Donor Darah Saat Puasa Aman Dilakukan, Ini Waktu yang Dianjurkan

AZL
Ilustrasi pelaksanaan donor darah saat Ramadan. (Foto: Krisana Sennok/Getty Images)

adainfo.id – Ketersediaan stok darah di rumah sakit selama bulan suci Ramadan kembali mengalami penurunan seiring berkurangnya jumlah pendonor yang datang untuk menyumbangkan darahnya.

Fenomena ini terjadi hampir setiap tahun, terutama karena sebagian masyarakat memilih menunda donor darah dengan alasan khawatir merasa lemas saat menjalankan ibadah puasa.

Padahal, kebutuhan darah bagi pasien di berbagai fasilitas kesehatan tidak pernah berhenti.

Baik untuk korban kecelakaan, ibu melahirkan, pasien kanker, hingga penderita thalasemia yang memerlukan transfusi rutin.

Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Depok, Dudi Mi’raz, mengakui bahwa tren penurunan jumlah pendonor saat Ramadan memang menjadi tantangan tersendiri bagi lembaganya.

“Idealnya, jika ingin mendonorkan darah selama Ramadan bisa di pagi hari atau sore menjelang waktu berbuka puasa. Hal tersebut agar pendonor tidak lemas dan tetap sehat,” ujarnya dikutip Rabu (04/03/2026).

Kebutuhan Darah Tidak Pernah Libur

Menurut Dudi, permintaan darah di Kota Depok dan sekitarnya tetap berjalan normal meskipun bulan puasa berlangsung.

Bahkan, menjelang Hari Raya Idulfitri, kebutuhan darah cenderung meningkat karena mobilitas masyarakat yang tinggi seringkali berdampak pada peningkatan kasus kecelakaan.

Selain itu, pasien dengan penyakit kronis seperti kanker dan thalasemia membutuhkan transfusi darah secara berkala tanpa bisa menunggu hingga Ramadan berakhir.

Kondisi tersebut membuat PMI harus memastikan stok darah tetap aman.

Penurunan jumlah pendonor umumnya dipengaruhi oleh kekhawatiran masyarakat mengenai dampak donor terhadap kondisi tubuh saat berpuasa.

Banyak yang beranggapan bahwa mendonorkan darah dapat menyebabkan tubuh lemas, pusing, bahkan membatalkan ibadah puasa.

Padahal, secara medis, donor darah tetap aman dilakukan selama pendonor memenuhi syarat kesehatan dan dalam kondisi tubuh yang prima.

Waktu Ideal Donor Saat Puasa

Dudi menjelaskan bahwa pemilihan waktu menjadi kunci agar donor darah tetap nyaman dilakukan selama Ramadan.

Pagi hari dinilai sebagai waktu yang ideal karena tubuh masih dalam kondisi segar setelah sahur dan asupan nutrisi masih tersedia.

Sementara itu, sore hari menjelang berbuka juga menjadi pilihan tepat karena setelah proses donor selesai, pendonor dapat segera mengganti cairan dan energi dengan berbuka puasa.

Menurutnya, proses donor darah umumnya hanya memerlukan waktu sekitar 10 hingga 15 menit.

Dengan prosedur pemeriksaan awal seperti pengecekan tekanan darah dan kadar hemoglobin, risiko medis dapat diminimalisir.

PMI Kota Depok memastikan setiap calon pendonor akan melalui tahapan skrining kesehatan untuk memastikan kondisi tubuh layak mendonorkan darah.

Jika tidak memenuhi syarat, petugas medis tidak akan melanjutkan proses donor.

Donor Darah dan Status Ibadah

Selain persoalan kesehatan, kekhawatiran lain yang kerap muncul adalah status hukum ibadah puasa setelah mendonorkan darah.

Dudi mengingatkan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa donor darah tidak membatalkan puasa.

Dengan adanya fatwa tersebut, masyarakat tidak perlu lagi ragu untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini selama bulan Ramadan.

Ia menegaskan bahwa donor darah justru menjadi salah satu bentuk kepedulian sosial yang sangat dianjurkan, terutama di bulan penuh keberkahan.

“Bentuk sedekah bukan hanya materi, tetapi juga bisa melalui kepedulian kepada sesama, salah satunya dengan mendonorkan darah,” terangnya.

Momentum Ramadan dinilai sebagai waktu yang tepat untuk meningkatkan solidaritas sosial, termasuk melalui kegiatan kemanusiaan seperti donor darah.

Akses Layanan Donor di Depok

Bagi warga Kota Depok yang ingin mendonorkan darah, dapat langsung mendatangi Markas PMI Kota Depok yang berlokasi di Jalan Boulevard Raya, Grand Depok City (GDC).

Pelayanan donor dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 20.30 WIB.

Jam operasional tersebut tidak mengalami perubahan selama Ramadan.

PMI memastikan seluruh layanan tetap berjalan normal guna menjaga ketersediaan stok darah.

Petugas medis juga disiagakan untuk memastikan kenyamanan dan keamanan pendonor selama proses berlangsung.

Dudi berharap partisipasi masyarakat tidak menurun selama bulan puasa.

Ia menekankan bahwa satu kantong darah dapat menyelamatkan lebih dari satu nyawa karena komponen darah dapat dipisahkan sesuai kebutuhan pasien.

Tantangan Menjelang Lebaran

Menjelang Idulfitri, kebutuhan darah umumnya meningkat karena aktivitas perjalanan yang tinggi.

Risiko kecelakaan lalu lintas menjadi salah satu faktor yang memicu lonjakan permintaan darah di rumah sakit.

Selain itu, pasien dengan kebutuhan transfusi rutin tetap membutuhkan suplai darah tanpa jeda.

Jika stok menipis, rumah sakit akan kesulitan memenuhi permintaan mendesak.

PMI Kota Depok terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat melalui berbagai kanal komunikasi untuk mengedukasi pentingnya donor darah selama Ramadan.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok darah tetap dalam kondisi aman hingga Lebaran.

“Kami berharap masyarakat dapat datang langsung dan secara sukarela mendonorkan darah untuk menjaga ketersediaan stok hingga Lebaran,” pungkasnya.

Ketersediaan darah yang stabil menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan di Kota Depok.

Dengan partisipasi aktif masyarakat, kebutuhan pasien di berbagai rumah sakit dapat terus terpenuhi tanpa hambatan meskipun berada di tengah bulan suci Ramadan.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *