Jeritan Pedagang Tahu Walik di Depok, Harga Bahan Pokok Naik Bikin Omzet Turun

AZL
Pedagang tahu walik di Kota Depok keluhkan harga bahan pokok yang naik usai Lebaran. (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kenaikan harga bahan pokok usai Lebaran dirasakan langsung oleh pedagang tahu walik di Kota Depok yang kini harus menghadapi penurunan omzet akibat biaya produksi yang semakin tinggi.

Camilan goreng berbahan dasar tahu yang selama ini digemari masyarakat karena teksturnya yang renyah dan rasa gurih tersebut kini ikut terdampak lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok.

Kondisi ini memaksa pedagang untuk menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya.

Kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan utama bagi pedagang tahu walik.

Mulai dari tahu sebagai bahan utama, minyak goreng, hingga plastik kemasan mengalami lonjakan harga dalam waktu singkat setelah Lebaran.

Fajar, salah satu pedagang tahu walik di kawasan Jalan Babakan Bedahan, Sawangan, mengaku harus menghadapi kenaikan harga yang cukup signifikan.

“Semua bahan pokok pada naik, mulai dari tahu yang tadinya satu papan cuma Rp45 ribu sekarang udah sampai Rp48 ribu. Minyak goreng juga drastis naiknya,” ungkapnya saat ditemui di lokasi, Minggu (05/04/2026).

Kondisi ini membuat biaya produksi meningkat secara keseluruhan. Tidak hanya bahan utama, kebutuhan tambahan seperti kemasan juga ikut mengalami kenaikan yang tidak kalah tinggi.

Biaya Produksi Membengkak, Terpaksa Naikkan Harga

Lonjakan harga bahan baku membuat pedagang tidak memiliki banyak pilihan selain menyesuaikan harga jual.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah kenaikan biaya yang tidak bisa dihindari.

Fajar juga menyoroti kenaikan harga plastik kemasan yang menjadi bagian penting dalam penjualan.

“Harga plastik aja tadi saya beli plastik kecil yang buat saus, harganya aja udah Rp8 ribu naik dibanding biasanya yang cuma Rp5 ribu,” tambahnya.

Kenaikan biaya produksi yang terjadi secara bersamaan membuat margin keuntungan semakin tertekan.

Jika harga jual tidak dinaikkan, pedagang berisiko mengalami kerugian.

Namun di sisi lain, kenaikan harga justru berdampak pada menurunnya minat pembeli.

Daya Beli Konsumen Menurun, Penjualan Ikut Terdampak

Penyesuaian harga jual ternyata membawa konsekuensi tersendiri. Konsumen yang sebelumnya rutin membeli tahu walik kini mulai mengurangi pembelian karena harga yang dinilai lebih mahal.

Perubahan perilaku konsumen ini berdampak langsung pada volume penjualan harian.

Pedagang yang biasanya mengandalkan penjualan malam hari kini harus menghadapi penurunan jumlah pembeli.

Situasi ini menciptakan dilema bagi pedagang. Di satu sisi, mereka harus menaikkan harga untuk menutup biaya produksi. Di sisi lain, kenaikan harga justru membuat jumlah pembeli berkurang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih menjadi faktor utama dalam menentukan stabilitas usaha kecil, terutama yang bergerak di sektor kuliner kaki lima.

Dampak paling nyata dari kondisi ini adalah penurunan omzet harian. Fajar mengaku pendapatannya mengalami penurunan signifikan dibandingkan sebelum kenaikan harga bahan baku.

“Setelah harga bahan baku pada naik, pendapatan jadi sekitar Rp200 ribu per hari,” bebernya.

Sebelumnya, ia dapat meraih keuntungan antara Rp300 ribu hingga Rp400 ribu per hari. Penurunan ini terjadi seiring berkurangnya jumlah pembelian dari konsumen.

Selain itu, pedagang juga harus menyesuaikan jumlah produksi untuk menghindari kerugian.

Produksi yang terlalu banyak berisiko tidak habis terjual, sementara produk yang sudah digoreng tidak dapat disimpan dalam waktu lama.

Kondisi ini membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam mengatur strategi produksi dan penjualan setiap harinya.

Harapan Pedagang terhadap Stabilitas Harga dan Dukungan Pemerintah

Di tengah kondisi yang tidak menentu, pedagang berharap adanya stabilitas harga bahan pokok agar usaha kecil tetap dapat bertahan.

Fluktuasi harga dinilai sangat mempengaruhi keberlangsungan usaha karena seluruh biaya produksi ditanggung secara mandiri.

Pedagang juga berharap adanya perhatian lebih terhadap pelaku usaha mikro yang bergantung pada penjualan harian.

Kenaikan harga bahan pokok tidak hanya berdampak pada keuntungan, tetapi juga pada keberlanjutan usaha.

Jika kondisi ini terus berlanjut, tidak menutup kemungkinan pedagang harus mengurangi produksi bahkan menghentikan usaha sementara.

Stabilitas harga menjadi faktor penting untuk menjaga keseimbangan antara biaya produksi dan daya beli masyarakat.

Dengan harga yang lebih terkendali, pedagang optimistis jumlah pembeli dapat kembali meningkat dan usaha dapat berjalan normal seperti sebelumnya.

Di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan pelaku usaha kecil, keberlanjutan bisnis kuliner sederhana seperti tahu walik menjadi cerminan kondisi ekonomi masyarakat secara luas.

Terutama di sektor informal yang sangat bergantung pada stabilitas harga kebutuhan pokok.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *