Dunia Terancam Krisis Energi, Indonesia Siapkan Langkah Ini untuk Hadapi Konflik Timur Tengah
adainfo.id – Pemerintah Indonesia menyiapkan langkah strategis untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran memicu kekhawatiran dunia terhadap stabilitas jalur distribusi energi internasional.
Terutama setelah muncul ancaman penutupan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Situasi tersebut langsung mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat.
Dalam Sidang Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) ke-1 Tahun 2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menjaga ketahanan energi nasional agar tetap stabil di tengah gejolak geopolitik global.
Sidang tersebut dipimpin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia, yang secara khusus membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap pasokan energi dunia dan potensi implikasinya bagi Indonesia.
Selat Hormuz Jadi Titik Kritis Pasokan Energi Dunia
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut menjadi lintasan utama distribusi minyak mentah dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke berbagai negara di dunia.
Ketegangan geopolitik yang terjadi di kawasan tersebut meningkatkan risiko terganggunya jalur distribusi energi global.
Jika Selat Hormuz benar-benar ditutup akibat konflik militer, maka dampaknya akan terasa luas terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Data yang dipaparkan dalam sidang DEN menunjukkan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut setiap hari.
Penutupan jalur itu tidak hanya akan mengganggu distribusi energi global, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah Indonesia memandang perlu mengambil langkah antisipatif agar kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.
Presiden Prabowo Minta Pasokan Energi Nasional Dijaga
Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan langsung kepada Kementerian ESDM untuk memastikan ketersediaan energi nasional tetap aman.
Arahan tersebut disampaikan sebagai bentuk kewaspadaan pemerintah terhadap kemungkinan gangguan distribusi energi global yang dapat berdampak langsung pada sektor energi domestik.
“Arahan Bapak Presiden kepada kami adalah kita harus sangat berhati-hati untuk menghitung semuanya dengan tetap memastikan ketersediaan BBM dalam negeri untuk memberikan kepastian kepada pelayanan kepada masyarakat kita,” papar Bahlil dikutip Kamis (05/03/2026).
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada dinamika geopolitik global, tetapi juga pada dampak langsung yang mungkin dirasakan oleh masyarakat dalam negeri.
Indonesia Bergantung Sebagian Pasokan Minyak dari Timur Tengah
Pemerintah juga memaparkan peta ketergantungan energi Indonesia terhadap pasokan minyak dunia, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
Bahlil menjelaskan bahwa sebagian pasokan minyak mentah untuk kebutuhan nasional memang masih berasal dari negara-negara di kawasan tersebut.
Jalur distribusinya pun melewati Selat Hormuz yang saat ini menjadi titik rawan konflik.
Penutupan jalur tersebut dinilai berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global, termasuk bagi negara-negara importir seperti Indonesia.
“Pasokan energi (crude) untuk kebutuhan Indonesia yang melalui Selat Hormuz berasal dari negara-negara middle east sekitar 19% kebutuhan nasional atau sebesar 25,36 juta barel. Selebihnya kita ambil dari Afrika, dari Angola, dari Amerika, kemudian dari beberapa negara lain seperti Brazil yang tidak melalui Selat Hormuz,” bebernya.
Data tersebut memperlihatkan bahwa meskipun tidak sepenuhnya bergantung pada kawasan Timur Tengah, Indonesia tetap memiliki eksposur terhadap potensi gangguan distribusi energi global.
Diversifikasi Impor Minyak Jadi Strategi Mitigasi
Menghadapi potensi krisis pasokan energi global, pemerintah mulai melakukan strategi diversifikasi sumber impor minyak mentah.
Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur distribusi yang berisiko terdampak konflik geopolitik.
Pemerintah saat ini mengkaji pengalihan sebagian impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke negara lain yang dinilai lebih aman dari sisi stabilitas geopolitik dan jalur logistik.
Salah satu negara yang menjadi alternatif sumber pasokan energi bagi Indonesia adalah Amerika Serikat.
Selain itu, pemerintah juga membuka peluang peningkatan impor dari negara-negara lain yang tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz.
Strategi ini diharapkan dapat memastikan bahwa pasokan energi nasional tetap stabil meskipun terjadi gangguan pada jalur distribusi utama dunia.
Impor BBM Dinilai Masih Relatif Aman
Selain minyak mentah, pemerintah juga menyoroti kondisi impor bahan bakar minyak atau BBM yang selama ini menjadi kebutuhan utama dalam negeri.
Dalam sidang DEN, pemerintah menyampaikan bahwa hingga saat ini pasokan impor BBM tidak mengalami gangguan signifikan.
Hal ini karena sebagian besar pasokan BBM Indonesia berasal dari negara-negara di luar kawasan Timur Tengah.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah menilai bahwa risiko gangguan pasokan BBM masih dapat dikendalikan.
“Impor BBM relatif tidak masalah,” ungkapnya.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan geopolitik global guna memastikan stabilitas pasokan energi nasional.
LPG Jadi Fokus Diversifikasi Energi
Selain minyak mentah dan BBM, komoditas energi lain yang juga menjadi perhatian pemerintah adalah Liquefied Petroleum Gas atau LPG.
Indonesia hingga saat ini masih bergantung pada impor LPG untuk memenuhi kebutuhan domestik.
Total kebutuhan nasional tercatat mencapai sekitar 7,3 hingga 7,8 juta ton per tahun.
Dalam strategi mitigasi yang dibahas dalam sidang DEN, pemerintah memutuskan untuk memperkuat diversifikasi sumber impor LPG dengan meningkatkan pasokan dari Amerika Serikat.
Langkah ini dipandang sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional serta mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Diversifikasi sumber energi menjadi salah satu strategi penting untuk memastikan bahwa kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi meskipun terjadi ketidakpastian global.
Penguatan Energi Domestik Jadi Agenda Strategis
Selain melakukan diversifikasi impor energi, pemerintah juga menekankan pentingnya optimalisasi sumber energi domestik.
Strategi ini dianggap sebagai solusi jangka panjang dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Salah satu contoh keberhasilan yang dijadikan referensi dalam sidang DEN adalah program biodiesel yang selama ini dikembangkan oleh pemerintah Indonesia.
Program tersebut dinilai mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor energi sekaligus meningkatkan pemanfaatan sumber daya energi dalam negeri.
Melalui berbagai strategi tersebut, pemerintah berupaya memastikan bahwa sistem energi nasional tetap stabil dan mampu menghadapi berbagai tantangan global yang muncul akibat dinamika geopolitik internasional.
Di tengah ketegangan yang terjadi di Timur Tengah dan ancaman gangguan distribusi energi dunia, langkah antisipatif pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi bagi masyarakat Indonesia.









