Dedi Mulyadi Ungkap Faktor Lonjakan Pembayar Pajak Kendaraan di Jabar
adainfo.id – Kesadaran masyarakat Jawa Barat (Jabar) dalam memenuhi kewajiban pajak kendaraan bermotor menunjukkan tren positif.
Jumlah kendaraan yang membayar pajak tercatat mengalami peningkatan signifikan dan kini menembus angka lebih dari 12,5 juta kendaraan per tahun.
Angka tersebut naik dibandingkan sebelumnya yang berkisar di angka 10 hingga 11 juta kendaraan.
Lonjakan itu menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan pajak daerah, sekaligus mencerminkan hubungan yang semakin baik antara pemerintah provinsi dan masyarakat.
Peningkatan jumlah pembayar pajak kendaraan ini mengemuka dalam diskusi antara Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dengan para kepala perangkat daerah Provinsi Jawa Barat.
Forum tersebut membahas kinerja penerimaan pajak daerah serta dampaknya terhadap pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Menurut Dedi, meningkatnya kepatuhan masyarakat dalam membayar pajak tidak terjadi secara instan.
Ada faktor kepercayaan dan pengalaman langsung masyarakat yang memegang peran penting.
Infrastruktur Jalan Jadi Bukti Nyata Pajak Bekerja
Dedi menjelaskan, faktor utama yang mendorong meningkatnya jumlah pembayar pajak kendaraan bermotor adalah manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.
Pajak yang dibayarkan tidak sekadar menjadi angka dalam laporan keuangan, melainkan hadir dalam bentuk infrastruktur yang bisa langsung dinikmati.
“Yang pertama, masyarakat merasakan langsung bahwa uang pajak kendaraan bermotor yang mereka bayarkan hari ini benar-benar terwujud menjadi infrastruktur jalan yang baik,” kata Dedi, dikutip Senin (05/01/2026).
Menurutnya, kondisi jalan yang semakin baik menjadi bukti konkret bahwa pajak dikelola dan dikembalikan kepada rakyat.
Faktor kedua yang turut mendorong peningkatan kesadaran pajak adalah pola komunikasi dan pendekatan kepemimpinan yang lebih dekat dengan masyarakat.
Dedi menilai keterhubungan antara pemimpin daerah dan publik kini semakin kuat, seiring perubahan cara berkomunikasi yang lebih sederhana dan langsung.
“Sekarang, ketika biaya komunikasi tidak besar, tidak banyak billboard, tidak banyak aplikasi, justru jumlah pembayar pajak naik menjadi 12,5 juta dan bahkan lebih,” paparnya.
Ia menilai, kepercayaan publik tumbuh secara organik ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan.
Manfaat Pajak Dirasakan hingga Penerangan Jalan
Dedi menegaskan bahwa kesadaran publik meningkat ketika manfaat pajak benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain perbaikan jalan, fasilitas penerangan jalan umum (PJU) juga menjadi salah satu contoh nyata penggunaan pajak daerah.
“Kalau jalannya sudah terasa bagus, kesadaran publik itu tumbuh. Karena itu, kepercayaan rakyat ini harus dijaga,” jelasnya.
Menurutnya, keberlanjutan pembangunan sangat bergantung pada kepercayaan masyarakat kepada pemerintah.
Dedi juga menyinggung pentingnya pemerataan pembangunan. Ia menilai wilayah pinggiran harus menjadi prioritas utama, terutama dalam pembangunan jalan dan PJU.
“Pusat kota sudah terbiasa. Justru yang pinggiran dulu. Ketika jalan dan PJU di pinggiran bagus, kebahagiaan rakyat itu terasa sekali,” tuturnya.
Ia mengungkapkan bahwa pembangunan di wilayah pinggiran memiliki dampak emosional yang kuat bagi masyarakat.
Respons Warga Jadi Motivasi Pemerintah
Dedi bahkan mengaku terharu melihat respons masyarakat terhadap pembangunan yang dilakukan pemerintah daerah.
Menurutnya, kebahagiaan warga sering kali lahir dari hal-hal mendasar yang selama ini kurang diperhatikan.
“Rakyat kita ini, dikasih jalan bagus saja sudah bahagia, dikasih PJU bagus saja sudah bahagia,” ungkapnya.
Hal ini, kata Dedi, menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak selalu harus megah, tetapi tepat sasaran.
Terkait pembiayaan pembangunan, Dedi menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan anggaran.
Ia mengingatkan agar pembangunan tidak membebani generasi mendatang melalui utang.
Menurutnya, pemimpin yang bertanggung jawab adalah yang berusaha menyelesaikan kebutuhan dasar masyarakat pada masa kepemimpinannya sendiri.
“Kalaupun harus berjuang, harapannya jangan sampai meminjam. Kita berdoa saja, siapa tahu ada rezeki,” ujarnya.
Ia bahkan menyampaikan harapan optimistis terhadap potensi Jawa Barat.
“Tiba-tiba ada yang datang, ‘ini 1,5 triliun, karena jalannya bagus, sekolahnya bagus’. Memang hebat Jawa Barat,” bebernya.
Peningkatan jumlah pembayar pajak kendaraan bermotor di Jawa Barat diharapkan dapat terus berlanjut.
Pemerintah daerah menilai konsistensi dalam menghadirkan pembangunan yang dirasakan langsung oleh masyarakat menjadi kunci utama menjaga kepercayaan publik.
Kepercayaan tersebut tidak hanya berdampak pada penerimaan pajak daerah, tetapi juga menjadi modal penting bagi pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Barat ke depan.











