman hayati tersebut sebagain besar berada di wilayah maritim.
Namun belum sepenuhnya dieksplorasi secara maksimal.
Bahkan beberapa satwa laut berisiko terancam punah akibat perburuan dan penurunan populasi.
Pemerintah pun melindungi beberapa satwa yang langka tersebut, seperti enam jenis penyu, duyung (dugong), hiu paus, pari manta, pari gergaji, lumba-lumba, kima, dan ikan napoleon.
Kekayaan Hayati Laut Indonesia
Potensi biodiversitas laut Indonesia sangat luas dan mencakup berbagai jenis organisme yang hidup di ekosistem laut tropis.
Perairan Indonesia menjadi habitat penting bagi berbagai spesies laut yang memiliki nilai ekologis maupun ekonomi tinggi.
Dunia satwa pun tidak hanya terbatas pada ekosistem daratan. Kehidupan satwa liar di laut juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.
Selain itu, dunia satwa bukan hanya terbatas pada ekosistem terestrial namun dalam ekosistem satwa yang hidup di perairan laut.
Eksistensi satwa liar di wilayah maritim Indonesia tidak dapat dipisahkan dari kerentanan pulau-pulau kecil yang menjadi hunian mereka.
Pulau-pulau kecil yang tersebar di seluruh Nusantara menjadi rumah bagi berbagai spesies laut yang unik.
Namun kawasan tersebut juga menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia, perubahan iklim, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali.
Dalam kondisi tersebut, keberadaan penelitian ilmiah menjadi sangat penting untuk memetakan potensi laut sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem.
Pentingnya Menghidupkan Kembali Budaya Bahari
Selain menyoroti potensi sumber daya laut, Budi juga menekankan pentingnya membangun kembali budaya bahari di tengah masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
Ia menilai bahwa pemahaman tentang laut sebagai bagian penting kehidupan bangsa mulai berkurang, terutama akibat perubahan pola pendidikan dan gaya hidup masyarakat modern.
Mengembalikan budaya bahari pada kehidupan sehari-hari generasi muda sama pentingnya dengan memberdayakan masyarakat pesisir.
“Pola pikir dalam melihat pembangunan sudah saatnya digeser dari yang berlandaskan target pendapatan per kapita, menjadi pemberdayaan bagi semua pihak dengan tetap mempertahankan kekayaan dan keanekaragaman alam,” tuturnya dikutip Jumat (06/03/2026).
Selama beberapa dekade terakhir, sentralisasi pendidikan di kota-kota besar turut menyebabkan jarak antara generasi muda dengan lingkungan laut semakin melebar.
Padahal bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, laut memiliki peran strategis dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari sumber pangan hingga jalur perdagangan.
Sementara budaya maritim telah banyak terdegradasi oleh sentralisasi pendidikan di pusat kota daerah.
Fakta bahwa lautan sebagai penghasil sumber makanan, hilir dari rantai ekonomi.
Sekaligus masa depan negeri, belum banyak terlintas karena sumber daya laut telah lebih mudah diakses di tengah kota, yang jauh dari daerah pesisir.
Konsumsi Ikan dan Pengetahuan Generasi Muda
Di sisi lain, rendahnya konsumsi ikan di beberapa kelompok masyarakat juga menjadi perhatian tersendiri.
Padahal Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya perikanan yang sangat melimpah.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan antara ketersediaan sumber daya laut dengan pemanfaatannya oleh masyarakat.
Terlebih, beberapa lapisan masyarakat cenderung memiliki tingkat konsumsi ikan yang rendah.
Menurut Budi, edukasi tentang sumber daya laut perlu dikembalikan ke lingkungan pendidikan sejak dini.
Dengan begitu, generasi muda dapat memahami nilai penting kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.
Pengetahuan inilah yang harus dikembalikan ke bangku pendidikan, beserta pengalaman yang dibawa ke meja makan.
Ia menilai bahwa kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas sistem pendidikan yang dimilikinya.
“Sebuah bangsa akan berhasil jika sistem pendidikannya maju. Mau itu levelnya keluarga, daerah, sampai negara. Bangsa yang maju, pasti bangsa yang menitikberatkan prioritasnya ke pendidikan, sehingga sains dan alam dapat beriringan. Generasi tidak asing dengan hasil-hasil alam, dan tidak gagap dengan teknologi yang berkembang,” paparnya.
Peran Riset dalam Mengungkap Potensi Laut
Selain pendidikan, Budi juga menyoroti pentingnya dukungan anggaran riset dalam pengembangan sektor kelautan Indonesia.
Menurutnya, penelitian ilmiah memiliki peran penting dalam menghasilkan data yang dapat digunakan untuk memahami potensi laut secara lebih komprehensif.
Selanjutnya, Budi turut menyoroti betapa krusialnya peran anggaran riset guna menghasilkan data yang dapat dimanfaatkan untuk mengenali potensi laut suatu wilayah.
Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini wilayah laut Indonesia yang telah dieksplorasi secara ilmiah masih sangat kecil.
“Data maritim ini sangat berharga. Laut Indonesia yang dieksplorasi juga belum ada 15%. Tetapi, riset itu tidak menarik kalau hanya data. Yang menarik, ketika dari data kita tahu potensi, dan potensi itu bisa dipetakan secara mandiri oleh masyarakat, kemudian dikembangkan. Itulah yang akan jadi salah satu solusi,” tukasnya.
Keterbatasan data mengenai potensi laut sering kali menyebabkan eksploitasi sumber daya dilakukan oleh pihak eksternal tanpa memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal.
Ekstraksi sumber daya kerap dilakukan oleh pihak-pihak eksternal yang mengancam sumber pangan penduduk lokal.
Karena itu, akses terhadap data dan pengetahuan maritim perlu diberikan kepada masyarakat pesisir agar mereka dapat memahami potensi wilayahnya sendiri.
Dengan pemetaan yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, potensi laut dapat dikembangkan secara berkelanjutan sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi daerah.
Upaya tersebut juga dapat menjadi langkah strategis dalam menjaga ketahanan pangan nasional serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim besar di dunia.









