Cuaca Tahun Ini Diprediksi Lebih Kering, Karhutla Jadi Ancaman Serius

ARY
Ilustrasi Karhutla mengancam sejumlah wilayah di Indonesia. Cuaca tahun ini diprediksi lebih kering. (Foto: Vladyslav Dukhin/Pexels)

adainfo.id – Potensi kondisi cuaca yang lebih kering pada 2026 membuat risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Situasi ini mendorong berbagai pihak untuk meningkatkan kewaspadaan serta mempersiapkan langkah mitigasi sejak dini.

Perubahan pola cuaca tersebut diprediksi akan memengaruhi curah hujan di sejumlah wilayah, terutama menjelang puncak musim kemarau.

Kondisi atmosfer yang cenderung lebih kering berpotensi mempercepat terjadinya kebakaran di kawasan hutan maupun lahan gambut jika tidak diantisipasi secara optimal.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada 2025 sebelumnya dipengaruhi oleh fenomena La Nina lemah yang terjadi pada awal dan akhir tahun.

Fenomena tersebut membuat sebagian besar wilayah Indonesia mengalami kondisi cuaca yang relatif lebih basah dibandingkan kondisi normal.

Curah Hujan Diprediksi Lebih Rendah

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kondisi atmosfer pada 2026 diprediksi tidak dipengaruhi oleh fenomena La Nina maupun El Nino.

Mulai April 2026, fenomena El Niño–Southern Oscillation (ENSO) serta Indian Ocean Dipole diperkirakan berada dalam fase netral.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pola curah hujan di Indonesia kemungkinan akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.

Bahkan, dalam beberapa wilayah, curah hujan diperkirakan berada sedikit di bawah rata-rata klimatologis selama 30 tahun terakhir.

“Artinya, kita harus bersiap karena tantangan Karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering,” tutur Faisal dikutip Sabtu (07/03/2026).

Prediksi ini menjadi peringatan bagi berbagai pihak untuk memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Terutama di daerah yang selama ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla.

Wilayah Ekuator Masih Mengalami Kemarau Kecil

Sejumlah wilayah yang berada di sekitar garis ekuator saat ini sedang memasuki fase yang dikenal sebagai ‘kemarau kecil’.

Pada fase ini, peluang hujan masih ada meskipun intensitasnya tidak setinggi musim penghujan.

Wilayah seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat termasuk daerah yang tengah mengalami fase tersebut.

Kondisi ini terjadi sebelum kawasan tersebut memasuki puncak musim kemarau yang biasanya berlangsung pada periode Juni hingga Agustus.

Fase kemarau kecil ini dimanfaatkan oleh pemerintah untuk melakukan berbagai langkah antisipasi.

Salah satunya melalui pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Upaya tersebut bertujuan untuk meningkatkan peluang hujan agar lahan gambut dapat menjadi lebih jenuh air sebelum memasuki periode kemarau yang lebih kering.

Dengan kondisi lahan yang lebih basah, potensi kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.

Potensi Siklus El Nino 2027 Terus Dipantau

Selain memantau kondisi cuaca pada 2026, para ahli meteorologi juga mengamati kemungkinan terjadinya siklus El Nino empat tahunan yang diperkirakan dapat muncul pada 2027.

Jika fenomena tersebut terjadi bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering ke wilayah Indonesia, maka musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang.

Kombinasi faktor tersebut dapat meningkatkan risiko kekeringan sekaligus memperbesar potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan di berbagai daerah.

“Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang,” ungkapnya.

Pemantauan kondisi atmosfer secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam upaya memprediksi dan mengantisipasi potensi perubahan cuaca yang dapat berdampak pada lingkungan.

Sejumlah Wilayah Masih Diguyur Hujan

Sementara itu, beberapa wilayah di bagian selatan Indonesia masih mengalami curah hujan yang relatif tinggi hingga awal Maret 2026.

Daerah seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, serta Nusa Tenggara masih berada dalam periode peralihan menuju musim kemarau.

Curah hujan di wilayah tersebut diperkirakan akan mulai menurun secara bertahap seiring dengan perubahan pola cuaca menuju musim kemarau yang umumnya terjadi pada pertengahan tahun.

Perubahan tersebut akan terus dipantau secara intensif oleh lembaga terkait untuk memastikan informasi cuaca dapat disampaikan secara cepat dan akurat kepada masyarakat.

“Kami akan terus memantau kondisi atmosfer dan berkoordinasi dengan BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, serta Kementerian Kehutanan untuk memastikan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla,” terangnya.

Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Karhutla yang diperkirakan meningkat seiring kondisi cuaca yang lebih kering pada 2026.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *