Kemunculan Massal Ikan Sapu-sapu di Sungai Ciliwung Picu Kekhawatiran

ARY
Ilustrasi ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung memicu kekhawatiran. (Foto: Pexels/Wendy Maxwell)

adainfo.id – Maraknya kemunculan ikan sapu-sapu di aliran Sungai Ciliwung kembali menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta, Uus Kuswanto, meminta instansi terkait untuk segera menindaklanjuti fenomena tersebut karena dinilai berkaitan erat dengan persoalan pencemaran lingkungan.

Dominasi ikan sapu-sapu di sungai yang membelah wilayah Jakarta itu dinilai bukan sekadar persoalan ekosistem.

Melainkan juga menjadi indikator adanya permasalahan limbah yang belum tertangani secara optimal.

Oleh sebab itu, Uus menekankan perlunya koordinasi lintas perangkat daerah guna memastikan penanganan dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.

“Nanti bisa disampaikan ke Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP). Ikan sapu-sapu biasanya muncul di sungai yang bermasalah dengan limbah. Ini perlu ditindaklanjuti,” tutur Uus dikutip Rabu (04/02/2026).

Diduga Berkaitan dengan Limbah Sungai

Uus menjelaskan, kemunculan ikan sapu-sapu dalam jumlah besar sering kali ditemukan di perairan dengan kualitas lingkungan yang buruk.

Ikan jenis ini dikenal memiliki daya tahan tinggi terhadap kondisi air tercemar.

Sehingga keberadaannya dapat menjadi sinyal adanya limbah domestik maupun industri yang masuk ke badan sungai.

Menurutnya, persoalan ini tidak hanya berdampak pada keseimbangan ekosistem sungai.

Akan tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan masyarakat, khususnya warga yang beraktivitas di sekitar bantaran Sungai Ciliwung.

Untuk memastikan keamanan dan kenyamanan masyarakat, Uus meminta Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta melakukan pengecekan langsung ke lapangan.

Langkah ini dinilai penting agar kondisi perairan dan keberadaan ikan sapu-sapu dapat dipetakan secara akurat.

Ia menegaskan, hasil pengecekan tersebut nantinya menjadi dasar penentuan langkah lanjutan, baik dari sisi pengelolaan lingkungan maupun aspek keamanan pangan.

“Nanti saya minta KPKP untuk mengecek langsung ke lapangan,” jelasnya.

Selain melibatkan KPKP, Uus juga meminta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta untuk berkoordinasi dalam menangani fenomena ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung.

Ia menyoroti peran aktif warga yang selama ini telah membantu melakukan intervensi terhadap populasi ikan sapu-sapu.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat perlu diapresiasi dan diarahkan dalam bentuk kolaborasi yang terstruktur agar upaya pelestarian sungai dapat berjalan optimal.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, komunitas lingkungan, dan masyarakat diharapkan mampu menjaga kualitas ekosistem Sungai Ciliwung secara berkelanjutan.

Ikan Sapu-sapu Ciliwung Tidak Layak Dikonsumsi

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas KPKP telah menegaskan bahwa ikan sapu-sapu hasil tangkapan liar dari Sungai Ciliwung tidak layak untuk dikonsumsi.

Hal tersebut disebabkan tingginya risiko pencemaran logam berat berbahaya seperti timbal, merkuri, dan kadmium, serta cemaran bakteri Escherichia coli (E.coli).

Meski secara biologis ikan sapu-sapu dapat dikonsumsi apabila dibudidayakan secara terkontrol, ikan yang hidup di sungai tercemar tidak melalui pengawasan mutu dan keamanan pangan.

Akumulasi zat kimia berbahaya, termasuk mikroplastik dan limbah industri, dalam tubuh ikan berpotensi menimbulkan keracunan kronis.

Selain itu juga berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan serius jika dikonsumsi secara rutin oleh manusia.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *