Harmoni Budaya di FIB UI: Singkawang Jadi Inspirasi Toleransi, Wawalkot Depok Soroti Semangat Persaudaraan
adainfo.id – Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah bersama mantan Wali Kota Singkawang menghadiri kegiatan bertema “Harmoni Budaya di Negeri Seribu Kelenteng” yang digelar di Auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada Selasa (03/03/2026).
Di tengah bulan suci Ramadan, gema budaya Tionghoa justru mengalun hangat, menyatukan keberagaman dalam satu ruang dialog kebudayaan.
Kegiatan yang diinisiasi FIB UI bersama komunitas Bakul Budaya menjadi panggung perjumpaan lintas etnis, agama, dan tradisi dalam satu semangat kebangsaan.
Sorotan utama dalam gelaran budaya tahun ini tertuju pada Singkawang, kota yang selama ini dikenal luas sebagai salah satu kota paling toleran di Indonesia.
Julukan “Negeri Seribu Kelenteng” bukan sekadar label wisata, melainkan refleksi panjang sejarah akulturasi budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Singkawang dinilai sebagai contoh nyata bagaimana harmoni lintas etnis dapat tumbuh secara organik.
Komunitas Tionghoa, Melayu, dan Dayak hidup berdampingan tanpa sekat sosial yang kaku.
Tradisi keagamaan dan budaya dirawat bersama dalam keseharian masyarakat.
Ketua Bakul Budaya, Dewi Fajar Marhaeni, menyebut momen berdekatan antara Cap Go Meh dan Ramadan selama dua tahun terakhir sebagai berkah persatuan.
“Inilah semangat Pancasila yang nyata. Umat Islam menjalankan puasa, sementara tradisi Cap Go Meh tetap dirayakan dengan penuh hormat. Harmoni bukan lagi sekadar wacana, tapi praktik hidup,” tutur Dewi.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana momentum budaya dan keagamaan dapat berjalan beriringan tanpa saling menegasikan.
Cap Go Meh dan Ramadan dalam Satu Harmoni
Perayaan Cap Go Meh yang menjadi penutup rangkaian Tahun Baru Imlek kerap identik dengan arak-arakan tatung, pertunjukan seni, dan ritual khas Tionghoa.
Namun ketika momentum itu beririsan dengan Ramadan, masyarakat Singkawang menunjukkan praktik toleransi yang matang.
Di satu sisi, umat Islam menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Di sisi lain, masyarakat Tionghoa tetap menjalankan tradisi mereka dengan penuh rasa hormat terhadap lingkungan sekitar.
Model harmoni inilah yang coba diangkat FIB UI sebagai bahan kajian sekaligus inspirasi nasional.
Dekan FIB UI, Untung Yuwono, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni budaya.
“FIB UI memiliki tanggung jawab untuk mengkaji dan menyebarkan model kemajemukan yang harmonis. Singkawang adalah contoh konkret yang kami teliti,” ungkap Untung.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam merawat narasi kebangsaan berbasis riset dan praktik sosial yang teruji.
Akulturasi Kuliner Lontong Cap Go Meh
Keseruan acara semakin terasa saat waktu berbuka puasa tiba.
Takjil yang disajikan bukan sekadar hidangan biasa, melainkan simbol akulturasi budaya yang telah melebur dalam sejarah panjang Nusantara.
Para tamu menikmati kue bingka, klepon, hingga cakwe khas Singkawang.
Namun satu kuliner yang menjadi bahan diskusi menarik adalah Lontong Cap Go Meh.
Dewi mengungkap temuan baru mengenai asal-usul hidangan tersebut.
Selama ini, banyak yang mengira Lontong Cap Go Meh merupakan kuliner murni Tionghoa.
Faktanya, hidangan tersebut merupakan produk “blasteran” budaya yang lahir dari kreativitas masyarakat Tionghoa pesisir Jawa, mulai dari Semarang hingga Jawa Timur.
Akulturasi ini menjadi bukti bahwa identitas budaya tidak bersifat kaku, melainkan terus bertransformasi mengikuti dinamika sosial masyarakat.
Peran Kampus dalam Merawat Kebhinekaan
Dalam konteks akademik, FIB UI memandang kemajemukan sebagai objek kajian sekaligus ruang pengabdian.
Kajian budaya tidak berhenti pada teori, tetapi harus menyentuh realitas sosial.
Ditekankan bahwa model toleransi Singkawang layak direplikasi di kota-kota lain di Indonesia.
Merawat kemajemukan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa, termasuk institusi pendidikan tinggi.
Melalui forum-forum budaya seperti ini, mahasiswa diajak memahami bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan kekayaan yang memperkaya identitas nasional.
Pesan Persatuan dari Wakil Wali Kota Depok
Dalam kesempatan tersebut, Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah, menyampaikan pesan persatuan yang kuat.
“Kita menunjukkan bahwa perbedaan dapat berjalan beriringan dalam semangat persaudaraan,” ucap Chandra.
Chandra mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum kebudayaan ini sebagai penguat komitmen menjaga kebhinekaan.
“Mari kita jadikan momentum ini sebagai penguat komitmen untuk menjaga persatuan, merawat kebhinekaan, dan memperat tali silaturahmi antar warga,” beber Chandra.
Menurut Chandra, harmoni budaya bukan sekadar simbol, melainkan fondasi sosial yang menentukan arah pembangunan daerah dan bangsa.
Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan visi pembangunan Kota Depok yang inklusif dan berorientasi masa depan.
“Semua ikhtiar ini kita arahkan untuk mewujudkan visi bersama Depok Maju, sekaligus berkontribusi dalam memperkuat pondasi persatuan bangsa Menuju Indonesia Emas 2045,” tutup Chandra.











