Kasus Akseyna UI Masih Misteri, Memorial Jadi Ruang Refleksi

ARY
Mahasiswa UI mengikuti memorial Akseyna Ahad Dori, Kamis (02/04/26). (Foto: Istimewa)

adainfo.id – Sebelas tahun setelah meninggalnya Akseyna Ahad Dori, Universitas Indonesia (UI) menggelar kegiatan memorial di Taman Lingkar Perpustakaan UI, Kota Depok sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat atas kasus yang hingga kini belum menemukan kejelasan hukum.

Kegiatan bertajuk “Satu Hati untuk Akseyna: Merawat Ingatan, Menjaga Harapan” tersebut berlangsung pada Kamis (02/04/2026) dan dihadiri oleh pimpinan universitas, dosen, mahasiswa, serta berbagai elemen sivitas akademika.

Kegiatan memorial ini menjadi ruang refleksi bersama yang sederhana namun sarat makna.

Tanpa kemegahan atau seremoni berlebihan, suasana yang dihadirkan justru dipenuhi keheningan, doa, dan rasa empati yang mendalam.

Peserta yang hadir duduk berdampingan tanpa sekat, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.

Tidak ada jarak antara pimpinan kampus dan mahasiswa, semuanya larut dalam satu tujuan yang sama, yaitu mengenang sosok Akseyna dan merawat ingatan kolektif.

Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara pihak rektorat dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia.

Kolaborasi tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan di lingkungan kampus.

Ingatan tentang Akseyna dihidupkan kembali melalui doa bersama serta berbagai ungkapan yang mengalir dari para peserta.

Narasi yang muncul tidak hanya tentang kehilangan, tetapi juga harapan dan komitmen untuk terus mengingat.

Tekankan Nilai Kemanusiaan dan Kepedulian

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa dan Alumni UI, Prof. Hamdi Muluk, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan juga menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi bersama.

“Kita hadir bukan hanya untuk mengingat, melainkan juga untuk menjaga. Ingatan tentang Akseyna adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya kepedulian, kebersamaan, dan keadilan yang terus diupayakan,” ujar Prof. Hamdi dalam keterangannya dikutip Jumat (03/04/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa memorial ini memiliki dimensi yang lebih luas, yaitu sebagai pengingat moral bagi seluruh sivitas akademika untuk terus menjunjung nilai empati dan solidaritas.

Momentum ini juga menjadi refleksi bahwa sebuah peristiwa tidak hanya berhenti pada waktu kejadiannya, tetapi dapat terus hidup dalam kesadaran kolektif sebagai pelajaran bersama.

Selain sebagai ruang refleksi, kegiatan ini juga menjadi momentum bagi UI untuk menegaskan kembali komitmennya dalam mendukung proses penegakan hukum yang masih berlangsung.

Pihak kampus menyatakan akan tetap menghormati kewenangan aparat penegak hukum sekaligus bersikap terbuka dan kooperatif dalam setiap proses yang berjalan.

Sikap ini diharapkan dapat membantu mengungkap kebenaran di balik kasus yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Kasus Akseyna Ahad Dori hingga kini masih menjadi perhatian publik karena belum menemukan titik terang.

Keluarga korban terus menantikan kejelasan dan keadilan atas peristiwa yang terjadi pada 2015 silam.

Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, diharapkan proses hukum dapat berjalan secara transparan dan akuntabel.

Ingatan yang Terus Hidup di Lingkungan Kampus

Merawat ingatan tentang Akseyna tidak hanya dimaknai sebagai mengenang masa lalu, tetapi juga sebagai upaya menghadirkan warisan nilai yang hidup di lingkungan kampus.

Semangat belajar, kepedulian terhadap sesama, serta komitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan manusiawi menjadi bagian dari nilai yang terus dijaga.

Kegiatan memorial ini menunjukkan bahwa duka yang pernah terjadi tidak serta-merta hilang, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan untuk saling menguatkan dan menjaga satu sama lain.

Sebagai informasi, Akseyna Ahad Dori merupakan mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Program Studi S-1 Biologi UI yang ditemukan meninggal dunia pada 26 Maret 2015 di Danau Kenanga, area kampus UI.

Peristiwa tersebut hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Setelah hampir 11 tahun berlalu, kasus ini belum menemukan penyelesaian yang pasti, sementara keluarga korban terus menunggu keadilan.

Memorial yang digelar setiap tahun menjadi bentuk konsistensi dalam menjaga ingatan kolektif.

Sekaligus menegaskan bahwa cerita tentang Akseyna tidak pernah benar-benar hilang dari lingkungan Universitas Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *