Kecanduan Gim Anak Meningkat, Layanan DARA Resmi Diluncurkan

AZL
Ilustrasi pemerintah meluncurkan layanan DARA untuk atasi kecanduan gim pada anak. (Foto: Karola G/Pexels)

adainfo.id – Fenomena kecanduan gim pada anak di Indonesia kian mengkhawatirkan seiring pesatnya pertumbuhan industri gim daring dan semakin mudahnya akses gawai di berbagai lapisan usia.

Perubahan perilaku anak akibat paparan gim berlebihan kini menjadi keluhan yang banyak disampaikan orang tua.

Mulai dari kesulitan mengatur waktu, menurunnya konsentrasi belajar, hingga berkurangnya interaksi sosial di dunia nyata menjadi persoalan yang semakin sering ditemukan di lingkungan keluarga.

Situasi tersebut mendorong kebutuhan akan pendampingan yang tidak hanya bersifat tegas, tetapi juga empatik dan solutif.

Pemerintah memandang persoalan ini tidak bisa disederhanakan sebagai kenakalan semata, melainkan sebagai fenomena sosial yang membutuhkan pendekatan komprehensif.

Merespons kondisi itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan layanan Digital Addiction Response Assistance atau DARA.

Program ini diperkenalkan di Sarinah, Jakarta Pusat, sebagai ruang konsultasi yang aman dan privat bagi anak serta keluarga yang menghadapi persoalan adiksi digital.

Negara Hadir Menjawab Kegelisahan Orang Tua

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, menyampaikan bahwa kehadiran DARA lahir dari kegelisahan masyarakat, khususnya para orang tua yang merasa kesulitan menghadapi perubahan perilaku anak akibat paparan gim daring secara berlebihan.

“Para orang tua tentu sangat terusik dengan kondisi ini. Di satu sisi, kita tahu gim bisa memicu kreativitas, sehingga kita tidak menutup industri gim. Namun di saat bersamaan, negara harus hadir membantu anak-anak kita yang terpapar adiksi,” ujarnya dikutip Senin (02/03/2026).

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak memosisikan industri gim sebagai pihak yang harus disalahkan.

Ekosistem gim daring di Indonesia berkembang pesat dan bahkan telah menyentuh pasar global.

Banyak talenta muda yang tumbuh dari industri ini, baik sebagai pengembang, desainer, maupun atlet e-sports.

Namun di sisi lain, paparan yang tidak terkontrol dapat memicu ketergantungan pada sebagian anak.

Karena itu, pendekatan yang diambil bukanlah pembatasan ekstrem, melainkan edukasi, pendampingan, serta penguatan peran keluarga.

DARA sebagai Ruang Konsultasi Privat dan Aman

Layanan DARA dirancang sebagai “teman bercerita” sekaligus wadah konsultasi privat.

Platform ini dapat diakses melalui laman resmi Indonesia Game Rating System (IGRS) di https://adiksi.igrs.id/⁠ maupun melalui layanan WhatsApp IGRS di nomor 0811806860.

Melalui kanal tersebut, anak maupun orang tua dapat berkonsultasi secara aman tanpa takut dihakimi.

Pemerintah menekankan bahwa pendekatan yang digunakan bersifat suportif dan edukatif, bukan diskriminatif.

DARA menjadi pintu masuk awal bagi keluarga yang membutuhkan pendampingan.

Dalam praktiknya, layanan ini menyediakan informasi, panduan praktis, serta arahan langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam menghadapi anak yang mengalami gejala kecanduan gim.

Konsep ini juga menempatkan keluarga sebagai aktor utama dalam proses pemulihan.

Pemerintah menyadari bahwa perubahan perilaku anak sangat dipengaruhi oleh dinamika di rumah, sehingga peran orang tua menjadi kunci.

Dukungan KemenPPPA untuk Perlindungan Anak

Kehadiran DARA mendapat dukungan penuh dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA).

Menteri PPPA, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa adiksi gim tidak boleh disederhanakan sebagai bentuk kenakalan anak.

Menurutnya, kondisi tersebut merupakan sinyal bahwa anak dan keluarga membutuhkan pendampingan yang tepat dan komprehensif.

“DARA ini penting karena menempatkan keluarga sebagai garda terdepan. Ketika orang tua mendapatkan panduan yang praktis dan tidak menghakimi, keluarga akan lebih mampu menjaga keseimbangan. Anak tetap dapat menikmati gim secara sehat tanpa mengorbankan haknya,” kata Arifah.

Ia menambahkan bahwa pendekatan yang terlalu keras atau menyalahkan justru dapat memperburuk kondisi psikologis anak.

Oleh karena itu, layanan yang berbasis empati dan edukasi menjadi pilihan yang lebih konstruktif.

Tantangan Era Digital dan Industri Gim

Perkembangan industri gim daring di Indonesia menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir.

Akses internet yang semakin luas, harga perangkat yang relatif terjangkau, serta banyaknya pilihan gim gratis membuat anak-anak semakin mudah terpapar.

Di satu sisi, gim dapat menjadi sarana hiburan, kreativitas, bahkan pengembangan kemampuan kognitif dan strategi.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa gim tertentu dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan koordinasi.

Namun penggunaan yang tidak terkontrol berpotensi mengganggu keseimbangan hidup anak.

Waktu belajar dapat terganggu, kualitas tidur menurun, dan interaksi sosial berkurang.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain yang mengalami percepatan digitalisasi.

Pemerintah memandang perlunya kebijakan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa menghambat inovasi.

Mewujudkan Ruang Digital Ramah Anak

Peluncuran DARA menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak.

Kebijakan ini juga selaras dengan upaya membangun literasi digital nasional agar masyarakat mampu menggunakan teknologi secara bijak.

Kemkomdigi menekankan bahwa literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis menggunakan perangkat.

Akan tetapi juga kemampuan mengelola waktu, memahami risiko, serta menjaga kesehatan mental di ruang digital.

Dengan hadirnya DARA, pemerintah berharap anak-anak tetap dapat menikmati gim secara sehat dan proporsional.

Sementara itu, orang tua diharapkan memperoleh panduan praktis untuk membangun komunikasi yang lebih efektif dengan anak terkait penggunaan gawai.

Langkah ini juga memperkuat kolaborasi lintas kementerian dalam isu perlindungan anak di era digital.

Pendekatan terpadu dinilai penting agar kebijakan tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan berimbang.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *