Kenaikan Harga Cabai di Depok Bikin Omzet Penjual Turun, Pembeli Terpaksa Kurangi Konsumsi

ARY
Tumpukan cabai merah keriting segar di kios pedagang Pasar Sukatani, Kota Depok, Jumat (19/09/25). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Kenaikan harga bahan pokok kembali menghantui warga Kota Depok. Harga cabai di Pasar Sukatani, Kecamatan Tapos, menembus Rp80 ribu per kilogram dalam beberapa hari terakhir.

Kondisi ini membuat pedagang maupun pembeli sama-sama merasa terhimpit.

Salah satu pedagang cabai, Sumiari (57), mengatakan bahwa harga tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.

“Sekarang aku jual Rp80.000 per kilo,” ungkap Sumiari, Jumat (19/09/2025).

Menurut Sumiari, sebelumnya harga cabai relatif stabil di kisaran Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram.

Namun, sejak dua hingga tiga hari terakhir harga naik drastis.

“Biasanya paling Rp40.000–Rp45.000. Baru dua tiga hari ini naik,” tambah Sumiari.

Jenis Cabai yang Naik hingga Turunnya Omzet Penjualan

Kenaikan harga ini terutama terjadi pada jenis cabai merah keriting jenis TKX yang dikenal kualitasnya lebih baik dibandingkan cabai biasa.

“Cabai TKX yang paling tinggi. Itu yang sekarang Rp80 ribu. Dari sananya Rp65.000–Rp70.000,” jelas Sumiari.

Untuk penjualan eceran di pasar, harga menjadi semakin tinggi karena pedagang juga harus menyesuaikan margin keuntungan yang semakin tipis.

Jika sebelumnya Sumiari mampu menjual 12 hingga 15 kilogram per hari, kini jumlah tersebut berkurang hingga lebih dari setengahnya.

“Biasanya bisa jual 12 kilo, 15 kilo, sekarang paling 5 kilo aja nggak habis,” keluh Sumiari.

Sumiari mengungkapkan, keuntungan yang didapat jauh menurun, bahkan hampir 50 persen lebih dari omzet biasanya.

“Ya turun banget. Paling penting ada aja stok, meski cuma 12–15 kilo sekarang,” kata Sumiari.

Menurut Sumiari, alasan kenaikan harga adalah berkurangnya pasokan cabai di pasar induk.

“Jadi katanya di pasar induknya berkurang, barangnya berkurang. Jadi mau nggak mau harga naik,” terang Sumiari.

Dengan pasokan yang terbatas, harga cabai di tingkat pedagang otomatis ikut melambung.

Kondisi ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat yang semakin melemah.

Keluhan dari Pembeli

Tak hanya pedagang, pembeli pun ikut merasakan dampak lonjakan harga cabai.

Seorang pembeli, Rita (40) yang berbelanja di Pasar Sukatani, mengaku terpaksa mengurangi konsumsi cabai untuk kebutuhan memasak.

“Ya gitu jadi belinya sekarang dikurang-kurangin,” kata Rita.

Rita yang sehari-hari memasak untuk kebutuhan karyawan mengaku kaget ketika harga cabai melonjak tajam.

“Kaget. Biasa saya masaknya kan banyak untuk karyawan, sekarang jadinya berkurang. Tapi ya karyawan bisa nerima lah, apa-apa sekarang mahal. Jadi harus dicukup-cukupin,” ungkap Rita.

Meski begitu, Rita pun berharap harga cabai bisa segera normal kembali.

“Ya turunin lagi harganya, ini rakyat bingung jadinya apa-apa mahal. Penjual pusing, kita yang belanja juga pusing. Maunya ya stabil lagi gitu,” harap Rita.

Harapan Stabilitas Harga

Baik pedagang maupun pembeli sama-sama berharap agar harga cabai bisa segera kembali stabil.

Sumiari sebagai pedagang berharap harga turun ke level Rp40 ribu–Rp45 ribu per kilogram seperti sebelumnya.

“Harapan saya ya bisa normal kembali,” beber Sumiari.

Sementara itu, Rita sebagai pembeli menegaskan bahwa harga bahan pokok yang stabil sangat penting bagi masyarakat.

Terutama, mereka yang harus mengatur anggaran belanja harian.

“Kalau bisa turun lagi, biar nggak pusing. Kami pembeli, pedagang juga sama-sama butuh harga yang stabil,” tutur Rita.

Fenomena kenaikan harga cabai ini memperlihatkan bagaimana keterbatasan pasokan di tingkat hulu langsung berdampak besar di tingkat konsumen.

Jika situasi ini berlangsung lama, dikhawatirkan akan menurunkan daya beli masyarakat secara lebih luas.

Bahkan bisa memicu inflasi bahan pangan di wilayah Kota Depok dan sekitarnya.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *