Dedi Mulyadi Buka Suara soal Proses PCMB, Minta Orang Tua Siswa Tidak Panik
adainfo.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta para orang tua siswa tidak panik menyikapi proses Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) yang saat ini tengah berlangsung di SMA dan SMK negeri se-Jawa Barat.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul ramainya video dan keluhan masyarakat dalam pelaksanaan tahapan tersebut.
Menurut Dedi, banyak masyarakat yang masih menganggap PCMB sebagai proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Padahal, kegiatan yang sedang berlangsung saat ini belum memasuki tahap penerimaan siswa baru, melainkan hanya pemetaan minat dan potensi calon peserta didik.
Dedi mengakui keresahan yang muncul di kalangan orang tua siswa terjadi karena belum semua masyarakat memperoleh penjelasan teknis yang lengkap mengenai mekanisme PCMB.
“Saya bisa memahami kemarahan bapak ini karena belum mendapat penjelasan secara teknis dari Dinas Pendidikan,” kata Dedi Mulyadi dalam keterangannya dikutip, Selasa (09/06/2026).
Dedi Tegaskan PCMB Bukan SPMB
Dedi menjelaskan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat bersama seluruh SMA dan SMK negeri saat ini hanya menjalankan program PCMB.
Program tersebut bertujuan mengidentifikasi minat siswa terhadap sekolah tujuan sebelum tahapan penerimaan resmi dimulai.
Dengan adanya pemetaan sejak awal, pemerintah berharap dapat memperoleh gambaran mengenai sebaran pilihan sekolah yang diminati calon siswa.
“Jadi sebenarnya masalahnya sederhana. Sekarang ini Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat dan seluruh sekolah SMA dan SMK di Provinsi Jawa Barat sedang melaksanakan PCMB. Belum SPMB, belum sistem penerimaan murid baru,” ujarnya.
Menurut Dedi, pemahaman yang tepat mengenai perbedaan PCMB dan SPMB sangat penting agar masyarakat tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa proses penerimaan siswa baru sudah dimulai.
Dianalogikan Seperti Latihan Sebelum Akad Nikah
Untuk mempermudah pemahaman masyarakat, Dedi menggunakan analogi sederhana mengenai tahapan PCMB.
Ia menyebut proses tersebut ibarat latihan sebelum akad nikah yang dilakukan agar pelaksanaan utama dapat berjalan lancar.
Menurutnya, pemetaan dilakukan sebagai simulasi awal sehingga siswa dan orang tua dapat lebih siap tahapan penerimaan resmi dibuka.
“Kalau diibaratkan nikah, ini namanya latihan ijab kabul. Biasanya kalau calon pengantin suka menghafal dulu. Nah ini menghafal dulu agar nanti ketika akad nikah tidak usah berulang-ulang mengucapkan karena salah ucap,” jelasnya.
Analogi tersebut digunakan untuk menggambarkan bahwa PCMB bukan proses penentuan kelulusan atau penerimaan siswa, melainkan tahap persiapan sebelum pelaksanaan SPMB.
Kurangi Kepanikan Saat Penerimaan Siswa Baru
Dedi mengungkapkan bahwa setiap tahun banyak orang tua mengalami kepanikan ketika anak mereka tidak diterima di sekolah pilihan pertama.
Dalam kondisi tersebut, orang tua sering kali harus mencari alternatif sekolah lain dalam waktu yang terbatas.
Situasi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya kebingungan dan keresahan saat proses penerimaan murid baru berlangsung.
Melalui PCMB, pemerintah ingin memberikan kesempatan kepada siswa untuk memetakan pilihan sekolah sejak awal sehingga memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai peluang diterima.
“Untuk mengurangi kepanikan itu, maka saya menggulirkan kebijakan namanya PCMB. Jadi seluruh siswa SMP dan Tsanawiyah hari ini mengunggah minat menuju sekolah mana,” kata Dedi.
Siswa Bisa Menilai Peluang Diterima Lebih Awal
Hasil pemetaan yang dilakukan melalui PCMB nantinya akan menjadi bahan evaluasi awal bagi siswa dan orang tua.
Apabila hasil pemetaan menunjukkan peluang diterima di sekolah tertentu relatif kecil, maka siswa dapat lebih awal mempertimbangkan alternatif sekolah lain.
Sebaliknya, siswa yang memiliki peluang besar diterima di sekolah tujuan dapat mempersiapkan diri dengan lebih tenang menjelang pembukaan SPMB.
Menurut Dedi, langkah ini akan membantu mengurangi kepadatan pendaftar pada sekolah tertentu sekaligus memberikan kepastian yang lebih baik kepada calon peserta didik.
“Ketika nanti di SPMB itu sudah bisa memutuskan dia memilih sekolah lain, tidak lagi mendaftar ke sekolah A karena dimungkinkan tidak diterima,” terangnya.
“Atau mereka yang sudah terpetakan memiliki peluang diterima di sekolah A, maka nanti tenang. Ketika SPMB tidak usah panik lagi karena sudah memiliki potensi besar diterima,” tambahnya.
Orang Tua Diminta Tetap Tenang
Menanggapi berbagai video dan keluhan yang beredar di media sosial, Dedi kembali menegaskan bahwa saat ini belum ada proses penerimaan siswa baru.
Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir atau terburu-buru mengambil kesimpulan mengenai peluang anak mereka masuk ke sekolah tertentu.
Ia memastikan masih tersedia waktu yang cukup sebelum tahapan SPMB resmi dimulai.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga terus melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami tujuan dan mekanisme PCMB secara lebih jelas.
“Untuk itu pada seluruh orang tua siswa tidak usah panik, hari ini baru pemetaan, bukan pendaftaran,” tuturnya.
“Kita masih punya waktu yang cukup ke depan. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya,” pungkas Dedi.
Kebijakan PCMB Jawa Barat diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi kepanikan tahunan saat penerimaan murid baru berlangsung.
Melalui pemetaan minat sejak awal, pemerintah berupaya membantu siswa dan orang tua mengambil keputusan yang lebih matang sebelum memasuki proses SPMB tahun ajaran 2026/2027.












