Belasan Makam di Depok Terdampak Longsor, Ziarah Lebaran Berubah Jadi Aksi Gotong Royong

AZL
Warga bersama petugas dari DPUPR melakukan penanganan longsor yang menimpa belasan makam di TPU Muara Benda, Kota Depok, Selasa (24/03/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Suasana khidmat ziarah Idulfitri di TPU Muara Benda, Kota Depok mendadak berubah menjadi momen darurat setelah longsor terjadi sehari usai Lebaran 2026.

Di tengah arus peziarah yang datang silih berganti untuk mendoakan keluarga, sebagian area pemakaman justru ambrol akibat curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut.

Lokasi pemakaman yang berada di RW 09 Kampung Mampangan, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji tersebut selama ini dikenal sebagai tempat pemakaman swadaya warga yang selalu ramai saat momen Lebaran.

Namun tahun ini, nuansa haru bercampur kepanikan ketika tanah di sekitar tebing tpu longsor dan merusak sejumlah makam.

Peristiwa tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas ziarah, tetapi juga memicu respons cepat warga yang langsung beralih dari peziarah menjadi relawan dadakan.

Mereka bahu membahu menyelamatkan makam keluarga dan tetangga yang terdampak longsor.

16 Makam Terdampak, Warga Relokasi Secara Mandiri

Ketua RW 09, Andri, menjelaskan bahwa longsor berdampak pada sedikitnya 16 makam yang berada di area rawan dekat tebing tpu.

Kondisi tanah yang labil akibat hujan deras menjadi faktor utama ambrolnya sebagian area pemakaman.

“Untuk awal kejadian, Alhamdulillah para warga langsung turun tangan buat evakuasi makam yang terdampak longsor. Karena saat kejadian masih dalam rangka hari raya, dinas terkait masih libur Lebaran. Jadi warga gotong royong, meski ada kesibukan di rumah masing-masing,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Selasa (24/03/2026).

Dengan luas lahan sekitar 300 meter, TPU ini mayoritas digunakan oleh warga Kampung Mampangan dan sekitarnya.

Sebelumnya, pengurus telah melakukan penataan dengan menambahkan taman kecil dan fasilitas duduk untuk meningkatkan kenyamanan peziarah.

Namun, longsor yang terjadi memaksa perubahan besar. Makam-makam yang berada di bibir tebing harus segera dipindahkan ke lokasi yang lebih aman demi menghindari risiko longsor susulan.

“Masyarakat yang makam keluarganya terdampak longsor menerima pemindahan makam ke posisi yang lebih aman. Jadi makam yang dekat dengan bibir tebing kita pindahkan ke bagian atas agar lebih aman,” katanya.

Relokasi dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan melibatkan persetujuan keluarga.

Warga menunjukkan sikap terbuka dan memahami bahwa langkah tersebut merupakan solusi terbaik dalam kondisi darurat.

Peran Warga dan Pemerintah Tangani Dampak Longsor

Di tengah keterbatasan karena masih dalam suasana libur Lebaran, warga menjadi garda terdepan dalam penanganan awal.

Mereka membersihkan material longsoran, memperbaiki area makam, serta memastikan proses pemindahan berjalan lancar.

Setelah evakuasi awal dilakukan, bantuan datang dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok yang langsung turun ke lokasi untuk membantu pembenahan.

Kehadiran petugas mempercepat proses normalisasi area pemakaman yang terdampak.

“Ini untungnya dari Dinas PUPR, langsung sigap untuk terjun ke lokasi buat pembenahan material longsor di TPU. Padahal ini mereka masih dalam cuti lebaran, tapi karena hati nurani mereka sendiri buat ngebantu warga disini, jadi mereka koordinasi dan terjun ke lokasi buat bantu warga berbenah material longsor,” jelasnya.

Sinergi antara warga dan pemerintah menjadi kunci utama dalam mengatasi dampak longsor.

Proses pembersihan dan penataan ulang dilakukan secara bertahap agar area pemakaman dapat kembali digunakan dengan aman.

Kondisi ini juga menunjukkan kuatnya solidaritas masyarakat yang tetap terjaga bahkan di tengah situasi darurat.

Tradisi ziarah yang biasanya berlangsung dalam suasana tenang berubah menjadi simbol kebersamaan dan kepedulian sosial.

Ancaman Longsor dan Harapan Pembangunan Turap

Peristiwa longsor di TPU Muara Benda membuka perhatian terhadap pentingnya mitigasi bencana di area pemakaman yang berada di dekat tebing atau kontur tanah labil.

Warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah kejadian serupa terulang.

Salah satu solusi yang diharapkan adalah pembangunan turap atau penahan tanah di sekitar tebing.

Infrastruktur ini dinilai krusial untuk menjaga kestabilan tanah, terutama saat musim hujan dengan curah tinggi.

Selain itu, perawatan berkala dan pengawasan terhadap kondisi tanah juga menjadi hal yang dianggap penting untuk menjaga keamanan area pemakaman.

Dengan langkah preventif yang tepat, risiko longsor dapat diminimalisir. Di sisi lain, warga tetap melanjutkan aktivitas ziarah di TPU tersebut meski dalam suasana yang berbeda.

Mereka datang tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga turut membantu proses pemulihan area pemakaman.

Peristiwa ini menjadi gambaran nyata bagaimana tradisi Lebaran tidak hanya soal silaturahmi dan ziarah, tetapi juga tentang solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.

Di tengah ancaman longsor, masyarakat tetap menunjukkan keteguhan dan kebersamaan dalam menjaga tempat peristirahatan terakhir orang-orang tercinta.

Dengan pembenahan yang terus dilakukan dan harapan akan dukungan infrastruktur dari pemerintah, TPU Muara Benda diharapkan dapat kembali menjadi tempat ziarah yang aman, nyaman, dan layak bagi masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *