CFD di Depok Tetap Berlangsung Selama Ramadan, Pedagang Diminta Adaptif

ARY
Ilustrasi pelaksanaan CFD di Kota Depok tetap berlangsung selama Ramadan. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Car Free Day (CFD) di Kota Depok dipastikan tetap akan berlangsung sepanjang Ramadan 1447 Hijriah.

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menilai aktivitas publik tersebut masih relevan digelar dengan penyesuaian yang selaras dengan suasana bulan suci Ramadan.

Kebijakan tersebut ditegaskan Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, yang menyatakan bahwa pemerintah tidak memiliki kewenangan membatasi masyarakat dalam mencari nafkah, termasuk para pelaku UMKM yang rutin berjualan saat CFD.

Seperti diketahui, kawasan Jalan Margonda Raya hingga Arif Rahman Hakim menjadi titik utama pelaksanaan CFD di Depok.

Setiap akhir pekan, ribuan warga memanfaatkan ruang tersebut untuk berolahraga, bersantai bersama keluarga, hingga membeli aneka produk UMKM.

Selama Ramadan 1447 H, kegiatan itu dipastikan tidak dihentikan. Pemkot Depok menilai penghentian CFD justru berpotensi menghambat perputaran ekonomi rakyat yang selama ini bertumpu pada aktivitas akhir pekan.

“CFD tetap berjalan selama Ramadan. Pemerintah tidak boleh membatasi orang yang berjualan. Justru kita ingin ekonomi masyarakat tetap bergerak,” katanya dikutip Kamis (19/02/2026).

Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah tetap berpihak pada keberlangsungan usaha kecil, selama aktivitasnya tidak mengganggu ketertiban umum.

Imbauan Penyesuaian Dagangan Selama Ramadan

Meski kegiatan tetap berjalan, Pemkot Depok memberikan imbauan secara lisan kepada para pedagang agar menyesuaikan jenis dagangan dengan suasana Ramadan.

Penyesuaian ini diharapkan menciptakan harmoni antara aktivitas ekonomi dan nilai-nilai ibadah.

Pedagang dianjurkan menjual makanan atau minuman yang siap bungkus untuk persiapan berbuka puasa.

Dengan cara ini, transaksi ekonomi tetap berlangsung tanpa mengurangi penghormatan terhadap warga yang sedang berpuasa.

“Kami hanya menghimbau secara lisan agar yang berjualan menyesuaikan produknya, misalnya menjual makanan siap bungkus untuk persiapan buka puasa. Jadi sifatnya masih imbauan ya,” bebernya.

Pendekatan humanis dianggap lebih efektif untuk menjaga suasana kondusif selama Ramadan.

Ruang Interaksi Sosial Tetap Terjaga

CFD selama ini tidak hanya menjadi ajang olahraga, tetapi juga ruang interaksi sosial masyarakat Kota Depok.

Warga dari berbagai latar belakang berkumpul untuk beraktivitas fisik, bersilaturahmi, dan menikmati hiburan komunitas.

Keberadaan CFD selama Ramadan dinilai tetap memberikan manfaat sosial, selama seluruh pihak menjaga norma, kebersihan, dan ketertiban.

Pemerintah berharap masyarakat dapat menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi momentum bulan suci.

Chandra menambahkan bahwa Ramadan tidak harus menghentikan seluruh aktivitas publik.

Selama ada keseimbangan dan rasa saling menghormati, kegiatan seperti CFD dapat tetap berjalan dengan tertib.

Dukungan terhadap UMKM dan Ekonomi Lokal

Bagi pelaku UMKM, CFD menjadi salah satu saluran utama untuk memasarkan produk.

Momentum Ramadan bahkan seringkali meningkatkan permintaan makanan dan minuman untuk berbuka puasa.

Pemkot Depok memahami bahwa Ramadan merupakan periode penting dalam siklus ekonomi masyarakat.

Banyak pedagang yang menggantungkan pendapatan tambahan dari aktivitas akhir pekan tersebut.

Dengan tetap digelarnya CFD, pemerintah memberikan kepastian bagi pelaku usaha kecil agar tetap memiliki ruang usaha.

Kebijakan ini dinilai sejalan dengan upaya menjaga daya beli dan stabilitas ekonomi lokal.

Langkah tersebut juga memperlihatkan komitmen pemerintah daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.

Aktivitas ekonomi skala mikro menjadi salah satu penopang ketahanan ekonomi kota.

Ramadan Khusyuk dan Ekonomi Berjalan Berdampingan

Pemkot Depok menekankan bahwa kebijakan ini dirancang agar dua kepentingan utama masyarakat dapat berjalan beriringan.

Ibadah puasa tetap dilaksanakan dengan khusyuk, sementara aktivitas ekonomi tidak terhenti.

“Kita ingin Ramadan tetap khusyuk, namun roda ekonomi juga tetap berjalan. Keduanya bisa berjalan berdampingan dengan saling menghormati,” tukasnya.

Filosofi kebijakan tersebut menunjukkan bahwa Ramadan dipandang sebagai momentum spiritual yang tetap bisa selaras dengan dinamika sosial dan ekonomi.

Dengan pengaturan yang bijak serta partisipasi aktif masyarakat, kawasan Margonda Raya hingga Arif Rahman Hakim diproyeksikan tetap menjadi pusat aktivitas warga setiap akhir pekan Ramadan.

Pemerintah berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjaga ketertiban sehingga kegiatan berlangsung aman dan kondusif sepanjang bulan suci.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *