Fenomena Krisis Ojol Saat Ramadan, Ternyata Ini Alasannya

AZL
Saat ini ramai fenomena krisis ojol yang dikeluhkan pengguna transportasi daring saat bulan Ramadan. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Fenomena yang belakangan disebut sebagai “krisis ojol” mulai dirasakan masyarakat di berbagai kota selama bulan Ramadan.

Banyak pengguna aplikasi transportasi daring mengeluhkan semakin sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online, terutama pada waktu sore menjelang berbuka puasa.

Keluhan tersebut banyak muncul ketika masyarakat mencoba memesan layanan transportasi pada jam sibuk atau rush hour.

Pada waktu tersebut aktivitas masyarakat meningkat tajam karena bertepatan dengan waktu pulang kerja sekaligus persiapan berbuka puasa.

Akibatnya, waktu tunggu untuk mendapatkan pengemudi menjadi lebih lama dibandingkan hari-hari biasa.

Tidak sedikit pengguna yang harus mencoba memesan layanan beberapa kali sebelum akhirnya mendapatkan driver yang bersedia mengambil pesanan.

Fenomena ini juga ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak warganet membagikan pengalaman mereka yang kesulitan mendapatkan pengemudi meskipun telah memesan layanan transportasi melalui aplikasi berkali-kali.

Driver Lebih Memilih Pesanan Makanan

Salah seorang pengemudi ojek online dari aplikasi ojek online, Bayu (28), mengakui kondisi tersebut memang sering terjadi selama Ramadan.

Menurutnya, banyak pengemudi yang biasanya menerima pesanan transportasi penumpang memilih beralih ke layanan pengantaran makanan melalui ketika waktu berbuka puasa semakin dekat.

“Karena banyakan driver yang biasanya ambil penumpang lebih milih ngaktifin untuk makanan. Soalnya argo ambil makanan menjelang buka puasa biasanya lebih besar dibanding ambil penumpang. Jadi driver otomatis nyari order yang pendapatannya lebih besar, apalagi sebentar lagi Lebaran,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Jalan Margonda Raya, Kota Depok, Senin (16/03/2026).

Bayu menjelaskan bahwa perbedaan tarif antara layanan transportasi penumpang dan layanan pengantaran makanan menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pilihan pengemudi.

Ketika permintaan pengantaran makanan meningkat menjelang berbuka, nilai tarif yang diterima pengemudi juga cenderung lebih tinggi dibandingkan layanan transportasi biasa.

“Kebijakan dari aplikasi kadang terasa nggak sebanding. Kalau ambil Goride di jam segini, argonya biasa saja. Tapi kalau ambil makanan, terutama menjelang buka puasa, bisa lebih besar karena permintaan lagi banyak,” tambahnya.

Permintaan Pengantaran Makanan Melonjak

Lonjakan permintaan layanan pengantaran makanan memang menjadi fenomena rutin selama Ramadan.

Banyak masyarakat memilih memesan makanan melalui aplikasi karena keterbatasan waktu untuk membeli langsung menjelang berbuka.

Situasi tersebut membuat layanan pengantaran makanan menjadi lebih ramai dibandingkan layanan transportasi penumpang.

Bagi para pengemudi ojek online, kondisi ini dianggap sebagai peluang untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar dalam waktu relatif singkat.

Peralihan pengambilan pesanan oleh pengemudi biasanya mulai terjadi pada sore hari hingga menjelang malam.

Pada periode tersebut, sebagian besar pengemudi lebih fokus menerima pesanan pengantaran makanan dibandingkan mengangkut penumpang.

“Biasanya penumpang yang udah paham bakal nunggu sampai sekitar jam 20.00. Soalnya di jam segitu driver biasanya udah balik lagi ke setelan normal,” jelas Bayu.

Warganet Keluhkan Sulit Dapat Driver

Fenomena yang disebut sebagai krisis ojol ini juga ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial seperti X dan Instagram.

Banyak pengguna mengunggah keluhan mereka mengenai sulitnya mendapatkan driver meskipun sudah mencoba memesan layanan transportasi beberapa kali.

Sebagian pengguna bahkan menyebut waktu tunggu penjemputan menjadi jauh lebih lama dibandingkan hari biasa.

Keluhan lainnya juga muncul terkait jarak penjemputan yang semakin jauh karena jumlah pengemudi yang aktif di sekitar lokasi pemesan semakin terbatas.

Menjelang perayaan Lebaran, kondisi ini diperkirakan dapat semakin terasa oleh masyarakat.

Hal tersebut disebabkan oleh kebiasaan sebagian pengemudi ojek online yang mulai mudik ke kampung halaman beberapa hari sebelum Hari Raya Idulfitri.

Berkurangnya jumlah pengemudi aktif di kota-kota besar otomatis akan memengaruhi ketersediaan layanan transportasi daring.

Selain itu, meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Lebaran juga turut mendorong lonjakan permintaan layanan transportasi maupun pengantaran barang dan makanan.

Kombinasi antara meningkatnya permintaan dan berkurangnya jumlah pengemudi berpotensi membuat waktu tunggu layanan menjadi lebih lama.

Biaya Operasional dan Kemacetan

Di sisi lain, sejumlah pengemudi ojek online juga menilai kondisi ini berkaitan dengan ketidakseimbangan antara pendapatan yang diterima dan biaya operasional yang harus mereka keluarkan.

Biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, serta waktu tempuh yang lebih lama akibat kemacetan menjadi faktor yang ikut memengaruhi keputusan pengemudi dalam memilih jenis pesanan.

Beberapa pengemudi bahkan memilih untuk tidak mengambil pesanan pada jam-jam tertentu atau melakukan off bid ketika kondisi lalu lintas sangat padat.

Mereka menilai perjalanan yang memakan waktu lama di tengah kemacetan sering kali tidak sebanding dengan tarif yang diberikan oleh aplikasi.

Situasi ini menunjukkan bahwa dinamika layanan transportasi daring selama Ramadan tidak hanya dipengaruhi oleh permintaan masyarakat.

Akan tetapi juga oleh pertimbangan ekonomi yang dihadapi para pengemudi dalam menentukan jenis layanan yang mereka pilih setiap harinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *