Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, Ini Wilayah yang Perlu Waspada
adainfo.id – Lembaga meteorologi nasional memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau tahun 2026 lebih awal dibandingkan pola klimatologi normal dalam beberapa tahun terakhir.
Prediksi tersebut disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG berdasarkan analisis dinamika iklim global yang menunjukkan perubahan fase fenomena iklim di kawasan Samudera Pasifik.
Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, perubahan kondisi iklim ini dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina kategori lemah pada Februari 2026 yang kini telah bertransisi menuju fase netral.
Fase netral tersebut kemudian berpotensi berkembang menuju kemunculan fenomena El Niño pada pertengahan hingga akhir tahun.
“Sementara itu, kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap stabil pada fase Netral sepanjang tahun,” tutur Faisal dikutip Kamis (05/03/2026).
Perubahan pola iklim ini diperkirakan akan memengaruhi siklus musim di Indonesia, termasuk mempercepat datangnya musim kemarau di sejumlah wilayah.
Perubahan Pola Iklim Global Picu Pergeseran Musim
Fenomena perubahan musim yang diprediksi terjadi pada 2026 tidak terlepas dari dinamika anomali suhu permukaan laut di kawasan Samudera Pasifik.
BMKG mencatat nilai indeks ENSO saat ini berada di angka -0,28 yang menunjukkan kondisi netral.
Indeks tersebut menjadi indikator penting dalam memantau perubahan sistem iklim global yang dapat memengaruhi curah hujan dan pola musim di kawasan tropis termasuk Indonesia.
Meski masih berada pada fase netral, peluang munculnya fenomena El Niño kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pada semester kedua tahun 2026.
BMKG memperkirakan peluang kemunculan El Niño mencapai sekitar 50 hingga 60 persen.
Jika fenomena tersebut benar terjadi, dampaknya dapat memicu kondisi cuaca yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Perubahan pola iklim ini menjadi faktor penting yang harus diantisipasi oleh berbagai sektor.
Terutama sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga mitigasi risiko kebakaran hutan.
Pergeseran Angin Monsun Tandai Awal Kemarau
Selain dipengaruhi fenomena global, datangnya musim kemarau juga ditandai oleh perubahan arah angin muson.
Peralihan angin baratan atau Monsun Asia menuju angin timuran yang berasal dari Monsun Australia menjadi indikator utama dimulainya musim kemarau di wilayah Indonesia.
Berdasarkan analisis BMKG, sebanyak 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Wilayah tersebut meliputi pesisir utara Pulau Jawa bagian barat, sebagian wilayah Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta beberapa daerah di kawasan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Selain itu, sebagian kecil wilayah di Kalimantan dan Sulawesi juga diperkirakan mulai mengalami transisi menuju musim kemarau pada periode tersebut.
Perubahan ini menunjukkan bahwa sejumlah wilayah akan mengalami kondisi kering lebih awal dibandingkan pola normalnya.
Sebagian Besar Wilayah Masuk Kemarau pada Mei dan Juni
Setelah tahap awal pada April, gelombang berikutnya akan terjadi pada bulan Mei dan Juni 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa sebanyak 184 Zona Musim atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia diperkirakan memasuki musim kemarau pada Mei 2026.
Kemudian sebanyak 163 Zona Musim atau sekitar 23,3 persen wilayah akan menyusul pada Juni 2026.
“Wilayah yang diprediksi mengalami awal kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan dan timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian wilayah Papua,” ungkap Ardhasena.
Secara keseluruhan, sekitar 325 Zona Musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau lebih cepat dibandingkan kondisi normal.
Sementara itu, sekitar 173 Zona Musim atau 24,7 persen wilayah diperkirakan mengalami awal musim yang sama dengan rata-rata klimatologinya.
Sebagian kecil wilayah lainnya diperkirakan mengalami keterlambatan awal kemarau.
Puncak Musim Kemarau Diperkirakan Terjadi Agustus
Selain memprediksi awal musim kemarau, BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau di Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026.
Jumlahnya mencapai sekitar 429 Zona Musim atau sekitar 61,4 persen dari total wilayah Indonesia.
Namun, beberapa wilayah diperkirakan mengalami puncak musim kemarau lebih awal pada Juli.
Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, Kalimantan bagian tengah dan utara, serta sebagian kecil wilayah Jawa dan Sulawesi.
Sementara itu, pada September 2026 sejumlah daerah diperkirakan masih mengalami puncak musim kemarau, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagian Lampung, serta beberapa wilayah Maluku dan Papua.
Penyebaran puncak musim kemarau ini menunjukkan variasi pola iklim yang cukup kompleks di Indonesia sebagai negara kepulauan.
Kemarau 2026 Diperkirakan Lebih Kering
BMKG juga memproyeksikan bahwa sifat musim kemarau tahun 2026 secara umum akan lebih kering dibandingkan rata-rata tahunan.
Sebanyak 451 Zona Musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami kemarau dengan sifat bawah normal.
Artinya curah hujan yang terjadi selama musim kemarau akan lebih rendah dari biasanya.
Sementara itu, sekitar 245 Zona Musim atau 35,1 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau dengan sifat normal.
Hanya sebagian kecil wilayah yang berpotensi mengalami kemarau lebih basah dari rata-rata.
Wilayah tersebut berada di sebagian daerah Gorontalo dan Sulawesi Tenggara.
Selain lebih kering, BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau akan lebih panjang dari kondisi normal di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia.
Kondisi ini meningkatkan potensi terjadinya kekeringan di beberapa daerah yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap curah hujan.
Antisipasi Risiko Kekeringan dan Kebakaran Hutan
Melihat potensi musim kemarau yang lebih panjang dan kering, BMKG mengingatkan pentingnya langkah antisipasi dari berbagai pihak.
Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling rentan terhadap perubahan musim.
Petani diimbau untuk menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kekeringan.
“Langkah ini harus dibarengi dengan penguatan sektor sumber daya air melalui revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan distribusi demi menjamin ketersediaan air bersih bagi kebutuhan domestik maupun operasional PLTA di sektor energi,” ucap Faisal.
Selain sektor pangan, risiko kebakaran hutan dan lahan juga perlu menjadi perhatian serius.
Musim kemarau yang lebih kering dan panjang dapat meningkatkan potensi kebakaran terutama di wilayah yang memiliki lahan gambut.
Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini melalui sistem pemantauan dan respons cepat.
Kewaspadaan terhadap penurunan kualitas udara akibat kebakaran hutan juga perlu ditingkatkan.
BMKG menegaskan bahwa prediksi musim kemarau ini merupakan bagian dari sistem peringatan dini yang bertujuan memberikan waktu bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi.
“BMKG menegaskan bahwa seluruh informasi prediksi ini merupakan bentuk peringatan dini (Early Warning) yang harus segera diterjemahkan menjadi aksi nyata (Early Action) oleh para pemangku kepentingan demi meminimalkan risiko bencana kekeringan di Indonesia,” pungkas Faisal.









