Ketersediaan dan Stabilitas Harga Pangan di Jakarta Terus Dipantau

ARY
Ilustrasi ketersediaan pangan dan harga bahan pokok di Jakarta terus dilakukan pemantauan. (Foto: Pexels/Elina Sazonova)

adainfo.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meningkatkan pengawasan terhadap ketersediaan dan harga bahan pokok atau pangan selama Ramadan 1447 Hijriah hingga menjelang Idulfitri 2026.

Fokus utama pengendalian inflasi kali ini tertuju pada lonjakan harga cabai keriting yang dalam beberapa hari terakhir mengalami kenaikan signifikan di sejumlah pasar tradisional.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan jajarannya terus melakukan pemantauan secara detail terhadap pergerakan harga komoditas pangan strategis.

Langkah tersebut dilakukan guna menjaga stabilitas ekonomi masyarakat, terutama saat daya beli meningkat di bulan suci dan mendekati hari raya.

“Idulfitri dan Ramadan ini Pemerintah DKI Jakarta tentunya melihat semua kebutuhan pokok utama itu secara detail. Sekarang ini memang terjadi kenaikan cabai keriting,” papar Pramono dikutip Kamis (19/02/2026).

Fluktuasi harga cabai keriting bukan semata karena lonjakan permintaan musiman, tetapi juga dipicu faktor pasokan dari daerah penghasil yang terganggu akibat kondisi cuaca ekstrem.

Curah Hujan Tinggi Ganggu Pasokan dari Daerah

Pramono menjelaskan bahwa distribusi cabai keriting dari sejumlah sentra produksi mengalami penurunan kuantitas.

Beberapa wilayah di Pulau Jawa dan Sulawesi Selatan terdampak curah hujan tinggi yang mengganggu proses panen maupun distribusi logistik.

“Jadi curah hujan ini menyebabkan penurunan,” jelasnya.

Penurunan produksi akibat cuaca ekstrem berdampak langsung pada rantai pasokan ke Jakarta.

Sebagai kota konsumsi terbesar di Indonesia, Jakarta sangat bergantung pada distribusi bahan pangan dari daerah penyangga.

Ketika suplai terganggu, harga di tingkat konsumen pun terdorong naik dalam waktu relatif singkat.

Lonjakan harga cabai keriting di pasar tradisional tercatat cukup terasa bagi masyarakat.

Komoditas ini termasuk bahan pangan yang sensitif terhadap perubahan pasokan karena masa simpan relatif singkat dan sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Setiap gangguan produksi di hulu langsung tercermin pada harga eceran.

Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis kondisi ini bersifat sementara.

Berdasarkan proyeksi cuaca dan laporan distribusi dari daerah penghasil, intensitas hujan diperkirakan mulai menurun dalam satu hingga dua pekan ke depan.

“Saya yakin dalam satu minggu dua minggu ke depan bisa pasti harga cabai di Jakarta bisa normal kembali,” tuturnya.

Strategi Intervensi Pasar untuk Kendalikan Inflasi

Sebagai langkah antisipatif, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan strategi intervensi pasar guna menekan laju inflasi.

Intervensi dilakukan dengan pendekatan distribusi langsung dari sumber produksi ke pedagang eceran di Jakarta.

Pramono mengungkapkan pemerintah akan melakukan pembelian cabai langsung dari daerah penghasil.

Kemudian mendistribusikannya kepada pengecer dengan skema margin keuntungan tertentu agar harga tetap terkendali di tingkat konsumen.

“Kami akan membeli cabai, kemudian menjual kepada pengecer atau pedagang memberikan keuntungan Rp5 ribu supaya harganya terkontrol,” bebernya.

Skema tersebut diharapkan mampu memotong rantai distribusi yang terlalu panjang dan menekan spekulasi harga di tingkat perantara.

Dengan demikian, harga jual ke masyarakat dapat lebih stabil meskipun terjadi gangguan pasokan sementara.

Intervensi pasar menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, khususnya menjelang Idulfitri.

Pada periode ini, permintaan bahan pokok cenderung meningkat signifikan seiring kebutuhan rumah tangga untuk persiapan berbuka puasa hingga perayaan hari raya.

Pengendalian Inflasi Ramadan Jadi Prioritas

Pengendalian inflasi selama Ramadan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Kenaikan harga bahan pokok yang tidak terkendali berpotensi memicu tekanan ekonomi bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Cabai keriting termasuk salah satu komoditas penyumbang inflasi volatile food.

Pergerakan harganya yang fluktuatif kerap menjadi indikator stabilitas harga pangan secara umum.

Oleh karena itu, respons cepat melalui intervensi distribusi dinilai penting untuk mencegah dampak lebih luas.

Pramono menegaskan bahwa stabilitas harga bukan hanya menyangkut daya beli masyarakat, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan ekonomi kota secara keseluruhan.

“Saya yakin dengan cara seperti ini inflasi di Jakarta pasti akan bisa kita kontrol,” tukasnya.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara kebutuhan konsumsi masyarakat dan stabilitas pasar selama momen keagamaan yang identik dengan peningkatan aktivitas ekonomi.

Koordinasi dengan Daerah Penghasil dan Distributor

Selain intervensi pasar, Pemprov DKI Jakarta juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah penghasil cabai.

Tujuannya untuk memastikan arus distribusi kembali normal begitu kondisi cuaca membaik.

Koordinasi lintas daerah dinilai krusial mengingat Jakarta bukan daerah produsen utama cabai.

Ketergantungan terhadap suplai luar daerah membuat stabilitas pasokan sangat dipengaruhi kondisi geografis dan iklim di wilayah produksi.

Distribusi di tingkat grosir dan pasar induk pun dipantau guna memastikan tidak terjadi penimbunan atau praktik yang merugikan konsumen.

Pengawasan dilakukan secara terpadu bersama instansi terkait untuk menjaga transparansi harga di setiap mata rantai distribusi.

Dalam konteks Ramadan dan menjelang Idulfitri, pengendalian harga cabai keriting menjadi salah satu indikator keberhasilan stabilisasi pangan secara umum.

Jika komoditas yang sensitif seperti cabai dapat dikendalikan, maka komoditas lain relatif lebih mudah diatur melalui mekanisme pasar dan intervensi terbatas.

Dampak terhadap Masyarakat dan Pelaku Usaha

Kenaikan harga cabai keriting berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner, pedagang kecil, hingga rumah tangga.

Cabai merupakan bahan dasar berbagai masakan sehari-hari masyarakat Indonesia, sehingga fluktuasinya sangat dirasakan.

Upaya intervensi yang dilakukan pemerintah diharapkan dapat memberikan kepastian harga bagi pedagang sekaligus melindungi konsumen dari lonjakan berlebihan.

Skema pemberian margin Rp5 ribu kepada pengecer dirancang agar pedagang tetap memperoleh keuntungan wajar tanpa membebani pembeli.

Stabilitas harga juga berpengaruh terhadap psikologis pasar. Ketika masyarakat merasa harga terkendali, kepanikan pembelian dapat dihindari.

Sebaliknya, jika lonjakan harga tidak direspons cepat, potensi pembelian berlebihan bisa memperparah kelangkaan di pasar.

Pemantauan rutin terhadap kebutuhan pokok utama selama Ramadan akan terus dilakukan secara intensif.

Pemerintah daerah berupaya memastikan bahwa momentum ibadah dan perayaan Idulfitri tidak dibayangi gejolak harga pangan yang memberatkan masyarakat.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *