Indonesia – Thailand Perbarui MoU Ekonomi Kreatif, Perkuat Kolaborasi Digital dan SDM

AZL
Ilustrasi kerjasama industri ekonomi kreatif Indonesia - Thailand. (Foto: Unsplash/Florian Wehde)

adainfo.id – Hubungan ekonomi kreatif antara Indonesia dan Thailand memasuki babak baru setelah kedua negara menyepakati pembaruan kemitraan strategis guna menyesuaikan diri dengan dinamika industri global.

Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di Jakarta beberapa waktu lalu dan menandai komitmen bersama memperkuat posisi sektor kreatif di tingkat regional maupun internasional.

Pembaruan kerja sama ini menjadi respons atas perubahan lanskap industri kreatif yang semakin terdigitalisasi dan kompetitif.

Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) kerja sama industri kreatif yang sebelumnya ditandatangani pada 2019 dijadwalkan berakhir pada 2025.

Kedua negara sepakat memperbarui kesepakatan tersebut agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar serta perkembangan teknologi terkini.

MoU Baru Sesuaikan Dinamika Industri Global

Lingkup MoU terbaru akan mencakup pertukaran kebijakan strategis, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, serta optimalisasi pemanfaatan teknologi digital.

Pendekatan ini dinilai krusial untuk memperkuat daya saing sektor kreatif Indonesia dan Thailand di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Direktur Kajian dan Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif, Agus Syarip Hidayat, menyebut Thailand merupakan salah satu mitra utama Indonesia dalam pengembangan ekonomi kreatif, baik dari sisi perdagangan maupun kolaborasi program lintas sektor.

“Thailand merupakan salah satu tujuan utama ekspor produk ekonomi kreatif Indonesia. Hal ini menunjukkan besarnya potensi kerja sama kedua negara,” kata Agus dikutip, Senin (16/02/2026).

Ia menjelaskan, pembaruan kemitraan strategis diharapkan mampu memperkuat ekosistem kreatif melalui pendekatan kolaborasi hexahelix.

Model tersebut melibatkan unsur pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan lembaga pembiayaan sebagai pilar utama pengembangan industri kreatif berkelanjutan.

Menurut Agus, pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar inovasi tidak berhenti pada level kebijakan, tetapi mampu diterjemahkan menjadi produk dan layanan kreatif bernilai tambah tinggi.

Dengan sinergi lintas sektor, peluang penetrasi pasar regional dan global diyakini semakin terbuka.

Perdagangan Kreatif Capai USD 1,54 Miliar

Data yang diolah dari Badan Koordinasi Penanaman Modal menunjukkan nilai perdagangan sektor ekonomi kreatif antara Indonesia dan Thailand selama periode Januari–November 2025 mencapai 1,54 miliar dolar AS.

Angka tersebut mencakup produk kuliner, penerbitan, kriya, dan fesyen yang menjadi subsektor unggulan kedua negara.

Capaian perdagangan tersebut memperlihatkan besarnya potensi kolaborasi yang masih dapat ditingkatkan.

Dengan pembaruan MoU, kedua negara berupaya mendorong ekspansi pasar, diversifikasi produk kreatif, serta penguatan rantai nilai industri.

Thailand selama ini dikenal memiliki industri kreatif yang kuat di sektor film, animasi, dan kuliner halal.

Sementara Indonesia memiliki basis pasar domestik besar dengan potensi ekspor yang terus tumbuh, terutama di bidang fesyen muslim, kriya berbasis budaya, serta produk kuliner berbahan lokal.

Sinergi kedua negara diproyeksikan mampu menciptakan ekosistem regional yang lebih kompetitif di kawasan Asia Tenggara.

Selain meningkatkan perdagangan bilateral, kerja sama ini juga diharapkan membuka peluang investasi baru di sektor kreatif berbasis digital.

Penguatan SDM dan Transformasi Digital

Pembaruan MoU tidak hanya berfokus pada peningkatan nilai perdagangan, tetapi juga pada pengembangan kapasitas sumber daya manusia.

Transformasi digital menjadi salah satu fokus utama, mengingat industri kreatif saat ini sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi.

Mulai dari distribusi konten digital hingga pemanfaatan kecerdasan buatan dalam produksi kreatif.

Pertukaran kebijakan dan pengalaman antarnegara akan menjadi bagian penting dalam mempercepat adaptasi terhadap perubahan industri.

Dengan berbagi praktik terbaik, Indonesia dan Thailand dapat mempercepat proses transformasi dan meningkatkan kualitas talenta kreatif.

Kolaborasi di bidang teknologi juga membuka ruang bagi pengembangan industri gim, animasi, serta platform digital yang semakin diminati generasi muda.

Inovasi berbasis digital dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif secara inklusif dan berkelanjutan.

Dukungan Thailand untuk Kemitraan yang Lebih Aktif

Dari pihak Thailand, Deputy Chief of Mission Kedutaan Besar Kerajaan Thailand di Jakarta, Hathaichanok Frumau, menegaskan bahwa sektor ekonomi kreatif merupakan pilar penting pertumbuhan ekonomi negaranya.

“Ekonomi kreatif merupakan sektor penting bagi pertumbuhan ekonomi kami. Untuk mencapai kemitraan strategis yang lebih kuat, kerja sama antara Thailand dan Indonesia perlu diperbarui dan diaktifkan kembali sesuai perkembangan industri saat ini,” ujarnya.

Ia menilai pembaruan kerja sama akan memberikan kerangka yang lebih adaptif terhadap perubahan global.

Dengan dinamika industri yang bergerak cepat, pembaruan MoU dianggap sebagai langkah strategis untuk memastikan kolaborasi tetap produktif dan relevan.

Pertemuan bilateral tersebut juga membahas sejumlah peluang kolaborasi konkret.

Indonesia berencana berpartisipasi dalam ajang Grand Halal Bangkok sebagai bagian dari promosi produk kreatif halal.

Selain itu, kedua negara menjajaki rencana penyelenggaraan festival film Thailand–Indonesia guna memperluas pasar perfilman dan memperkuat pertukaran budaya.

Kerja sama industri gim melalui pameran regional turut menjadi agenda pembahasan.

Industri gim dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara kolaboratif, mengingat tingginya penetrasi internet dan populasi generasi muda di kedua negara.

Penguatan Jejaring Global Ekonomi Kreatif

Indonesia juga mengundang Thailand untuk berpartisipasi dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) tahun ini.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah penguatan jejaring global serta pertukaran gagasan antarnegara dalam mengembangkan sektor kreatif.

Partisipasi dalam forum internasional dinilai penting untuk memperluas akses pasar dan memperkuat posisi kedua negara dalam peta ekonomi kreatif dunia.

Dengan jejaring yang lebih luas, peluang kolaborasi lintas kawasan akan semakin terbuka.

Kemitraan ekonomi kreatif Indonesia–Thailand mencerminkan arah baru diplomasi ekonomi yang berbasis inovasi dan kolaborasi.

Di tengah tantangan global, sektor kreatif dipandang sebagai motor pertumbuhan baru yang tidak hanya menghasilkan devisa.

Akan tetapi juga memperkuat identitas budaya dan daya saing nasional di panggung internasional.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *