Jelang Ramadan, Peziarah Silih Berganti Datangi Pemakaman di Tanah Baru Depok
adainfo.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, area pemakaman di kawasan Tanah Baru, Kecamatan Beji, Kota Depok, dipadati warga yang berziarah untuk mendoakan keluarga yang telah berpulang.
Sejak pagi hari, arus peziarah terus berdatangan membawa bunga tabur dan air untuk disiramkan ke atas pusara.
Kepadatan peziarah terlihat meningkat dibandingkan hari-hari biasa.
Kendaraan roda dua dan roda empat terparkir di sepanjang akses menuju pemakaman.
Warga datang secara bergantian, sebagian besar bersama anggota keluarga.
Di antara deretan nisan yang tertata rapi, para peziarah duduk bersimpuh sambil memanjatkan doa.
Ada yang membaca ayat suci Al-Qur’an dengan suara pelan, ada pula yang hanya menundukkan kepala dalam keheningan.
Suasana khidmat menyelimuti kawasan pemakaman sejak pagi hingga menjelang sore.
Tradisi Turun-Temurun Sambut Ramadan
Ziarah makam menjelang Ramadan telah lama menjadi tradisi yang melekat di tengah masyarakat Muslim.
Momentum ini dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada keluarga yang telah wafat sekaligus persiapan rohani sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Seorang peziarah, Nurhasanah (55), mengatakan ziarah menjelang Ramadan telah menjadi tradisi keluarga.
“Ya ini sudah menjadi tradisi di keluarga, sebelum masuk bulam Ramadan ya ziarah makam dulu sambil mendoakan keluarga,” ujar Nurhasanah, Selasa (17/2/2026).
Nurhasanah berziarah ke makam almarhum suami dan ayahnya. Ia datang bersama keluarga lain yang sedang libur sehingga dapat berkumpul dalam satu waktu.
“Iya ini mendoakan suami dan orang tua. Bareng sama keluarga juga yang lagi libur, jadi baru bisa ziarah hari ini,” tutur Nurhasanah.
Menurut Nurhasanah, ziarah kubur bukan hanya sekadar rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga.
Di sela-sela doa, mereka mengenang kembali sosok yang telah tiada dan berbagi cerita tentang kenangan masa lalu.
Tradisi ini juga menjadi sarana introspeksi diri. Duduk di samping makam orang tercinta menghadirkan kesadaran akan keterbatasan hidup manusia.
Peziarah Datang Silih Berganti
Sepanjang hari, peziarah datang silih berganti. Tidak hanya warga sekitar Tanah Baru, beberapa di antaranya berasal dari wilayah lain.
Peningkatan jumlah kunjungan terlihat jelas dalam beberapa hari terakhir menjelang Ramadan.
Para peziarah umumnya membawa bunga tabur dalam kantong plastik kecil serta botol air untuk disiramkan ke makam.
Sebagian membersihkan pusara terlebih dahulu sebelum menaburkan bunga dan berdoa.
Di beberapa sudut pemakaman, keluarga terlihat datang berombongan. Orang tua, anak, hingga remaja duduk berdampingan di sisi makam.
Anak-anak yang ikut serta diarahkan untuk bersikap tenang dan menghormati suasana.
Hal yang sama disampaikan oleh peziarah lainnya, Fathi (17). Ia mengatakan ziarah makam menjelang Ramadan merupakan tradisi tahunan dan tanda pengingat.
“Ini memang tradisi tahunan ya, kita datang ziarah untuk mendoakan arwah orang tua maupun keluarga yang sudah berpulang,” tutur Fathi.
Ia mengaku selalu menyempatkan diri untuk datang bersama keluarga menjelang Ramadan.
Ruang Refleksi di Tengah Kota
Di tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan, pemakaman menjadi ruang refleksi yang menghadirkan keheningan.
Aktivitas ziarah kubur menjelang Ramadan menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual tetap kuat di tengah dinamika urban.
Banyak warga yang memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki diri sebelum memasuki bulan puasa.
Ziarah dianggap sebagai langkah awal untuk menyucikan hati, memohon ampunan bagi keluarga yang telah wafat, sekaligus mendoakan diri sendiri agar diberi kekuatan menjalani ibadah Ramadan.
Warga saling memberi ruang dan menjaga sopan santun selama berada di area makam.
Beberapa pedagang bunga musiman terlihat di sekitar pintu masuk pemakaman.
Kehadiran mereka menjadi bagian dari dinamika tahunan menjelang Ramadan.
Warga membeli bunga sebelum memasuki area pemakaman, lalu berjalan perlahan menyusuri jalan setapak di antara pusara.
Momentum Kebersamaan Keluarga
Ziarah makam jelang Ramadan juga menjadi momen berkumpulnya keluarga besar.
Kesibukan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari seringkali membuat anggota keluarga sulit bertemu.
Momentum menjelang Ramadan dimanfaatkan untuk berkumpul sekaligus berdoa bersama.
Sebagian keluarga memilih datang pada hari libur agar seluruh anggota dapat hadir.
Mereka datang dalam satu kendaraan, membawa perlengkapan sederhana, lalu duduk bersama di sisi makam.
Interaksi yang terjalin di area pemakaman tidak hanya berupa doa, tetapi juga percakapan ringan tentang kenangan masa lalu.
Tradisi ini tetap bertahan meski kehidupan modern semakin dinamis. Di tengah perkembangan kota yang pesat, praktik ziarah kubur menjelang Ramadan menjadi bagian dari identitas sosial dan keagamaan masyarakat.
Aktivitas ini menjadi gambaran kuatnya tradisi ziarah makam jelang Ramadan di Depok, yang terus diwariskan lintas generasi sebagai bentuk penghormatan, doa, dan pengingat akan hakikat kehidupan.











