Capaian MBG Tinggi, Presiden Prabowo Minta Pengawasan Terus Diperketat

AZL
Presiden Prabowo Subianto saat meninjau dapur SPPG Polri Palmerah, Jumat (13/02/26). (Foto: Instagram/kemensetneg.ri)

adainfo.id – Presiden Prabowo Subianto menyatakan kebanggaannya terhadap capaian standar keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah memproduksi sekitar 4,5 miliar porsi makanan bagi para penerima manfaat.

Pernyataan tersebut disampaikan saat agenda groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Jumat (13/02/2026) di Jakarta.

Dalam pidatonya, Presiden menyoroti penggunaan teknologi pengujian dan sterilisasi pangan yang dinilai telah memenuhi standar tinggi serta mampu bersaing di tingkat global.

Ia menyebut sejumlah perangkat yang digunakan dalam rantai produksi MBG merupakan hasil pengembangan dalam negeri.

Presiden mengapresiasi sistem food safety test dan food security test yang diterapkan dalam proses produksi dan distribusi makanan.

Perangkat tersebut dinilai mampu memperkuat pengawasan mutu serta meminimalkan potensi kontaminasi.

“Tadi saya lihat alat-alat yang digunakan, ada filter air, ada ultraviolet untuk membunuh bakteri di tray makanan. Ada food safety test yang diproduksi di dalam negeri yang tidak kalah dengan kualitas dunia,” papat Presiden dikutip Jum’at (13/02/2026).

Teknologi Sterilisasi dan Standar Global

Program MBG disebut mengintegrasikan sistem penyaringan air dan sterilisasi ultraviolet pada peralatan makan guna menjaga higienitas.

Teknologi tersebut diterapkan secara menyeluruh pada titik layanan untuk memastikan kualitas pangan tetap terjaga sebelum dikonsumsi penerima manfaat.

Presiden menilai penggunaan perangkat uji keamanan pangan yang diproduksi di dalam negeri menunjukkan kapasitas industri nasional dalam menghadirkan teknologi kompetitif.

Sistem pengujian dilakukan pada bahan baku, proses pengolahan, hingga distribusi akhir.

Menurutnya, produksi pangan yang aman dan berkualitas merupakan pondasi penting bagi peradaban dan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat setiap hari.

Ia menekankan bahwa keamanan pangan bukan sekadar aspek teknis, melainkan bagian dari tanggung jawab negara terhadap kesehatan publik.

Produksi 4,5 Miliar Porsi dan Evaluasi Insiden

Dalam kesempatan tersebut, Presiden mengungkapkan bahwa dari total 4,5 miliar porsi yang telah diproduksi, terdapat laporan sekitar 28.000 penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan seperti sakit perut yang diduga terkait keracunan makanan.

Meski demikian, Presiden menilai angka tersebut sangat kecil jika dihitung berdasarkan persentase total produksi.

Berdasarkan perhitungan sementara yang diterimanya, angka kejadian berada di kisaran 0,0006 persen, atau setara tingkat keberhasilan sekitar 99,999 persen.

“Di mana ada usaha manusia yang 100 persen? Ada, tapi tidak gampang dicapai,” kata Presiden.

Ia menyebut laporan awal tersebut masih perlu diverifikasi lebih lanjut. Pemerintah akan memastikan setiap insiden ditelusuri secara menyeluruh melalui audit mutu dan investigasi teknis di lapangan.

Presiden juga menyampaikan bahwa secara statistik, capaian keamanan pangan dalam program MBG disebut lebih baik dibandingkan beberapa negara di Eropa dan Jepang, berdasarkan laporan awal yang diterimanya.

Peran Pengawasan dan Keterlibatan Lembaga

Presiden Prabowo turut menyinggung peran unsur Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam merintis penggunaan sejumlah perangkat pengamanan pangan tersebut.

Sinergi lintas lembaga dinilai penting untuk memperkuat pengawasan distribusi makanan dalam skala besar.

Pengawasan dilakukan tidak hanya pada tahap produksi, tetapi juga distribusi hingga ke titik layanan SPPG.

Sistem ini dirancang untuk menjamin setiap porsi makanan yang diterima masyarakat memenuhi standar higienitas dan gizi yang ditetapkan.

Dalam skema MBG, rantai produksi melibatkan pengadaan bahan baku, proses memasak terstandar, pengemasan, serta pengiriman dengan prosedur kontrol mutu berlapis.

Pemerintah mengklaim bahwa sistem ini terus diperbarui seiring perkembangan teknologi dan evaluasi lapangan.

Peringatan agar Tidak Terlena

Meski menyampaikan apresiasi terhadap capaian statistik, Presiden mengingatkan seluruh jajaran pelaksana agar tidak terlena oleh angka keberhasilan.

Ia menegaskan pentingnya sikap rendah hati dan evaluasi berkelanjutan dalam program berskala nasional.

“Jangan kita sombong. Kesombongan adalah awal dari kehancuran. Semakin berisi semakin merunduk, itu adalah ilmu padi nenek moyang kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi penekanan bahwa capaian angka produksi dan tingkat keberhasilan harus diiringi komitmen menjaga mutu secara konsisten.

Presiden meminta seluruh pihak terkait untuk terus memperkuat pengawasan dan sistem pengujian.

Penguatan SPPG dan Ekspansi Layanan

Groundbreaking 1.179 SPPG menjadi bagian dari strategi memperluas jangkauan layanan MBG.

Pembangunan SPPG bertujuan mendekatkan akses distribusi makanan bergizi kepada masyarakat di berbagai wilayah.

SPPG dirancang sebagai pusat layanan terpadu yang mengintegrasikan dapur produksi, ruang penyimpanan bahan baku, serta fasilitas pengujian mutu.

Dengan penambahan unit layanan, pemerintah berharap distribusi pangan dapat lebih merata dan efisien.

Penguatan sistem pengawasan akan menjadi prioritas seiring bertambahnya titik layanan.

Pemerintah akan terus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, teknologi uji, serta prosedur operasional standar agar kualitas tetap konsisten di seluruh wilayah.

Keamanan pangan dalam program MBG disebut sebagai elemen krusial yang menentukan keberlanjutan kebijakan tersebut.

Dengan produksi mencapai miliaran porsi, sistem pengendalian mutu dinilai harus berjalan tanpa kompromi demi melindungi kesehatan masyarakat penerima manfaat setiap hari.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *