Jakarta Penuh Warna 2026 Tampilkan Harmoni Budaya Imlek dan Nusantara

ARY
Ilustrasi Jakarta Penuh Warna (JPW) 2026 di Bundaran HI hadirkan parade budaya Imlek dan semangat Piala Dunia. (Foto: Unsplash/Donny Haryadi)

adainfo.id – Ruang publik Jakarta kembali menjadi titik temu ekspresi budaya dan semangat kebersamaan melalui gelaran Jakarta Penuh Warna (JPW) 2026 Edisi 1 yang berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, Minggu (08/02/2026).

Acara ini menghadirkan perpaduan budaya Nusantara dan Tionghoa dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek.

Sekaligus menyemarakkan antusiasme masyarakat menjelang perhelatan Piala Dunia 2026.

Kehadiran Wakil Gubernur Provinsi DKI Jakarta Rano Karno menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjadikan ruang kota sebagai medium interaksi sosial, seni, dan olahraga.

Bundaran HI yang selama ini dikenal sebagai ikon Jakarta disulap menjadi panggung terbuka bagi keberagaman, melibatkan seniman, komunitas budaya, hingga generasi muda dari berbagai latar belakang.

JPW 2026 Edisi 1 sendiri menampilkan atraksi seni budaya yang merepresentasikan keberagaman Jakarta.

Unsur budaya Nusantara berpadu harmonis dengan nuansa Tionghoa, menciptakan suasana perayaan Imlek yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Kostum tradisional, tarian etnik, hingga ornamen khas Imlek menjadi bagian dari visual yang menghiasi kawasan Bundaran HI.

Acara semakin meriah dengan penampilan marching band Jakarta Drum Corps yang mengiringi parade budaya.

Dentuman ritme musik berpadu dengan langkah para peserta parade, menciptakan atmosfer perayaan yang hidup dan menarik perhatian warga serta wisatawan yang melintas di pusat kota.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyampaikan jika kegiatan ini tidak hanya menjadi perayaan seremonial.

Akan tetapi juga bagian dari upaya memperkuat identitas Jakarta sebagai kota multikultural yang menjunjung tinggi toleransi dan persatuan.

Rano Karno Soroti Lomba Lampion Sambut Imlek

Dalam kesempatan tersebut, Rano menyampaikan bahwa suasana Imlek di Jakarta tidak hanya dirasakan pada hari pelaksanaan JPW.

Rano mengungkapkan rencana penataan visual kota yang akan mencapai puncaknya pada 13 Februari 2026.

Ia mengatakan, kawasan Bundaran HI dan sekitarnya akan tampil berbeda pada 13 Februari 2026 mendatang.

Seluruh gedung di sekitar lokasi kegiatan akan mengikuti lomba lampion dengan menghias bangunan bertema Imlek.

Sehingga menghadirkan suasana perayaan yang meriah dan inklusif di jantung kota.

Langkah ini diharapkan mampu memperkuat daya tarik Jakarta sebagai destinasi wisata urban, sekaligus memberi ruang partisipasi bagi sektor swasta dan pengelola gedung untuk terlibat dalam perayaan budaya.

Selain nuansa Imlek, tema Piala Dunia 2026 menjadi sorotan utama dalam JPW 2026 Edisi 1.

Rano menilai momentum ini penting untuk menyalurkan antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap olahraga sepak bola.

Kehadiran anak-anak dari Sekolah Sepak Bola (SSB) se-Jakarta menjadi simbol harapan bagi masa depan sepak bola nasional.

Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga sebagai representasi semangat sportivitas dan disiplin.

“Di sini juga hadir ada anak-anak dari SSB nih, jadi tema kita hari ini selain menyambut Imlek juga menyambut Piala Dunia yang akan dilaksanakan pada bulan Juni dan Juli makanya kita libatkan anak-anak sepak bola dari seluruh Jakarta,” terang Rano dikutip Minggu (08/02/2026).

Pelibatan anak-anak SSB dinilai sejalan dengan upaya pemerintah daerah dalam mendorong gaya hidup sehat, memperkuat karakter generasi muda, serta menanamkan rasa cinta terhadap olahraga sejak dini.

Aksi Bersih Kota Jadi Bagian dari Perayaan

JPW 2026 tidak hanya mengedepankan kemeriahan, tetapi juga membawa pesan kepedulian lingkungan.

Rano menjelaskan bahwa anak-anak SSB yang terlibat dalam acara dibekali kantong sampah untuk membersihkan area sekitar lokasi kegiatan setelah acara selesai.

Anak-anak SSB yang terlibat dalam acara akan dibekali kantong sampah untuk membersihkan area sekitar lokasi kegiatan setelah acara selesai.

Sampah yang terkumpul nantinya akan diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup.

“Apalagi kalau warga lain mau ikutan boleh banget itu, senang hati kita,” beber Rano.

Aksi tersebut menjadi simbol edukasi lingkungan yang ditanamkan sejak dini, sekaligus ajakan terbuka kepada masyarakat yang hadir di kawasan Car Free Day untuk ikut berpartisipasi menjaga kebersihan kota.

Lebih lanjut, Rano mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga Jakarta dari berbagai aspek, mulai dari kebersihan, keamanan, kenyamanan, hingga keindahan kota.

Ia menegaskan bahwa JPW 2026 bertepatan dengan pelaksanaan gerakan “Jaga Jakarta Bersih” yang digelar serentak pada hari yang sama.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari dukungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap Gerakan Indonesia Asri (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) yang merupakan amanah Presiden Prabowo Subianto.

“Kita sudah berusaha untuk meningkatkan itu tapi tentunya pemerintah akan sulit berbuat kalau masyarakat tidak terlibat, minimal tidak buang sampah sembarang dan taruh sampah di tempat yang sudah ditentukan. Itu saja sudah sangat membantu. Jadi memang kita sendiri yang harus merawat kota yang cintai ini,” beber Rano.

Pesan ini menegaskan bahwa keberhasilan penataan kota tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif warga dalam menjaga ruang publik.

JPW sebagai Ruang Promosi Keragaman dan Toleransi

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Mochamad Miftahulloh Tamary, menilai Jakarta Penuh Warna merupakan platform strategis untuk mempromosikan keragaman kehidupan masyarakat Jakarta sebagai aset berharga.

Ia menyampaikan bahwa JPW dirancang sebagai ruang kolaborasi lintas komunitas, lintas profesi, dan lintas latar belakang, yang mencerminkan dinamika sosial Jakarta.

“Melalui kolaborasi pertunjukan seni budaya dengan berbagai kelompok masyarakat lintas profesi dan latar belakang, JPW bertujuan merayakan keberagaman budaya, sosial, dan etnis, menggerakkan kehidupan warga dari aspek ekonomi, sosial, dan olahraga, serta memperkuat toleransi, persatuan, dan kesatuan, khususnya di tengah masyarakat Jakarta,” tutur Miftahulloh.

Menurut Disbud DKI Jakarta, kegiatan seperti JPW juga memiliki dampak ekonomi, terutama bagi pelaku seni, UMKM kreatif, dan sektor pariwisata kota.

Ruang publik yang hidup dinilai mampu menciptakan perputaran ekonomi sekaligus memperkuat kohesi sosial.

Pemilihan Bundaran HI sebagai lokasi JPW 2026 Edisi 1 dinilai strategis karena kawasan tersebut merupakan simbol ruang publik Jakarta yang terbuka dan inklusif.

Dengan latar gedung-gedung ikonik dan arus mobilitas warga, pesan keberagaman, kebersihan, dan kebersamaan disampaikan secara langsung kepada masyarakat luas.

Melalui JPW 2026, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menegaskan arah pembangunan kota yang tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik.

Akan tetapi juga pada penguatan nilai sosial, budaya, dan partisipasi warga dalam merawat Jakarta sebagai rumah bersama.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *