Industri Film Indonesia Tumbuh Pesat, Jakarta Perkuat Posisi sebagai Kota Sinema

AZL
Ilustrasi Jakarta akan menjadi kota sinema ditengah pesatnya pertumbuhan industri film nasional. (Foto: Kesu01/Getty Images)

adainfo.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperkuat langkah strategis dalam pengembangan industri film nasional dengan menyiapkan berbagai dukungan kebijakan.

Termasuk insentif fiskal dan pembentukan Jakarta Film Commission guna mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif.

Kebijakan tersebut disampaikan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, saat menghadiri Jakarta Youth Film Festival 2026 di Auditorium Perpustakaan Nasional dalam rangka memperingati Hari Film Nasional.

Momentum ini sekaligus menjadi penegasan posisi Jakarta sebagai pusat pertumbuhan industri perfilman.

Rano Karno menegaskan bahwa industri film merupakan salah satu subsektor unggulan dalam ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Ia menyebut sektor ini tidak hanya menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga berperan dalam memperkuat identitas budaya bangsa.

Menurutnya, industri perfilman memiliki karakter unik karena berbasis pada kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang bernilai tinggi dan berkelanjutan.

Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa sektor film perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah maupun pelaku industri keuangan.

“Selama puluhan tahun saya berkecimpung di dunia film, belum ada perbankan yang secara serius membiayai industri ini karena dianggap berisiko tinggi. Padahal, kekuatan utama industri kreatif adalah kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) yang memiliki nilai sangat besar,” ungkapnya dikutip Jumat (03/04/2026).

Rano juga menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam melihat industri film, dari yang sebelumnya dianggap berisiko tinggi menjadi sektor strategis yang mampu memberikan dampak ekonomi luas.

Data Penonton Tunjukkan Dominasi Film Nasional

Berdasarkan data tahun 2024, jumlah penonton film di Indonesia mencapai 122 juta orang, dengan sekitar 85 persen di antaranya merupakan penonton film Indonesia.

Angka tersebut menunjukkan bahwa film nasional telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan memiliki daya tarik yang kuat di pasar domestik.

Capaian ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat industri film, khususnya di Jakarta sebagai pusat produksi dan distribusi.

Tingginya minat masyarakat terhadap film lokal juga menjadi indikator bahwa industri ini memiliki prospek yang cerah untuk terus berkembang.

Rano menilai bahwa keberhasilan tersebut harus diikuti dengan kebijakan yang mendukung ekosistem perfilman secara menyeluruh, mulai dari produksi, distribusi, hingga pembiayaan.

Selain itu, perkembangan teknologi digital dan platform streaming turut membuka peluang baru bagi sineas Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun internasional.

Insentif Rp84 Miliar dan Jakarta Film Commission

Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan dana insentif pajak tontonan sebesar Rp84 miliar yang akan dikembalikan kepada para produser film.

Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan jumlah produksi film di Jakarta.

“Kami masih memiliki dana insentif pajak tontonan sekitar Rp84 miliar yang akan dikembalikan kepada produser untuk mendorong produksi film. Kami ingin menjadikan Jakarta sebagai kota sinema. Dengan dukungan fiskal yang ada, saya yakin hal tersebut dapat terwujud,” jelasnya.

Selain insentif fiskal, pemerintah juga tengah merancang pembentukan Jakarta Film Commission yang akan berfungsi sebagai lembaga pendukung bagi industri perfilman.

Lembaga ini nantinya diharapkan mampu mempermudah perizinan, memberikan fasilitasi produksi, serta menarik investasi di sektor film.

Langkah ini dinilai penting untuk menciptakan ekosistem industri yang lebih kondusif dan kompetiti.

Sehingga Jakarta dapat bersaing dengan kota-kota lain di tingkat regional maupun global dalam industri perfilman.

Kolaborasi Lintas Sektor Perkuat Ekosistem Perfilman

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta, Iwan Setiawan, menyampaikan bahwa Jakarta Youth Film Festival 2026 merupakan bentuk nyata sinergi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem perfilman nasional.

Ia menekankan bahwa industri film memiliki efek berganda atau multiplier effect yang mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi lainnya, seperti pariwisata, kuliner, transportasi, hingga fesyen.

“Industri film memiliki multiplier effect yang besar karena mampu menggerakkan berbagai sektor, seperti pariwisata, kuliner, transportasi, hingga fesyen. Kegiatan ini juga menghadirkan pemutaran film pendek dan talk show bersama insan perfilman nasional, seperti Riri Riza dan Prilly Latuconsina,” ujarnya.

Kegiatan Jakarta Youth Film Festival 2026 juga melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama dalam industri kreatif.

Melalui pemutaran film pendek dan diskusi bersama sineas nasional, acara ini menjadi ruang edukasi sekaligus inspirasi bagi talenta baru di dunia perfilman.

Kolaborasi antara pemerintah, sektor keuangan, dan pelaku industri kreatif dinilai menjadi kunci dalam membangun ekosistem perfilman yang berkelanjutan.

Dengan dukungan tersebut, Jakarta diharapkan mampu berkembang sebagai kota sinema yang tidak hanya menghasilkan karya berkualitas.

Akan tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif nasional..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *