BRIN Perkuat Ekosistem Riset Lewat Kolaborasi Ilmiah Indonesia-Jepang

AZL
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria saat menghadiri kegiatan Temu Alumni Universitas Kagoshima, sekaligus peluncuran Asosiasi Alumni Universitas Kagoshima Chapter Indonesia, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta. (Foto: BRIN)

adainfo.id – Upaya memperkuat fondasi riset dan inovasi nasional terus digencarkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui penguatan jejaring ilmiah lintas negara.

Salah satu langkah strategis tersebut diwujudkan dengan menggandeng para pakar dari Japan Society for the Promotion of Science (JSPS), JSPS Alumni Association of Indonesia (JAAI), serta Perhimpunan Periset Indonesia (PPI).

Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkokoh ekosistem riset nasional sekaligus mempercepat transformasi hasil penelitian menjadi inovasi yang memiliki nilai tambah ekonomi dan sosial.

Penguatan kemitraan tersebut ditegaskan dalam kegiatan “The General Assembly Meeting and the 9th International Symposium of JAAI” yang digelar di Jakarta.

Forum ini menjadi ruang temu ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu, akademisi, dan peneliti lintas negara untuk membangun jejaring kolaborasi jangka panjang.

Pertemuan tersebut juga menegaskan pentingnya diplomasi sains sebagai instrumen strategis dalam pembangunan nasional berbasis pengetahuan.

Simposium internasional yang diinisiasi JAAI ini mempertemukan para alumni program riset Jepang dengan peneliti aktif dari Indonesia dan negara lain.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang berbagi temuan ilmiah, tetapi juga sarana konsolidasi gagasan terkait masa depan riset kolaboratif di tengah tantangan global, mulai dari perubahan iklim, transformasi digital, hingga ketahanan pangan dan energi.

Dalam konteks tersebut, BRIN memandang forum ilmiah lintas negara sebagai medium penting untuk menyelaraskan agenda riset nasional dengan perkembangan ilmu pengetahuan global.

Keterhubungan antarpeneliti diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih konkret, baik dalam bentuk riset bersama, pertukaran peneliti, maupun pengembangan teknologi terapan.

BRIN Tekankan Pentingnya Kemitraan Setara

Kepala BRIN Arif Satria menilai hubungan ilmiah antarnegara perlu terus dirawat melalui kolaborasi yang setara dan berkelanjutan.

Menurutnya, kerja sama riset tidak semata dibangun atas dasar kepentingan jangka pendek, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang yang saling menguntungkan.

“Saya meyakini bahwa Indonesia harus terus menjaga hubungan internasional yang kuat dan kemitraan yang erat, terutama melalui riset dan inovasi, dengan negara-negara di seluruh dunia,” kata Arif dikutip Senin (09/02/2026).

Arif menekankan bahwa kemitraan riset yang sehat harus dilandasi prinsip kesetaraan, saling percaya, dan saling menghormati kapasitas masing-masing pihak.

Dalam konteks Indonesia dan Jepang, hubungan ilmiah yang telah terjalin selama puluhan tahun dinilai menjadi modal penting untuk memperkuat kolaborasi ke level yang lebih strategis.

Menurut Arif, kolaborasi riset yang produktif tidak hanya dibangun melalui nota kesepahaman atau kesepakatan formal antar lembaga.

Faktor relasi personal antarpeneliti, pengalaman bekerja bersama di laboratorium, serta kepercayaan yang terbangun di lapangan justru menjadi fondasi utama keberhasilan riset bersama.

Relasi jangka panjang tersebut memungkinkan terjadinya pertukaran ide yang lebih terbuka dan mendalam.

Dengan demikian, riset yang dihasilkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga relevan dengan kebutuhan nyata masyarakat dan industri.

Ia juga menilai jejaring alumni seperti JAAI memiliki peran strategis dalam menjembatani komunikasi dan kolaborasi antarpeneliti lintas generasi dan lintas negara.

Alumni yang pernah menempuh pendidikan atau riset di Jepang dinilai memiliki pemahaman budaya dan etos kerja yang memudahkan kerja sama internasional.

Peran JAAI dan PPI dalam Ekosistem Riset

Arif menyoroti peran JAAI dan PPI sebagai simpul penting dalam mempertemukan peneliti Indonesia dengan jejaring ilmiah global, khususnya Jepang.

Kedua organisasi tersebut dinilai mampu membuka ruang lahirnya proyek riset bersama melalui pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta akses ke fasilitas riset internasional.

“JAAI dan PPI menyediakan sarana yang sangat baik untuk membangun jaringan baru dan kemitraan di masa depan yang melibatkan akademisi Indonesia, Jepang, dan internasional,” ujar Arif.

Melalui jejaring ini, peneliti Indonesia diharapkan dapat lebih aktif terlibat dalam proyek-proyek riset global, sekaligus membawa perspektif lokal ke dalam diskursus ilmiah internasional.

Sebaliknya, kolaborasi tersebut juga membuka peluang masuknya teknologi dan metodologi riset mutakhir ke dalam ekosistem riset nasional.

Riset sebagai Pilar Indonesia Emas 2045

Penguatan ekosistem riset, menurut Arif, menjadi salah satu prasyarat utama dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Ia menegaskan bahwa riset dan inovasi harus menjadi tulang punggung pembangunan nasional, bukan sekadar pelengkap kebijakan.

Upaya tersebut tidak berhenti pada peningkatan jumlah publikasi ilmiah atau peringkat sitasi semata.

Arif menekankan bahwa hasil riset harus berujung pada inovasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas dan dunia usaha.

Dalam konteks ini, BRIN mendorong agar setiap ide potensial dapat dikembangkan menjadi produk, teknologi, atau solusi yang aplikatif.

BRIN juga menilai masih terdapat kesenjangan antara hasil riset dan kebutuhan industri.

Kesenjangan ini perlu dijembatani melalui model kolaborasi yang lebih terstruktur antara peneliti, industri, dan pemerintah.

Dorongan Hilirisasi dan Daya Saing Nasional

Arif menegaskan bahwa daya saing nasional sangat ditentukan oleh kontribusi riset dan inovasi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Negara dengan ekosistem riset yang kuat dinilai lebih mampu beradaptasi terhadap perubahan global dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki.

“Daya saing nasional mencerminkan kontribusi riset dan inovasi terhadap perekonomian kita. Hal ini terlihat dari keunggulan R&D yang dihasilkan oleh industri, didukung oleh lembaga riset, serta kualitas sumber daya manusia yang tinggi,” tambahnya.

Dalam kerangka tersebut, BRIN mendorong peningkatan peran industri dalam kegiatan penelitian dan pengembangan.

Keterlibatan industri sejak tahap awal riset diharapkan dapat mempercepat proses hilirisasi dan memastikan hasil penelitian sesuai dengan kebutuhan pasar.

Melalui kemitraan dengan JSPS, JAAI, dan PPI, pemerintah berharap kolaborasi ilmiah Indonesia dan Jepang dapat memainkan peran yang semakin strategis.

Kerja sama ini tidak hanya dipandang sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi dan pembangunan ekonomi berbasis inovasi.

Hubungan riset Indonesia-Jepang yang telah terbangun selama puluhan tahun dinilai memiliki potensi besar untuk menjawab tantangan global secara bersama.

Dengan menggabungkan kekuatan sumber daya manusia, infrastruktur riset, dan dukungan kebijakan, kolaborasi ini diharapkan mampu menghasilkan inovasi yang berdampak langsung bagi pembangunan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *