Direktorat Kebudayaan UI, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia Serukan Kesadaran Ekologis

ARY
Suasana Majelis Nyala Purnama #9 di Makara Art Center UI dengan latar refleksi budaya dan lingkungan, kemarin malam. (Foto: Pusinfo Direktorat Kebudayaan UI)

adainfo.id – Ruang refleksi budaya dan spiritual kembali dihadirkan melalui penyelenggaraan Majelis Nyala Purnama #9 yang mengangkat tema “Tahun Baru, Semangat Baru, Wajah Baru: Menata Ulang Relasi Manusia dan Alam”.

Kegiatan ini menjadi ajakan kolektif untuk membangun hubungan yang lebih harmonis antara manusia dan alam di tengah meningkatnya krisis ekologi.

Kegiatan yang digelar pada Selasa (06/01/2026) malam tersebut merupakan hasil kolaborasi Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia, Komoenitas Makara, dan Urban Spiritual Indonesia.

Bertempat di Makara Art Center Universitas Indonesia, acara ini dihadiri akademisi, seniman, pegiat budaya, serta masyarakat umum.

Majelis Nyala Purnama menjadi wadah dialog lintas disiplin yang memadukan refleksi budaya, seni, dan spiritualitas sebagai pendekatan alternatif dalam merespons persoalan lingkungan dan kemanusiaan.

Acara berlangsung khidmat dengan rangkaian kegiatan yang beragam, mulai dari Orasi Budaya, paparan akademik, musik, tari, pembacaan puisi, hingga meditasi di bawah sinar bulan purnama.

Sejumlah tokoh turut hadir dan berpartisipasi aktif, di antaranya Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia Dr. Ngatawi Al Zastrouw, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia Prof. Dr. Tito Latif Indra, Arsitek Yori Antar.

Kemudian, Pendiri Urban Spiritual Indonesia Dr. Turita Indah Setyani, Ketua Komoenitas Makara Fitra Manan, musisi Dima Miranda, serta kelompok musikalisasi puisi Swara SeadaNya.

Tahun Baru sebagai Momentum Muhasabah Ekologis

Direktur Kebudayaan Universitas Indonesia, Dr. Ngatawi Al Zastrouw, menegaskan bahwa pergantian tahun merupakan momen strategis untuk melakukan refleksi mendalam, tidak hanya secara personal, tetapi juga sosial dan ekologis.

“Tahun Baru adalah momentum untuk melakukan muhasabah (introspeksi) baik secara individual maupun sosial. Bencana ekologi Sumatera yang terjadi menjelang akhir tahun merupakan bahan muhasabah penting yang menuntut kita melakukan koreksi atas relasi manusia dengan alam dan lingkungan,” ucap Ngatawi dalam keterangannya, Rabu (07/01/2026).

Ia menilai, relasi manusia dengan alam selama ini cenderung bersifat eksploitatif dan menempatkan alam sebagai objek pemuas kepentingan semata.

“Pola relasi yang eksploitatif dan menjadikan alam sebagai obyek pemuas nafsu serakah telah menimbulkan bencana yang menuntut korban jiwa dan harta benda,” jelas Ngatawi.

Melalui Majelis Nyala Purnama, Ngatawi berharap masyarakat dapat kembali meneladani nilai-nilai kearifan lokal Nusantara yang menempatkan alam sebagai mitra kehidupan.

“Lewat Majelis Nyala Purnama, kami ingin menata ulang relasi alam dan manusia yang lebih harmonis dan seimbang sehingga tercipta hubungan saling menjaga antar keduanya, sebagaimana yang diajarkan para leluhur Nusantara melalui berbagai tradisi yang sarat dengan nilai-nilai kearifan,” papar Ngatawi.

Akademisi Soroti Bencana dan Degradasi Lingkungan

Sementara itu, Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra dalam makalahnya menyoroti tingginya tingkat kerawanan bencana di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera.

“Indonesia merupakan negara dengan tingkat kerawanan bencana yang sangat tinggi akibat kondisi geologis, geografis, dan klimatologisnya. Selama ini, penanganan kebencanaan cenderung didominasi oleh pendekatan teknokratis dan berbasis respons darurat,” ungkap Prof. Tito.

Ia menambahkan bahwa pengalaman di berbagai daerah menunjukkan kekuatan komunitas lokal dalam menghadapi bencana melalui kearifan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

“Pulau Sumatera dalam beberapa dekade terakhir mengalami peningkatan signifikan kejadian bencana ekologis berupa banjir, banjir bandang, dan tanah longsor,” jelas Prof. Tito.

“Bencana-bencana tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai peristiwa alam, melainkan sebagai manifestasi dari degradasi Daerah Aliran Sungai (DAS), perubahan iklim, serta paradigma pembangunan yang belum sepenuhnya memperhitungkan daya dukung lingkungan,” sambung Prof. Tito.

Menurutnya, integrasi ilmu kebencanaan modern dengan kearifan lokal menjadi kunci dalam membangun sistem mitigasi bencana yang berkelanjutan.

Arsitektur Tradisional sebagai Jalan Pelestarian Alam

Dari sudut pandang arsitektur, Yori Antar membagikan pengalamannya dalam melestarikan rumah adat Nusantara melalui Yayasan Uma Nusantara.

“Melalui Uma Nusantara, kami menginisiasi konsep ‘Rumah Asuh’, di mana arsitek modern dan donatur bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membangun kembali rumah adat menggunakan teknik tradisional agar pengetahuan lokal tidak hilang,” ujar Yori.

Ia juga menyinggung proyek Seribu Rumah Gadang di Solok Selatan, Sumatera Barat, yang telah rampung pada 2025.

Proyek tersebut mencakup restorasi puluhan rumah gadang menggunakan material tradisional seperti atap ijuk.

Sekaligus mengembangkan kawasan menjadi destinasi wisata budaya yang berdampak langsung pada ekonomi warga.

Rumah Adat sebagai Penjaga Keseimbangan Alam

Ketua Komoenitas Makara, Fitra Manan, menekankan bahwa rumah adat Nusantara merupakan solusi konkret dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.

“Menata ulang relasi antara manusia dan alam menjadi semakin mendesak, di mana rumah adat Nusantara hadir sebagai solusi konkret berbasis kearifan lokal,” ujar Fitra.

“Lebih dari sekadar hunian fisik, arsitektur tradisional Indonesia mencerminkan filosofi hidup berkelanjutan yang memuliakan ekosistem sekitar,” timpal Fitra.

Menurutnya, arsitektur tradisional juga berfungsi sebagai penjaga memori kolektif bangsa agar manusia tidak tercerabut dari akar ekologisnya.

Majelis Nyala Purnama #9 semakin semarak dengan penampilan musisi Dima Miranda yang membawakan lagu-lagu balada reflektif, serta kelompok Swara SeadaNya yang menampilkan musikalisasi puisi “Kala Sang Surya Tenggelam” karya Guruh Soekarnoputra yang dipadukan dengan puisi karya Ayie Suminar.

Pada sesi penutup, Dr. Turita Indah Setyani memimpin meditasi bersama di bawah cahaya bulan purnama. Ia mengajak peserta merefleksikan nilai Tri Hita Karana sebagai fondasi keharmonisan hidup.

“Dengan meditasi mari kita menyatukan Tri Hita Karana kita masing-masing, yang berfokus pada tiga penyebab kebahagiaan melalui keharmonisan hubungan manusia, yaitu Parhyangan, Pawongan, dan Palemahan,” tutur Dr. Turita.

Melalui Majelis Nyala Purnama #9, Universitas Indonesia bersama para mitra berharap kesadaran kolektif masyarakat terhadap pentingnya menata ulang relasi manusia dan alam dapat terus tumbuh demi masa depan yang berkelanjutan dan harmonis.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *