Di Tengah Isu Konflik Timur Tengah, Begini Kesiapan Jemaah Haji di Depok
adainfo.id – Persiapan keberangkatan jemaah haji tahun 2026 di Kota Depok dipastikan tetap berjalan sesuai rencana meskipun situasi geopolitik di Timur Tengah tengah mengalami peningkatan tensi konflik.
Pelaksanaan ibadah haji yang menjadi agenda tahunan umat Islam ini tetap dipersiapkan secara matang oleh otoritas terkait dengan mengedepankan aspek keamanan, teknis, serta kelancaran layanan bagi jemaah.
Berbagai langkah antisipatif pun telah disusun untuk memastikan seluruh tahapan keberangkatan dapat berjalan tanpa hambatan berarti.
Kasi Layanan dan Fasilitasi Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah Kemenhaj Kota Depok, Boby Arvianto, menegaskan bahwa kesiapan penyelenggaraan haji tahun ini telah mencapai tahap yang optimal.
Ia menyampaikan bahwa seluruh proses administrasi hingga persiapan teknis telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku.
“Untuk Kota Depok ini kan dari kuota 2.631, yang melunasi 2.423, berarti kurang lebih ada 208 yang tidak melunasi. Yang tidak melunasi di antaranya ada berbagai faktor ya, entah dari mungkin satu faktor ekonomi, faktor kesehatan, dan faktor lain. Untuk yang tidak melunasi tetap akan menjadi hak jemaah tersebut, itu akan menjadi haknya di tahun berikutnya,” ujar Boby kepada wartawan Senin (13/04/2026).
Boby menjelaskan bahwa meskipun terdapat ratusan jemaah yang belum melakukan pelunasan, hal tersebut tidak menghilangkan hak mereka untuk berangkat pada tahun berikutnya.
Sistem porsi keberangkatan tetap menjamin keberlanjutan hak jemaah selama tidak ada pembatalan resmi.
“Jadi porsi tersebut tidak akan hilang selama jemaah tidak membatalkan nomor porsinya. Jadi kalau ditunda, selama tidak dibatalkan, maka porsi tersebut tetap akan bisa berangkat pada tahun berikutnya,” jelasnya.
Kondisi ini menjadi bentuk kepastian bagi calon jemaah yang menghadapi kendala tertentu, baik dari sisi ekonomi maupun kesehatan.
Pemerintah memastikan tidak ada hak yang terabaikan dalam proses penyelenggaraan ibadah haji yang bersifat jangka panjang tersebut.
Pembagian Kloter dan Jadwal Keberangkatan
Untuk tahun 2026, Kota Depok mendapatkan alokasi enam kelompok terbang atau kloter yang terbagi dalam dua gelombang keberangkatan.
Komposisi kloter tersebut sebagian besar merupakan kloter utuh dari Depok, sementara satu kloter merupakan gabungan dengan wilayah lain.
“Dan dari jumlah yang melunasi itu, Kota Depok memang mendapatkan 6 kloter. Gelombang satu ada 3 kloter, gelombang dua ada 3 kloter. Dan kloter utuh Kota Depok itu sebanyak 5 kloter ya, 1 kloter memang kloter gabungan antara Kota Depok dengan Kabupaten Bogor, ada di kloter 21,” paparnya.
Keberangkatan perdana dijadwalkan berlangsung pada 22 April 2026. Sebelum memasuki tahap tersebut, para jemaah diwajibkan menyerahkan koper besar sebagai bagian dari prosedur teknis keberangkatan yang telah ditentukan.
“Dan insyaallah untuk keberangkatan pertama Kota Depok itu akan dimulai pada tanggal 22 April. Jadi jemaah haji Kota Depok akan masuk ke Asrama Haji dan sebelumnya pada tanggal 21 April itu memang jemaah haji nanti persiapannya akan menyerahkan koper besar kepada kita,” ungkapnya.
Dari sisi kesiapan individu, seluruh jemaah telah mengikuti rangkaian manasik haji yang diselenggarakan secara berjenjang, mulai dari tingkat kota hingga kelompok.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam memberikan pemahaman menyeluruh terkait pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.
“Alhamdulillah semua sudah berjalan. Yang kemarin manasik di tingkat kota itu telah selesai pada tanggal 5 April,” katanya.
Antusiasme jemaah pun dinilai cukup tinggi. Hal ini terlihat dari tingkat kehadiran dan partisipasi aktif dalam setiap sesi manasik yang digelar.
Para jemaah juga dinilai telah memahami prosedur ibadah serta kesiapan fisik yang diperlukan selama menjalankan rangkaian haji.
Selain itu, kesiapan logistik dan administrasi juga telah diselaraskan dengan jadwal keberangkatan.
Koordinasi lintas instansi dilakukan guna memastikan tidak ada kendala yang dapat menghambat proses keberangkatan.
Antisipasi Konflik dan Skema Mitigasi
Di tengah meningkatnya isu konflik di kawasan Timur Tengah, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skema mitigasi sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan gangguan perjalanan.
“Sebenarnya ada tiga opsi, pertama itu bisa melakukan penundaan keberangkatan, bisa melakukan perubahan rute, dan tetap berangkat sesuai dengan itu. Tapi sampai dengan saat ini pemerintah, terutama Kementerian Haji dan Umrah itu optimis siap melaksanakan keberangkatan haji pada tahun 2026 ini,” bebernya.
Ketiga opsi tersebut menjadi bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi dinamika global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
Penentuan langkah akan disesuaikan dengan kondisi terkini menjelang waktu keberangkatan.
“Kalau keamanan, apalagi nanti di udara, pada saat di hari H biasanya kan dari pemerintah, baik Pemerintah Indonesia, Pemerintah Saudi, itu juga dia juga akan mitigasi dulu. Maksudnya kondisi-kondisi terkini ya terkait dengan akses jalur yang akan nanti dilalui jemaah itu seperti apa,” paparnya.
Langkah ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan ibadah haji, terutama dalam situasi global yang tidak menentu.
Pemerintah juga memastikan bahwa apabila terjadi perubahan rute penerbangan akibat kondisi tertentu, jemaah tidak akan dibebani biaya tambahan.
Kebijakan ini menjadi bentuk perlindungan terhadap jemaah agar tetap dapat menjalankan ibadah tanpa beban finansial tambahan.
“Kalau pemerintah, kemarin saya juga dapat informasi itu bahwa memang kalaupun ada penambahan biaya, maka jemaah tidak akan dikenakan penambahan biaya. Dan itu akan ditanggung oleh pemerintah walaupun memang cukup besar,” tegasnya.
Di sisi lain, kondisi global yang berkembang tidak menyurutkan semangat para jemaah.
Mayoritas jemaah tetap menunjukkan optimisme tinggi untuk berangkat dan menjalankan ibadah haji sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
“Sampai saat ini juga terutama jemaah Depok, itu belum ada yang menanyakan kita keberangkatan haji pasti berangkat atau tunda atau gimana tuh. Sampai sekarang harapan jemaah tuh tetap berangkat,” pungkasnya.
Optimisme tersebut menjadi cerminan kesiapan mental dan spiritual para jemaah dalam menghadapi perjalanan ibadah yang penuh makna, meskipun di tengah situasi global yang dinamis.












