Jelang Penentuan Awal Ramadan, BMKG Sampaikan Posisi Hilal Masih di Bawah Ufuk

AZL
Ilustasi penentuan awal Ramadan masih dilakukan pemerintah. BMKG menyampaikan posisi hilal sore ini masih di bawah ufuk. (Foto: Pixabay/Print On Demand)

adainfo.id – Penentuan awal Ramadan juga dipantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika dengan melakukan pemantauan hilal serentak di berbagai wilayah Indonesia pada Selasa (17/02/2026).

Pengamatan ini menjadi bagian penting dalam proses rukyatul hilal yang akan menentukan jatuhnya 1 Ramadan 1447 H atau 2026 Masehi.

BMKG menyiapkan tim di 37 lokasi yang tersebar dari barat hingga timur Indonesia.

Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan data astronomi yang diperoleh akurat dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan.

Pemantauan hilal dilakukan saat matahari terbenam. Para petugas menggunakan peralatan optik dan sistem pencitraan modern untuk mendeteksi kemungkinan terlihatnya bulan sabit muda di ufuk barat.

Data Hisab: Hilal Masih di Bawah Ufuk

Berdasarkan hasil perhitungan hisab yang dirilis BMKG, posisi hilal pada 17 Februari 2026 masih berada di bawah ufuk atau bernilai minus.

Secara astronomi, kondisi ini membuat peluang keterlihatan hilal sangat kecil.

Data menunjukkan bahwa saat matahari terbenam, posisi hilal berada pada kisaran minus, sehingga secara teknis hampir tidak mungkin teramati.

Perhitungan tersebut merujuk pada parameter ketinggian hilal dan elongasi atau jarak sudut antara matahari dan bulan.

BMKG memprediksi bahwa hilal baru akan memenuhi kriteria visibilitas pada 18 Februari 2026.

Pada tanggal tersebut, ketinggian hilal diperkirakan mencapai 7,62 derajat hingga 10,03 derajat.

Nilai elongasi juga telah melampaui ambang batas yang dipersyaratkan dalam kriteria visibilitas.

“Meskipun begitu, keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama,” tulis BMKG dikutip dalam keterangan resminya, Selasa (17/02/2026).

BMKG menegaskan bahwa hasil pengamatan dan data hisab yang dikumpulkan akan diserahkan sebagai bahan pertimbangan dalam forum resmi penentuan awal Ramadan.

Siaran Daring Pemantauan Hilal

Dalam rangka transparansi dan edukasi publik, BMKG membuka akses siaran langsung pemantauan hilal melalui laman resmi hilal.bmkg.go.id.

Masyarakat dapat menyaksikan proses rukyatul hilal secara daring dari berbagai titik pengamatan.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk keterbukaan informasi sekaligus upaya meningkatkan literasi astronomi di tengah masyarakat.

Dengan siaran langsung tersebut, publik dapat melihat secara langsung bagaimana proses pengamatan hilal dilakukan oleh tim ahli.

Selain melakukan pemantauan, BMKG juga mengajak masyarakat untuk mempersiapkan diri menyambut bulan puasa.

“Mari kita siapkan diri dengan hati yang bersih untuk menyambut bulan penuh keberkahan ini. Semoga persiapan ibadah kita semua diberikan kelancaran,” tulis pernyataan tersebut.

Sidang Isbat dan Kriteria MABIMS

Sementara itu, Kementerian Agama juga melakukan pemantauan hilal di 96 titik lokasi strategis di berbagai daerah.

Hasil rukyat dan data hisab dari berbagai instansi akan dibahas dalam sidang isbat yang dipusatkan di Hotel Borobudur Jakarta.

Sidang isbat menjadi forum resmi untuk menetapkan awal Ramadan.

Dalam prosesnya, pemerintah mempertimbangkan dua pendekatan, yakni rukyat atau observasi langsung serta hisab atau perhitungan astronomi.

Penentuan awal Ramadan mengacu pada kriteria visibilitas hilal atau imkanur rukyat yang disepakati negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

Jika parameter tersebut terpenuhi dan hilal berhasil dirukyat, maka awal bulan Hijriah dapat ditetapkan.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa kriteria tersebut berbasis pendekatan empiris dan data astronomi terkini.

“Kalau kita lihat perhitungan teknologi saat ini, wujud hilal (saat terbenam matahari di Indonesia) masih dalam posisi minus 2 derajat 24 menit 42 detik hingga 0 derajat 58 menit 47 detik. Jadi hampir mustahil bisa dirukyat,” ujar Nasaruddin.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa secara perhitungan, peluang terlihatnya hilal pada 17 Februari 2026 sangat tipis.

Faktor Cuaca dan Tantangan Rukyat

Selain posisi hilal, faktor cuaca juga menjadi penentu keberhasilan rukyatul hilal.

Kondisi mendung atau hujan dapat menghalangi pandangan meskipun secara astronomi hilal telah memenuhi kriteria visibilitas.

Ia menambahkan, tantangan rukyat tidak hanya soal posisi hilal, tetapi juga faktor cuaca.

“Bisa saja hari ini mendung, atau ketinggian hilal dan sudut elongasinya rendah. Semua itu kita pertimbangkan secara cermat,” pungkas Nasaruddin.

Dengan mempertimbangkan data hisab, hasil rukyat, serta faktor meteorologis, sidang isbat akan mengambil keputusan final mengenai kapan umat Islam di Indonesia memulai ibadah puasa Ramadan 1447 Hijriah.

Pemantauan hilal 1 Ramadan 1447 H yang dilakukan BMKG dan Kementerian Agama menjadi bagian dari proses panjang penetapan kalender Hijriah nasional.

Data astronomi, observasi lapangan, serta pertimbangan keagamaan dipadukan dalam satu forum resmi untuk memastikan kepastian awal bulan suci Ramadan 2026.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *