Kiprah Yori Antar Menjaga Arsitektur Tradisional Indonesia di Tengah Modernitas
adainfo.id – Arsitek Yori Antar mengungkapkan perjalanan panjang dan komitmennya dalam melestarikan arsitektur tradisional Indonesia pada acara Majelis Nyala Purnama #9 yang digelar Direktorat Kebudayaan Universitas Indonesia (UI) bersama Komoenitas Makara dan Urban Spiritual Indonesia di Makara Art Center UI, beberapa waktu lalu.
Dalam forum kebudayaan tersebut, Yori memaparkan berbagai proyek restorasi rumah adat di sejumlah daerah di Indonesia melalui tayangan foto-foto dokumentasi yang merekam proses penyelamatan bangunan tradisional yang nyaris punah
Paparan itu sekaligus menjadi refleksi atas pentingnya menjaga identitas arsitektur Nusantara di tengah derasnya arus modernisasi.
Yori Antar menjelaskan, salah satu upaya konkret yang ia lakukan adalah mendirikan Uma Nusantara, sebuah yayasan yang berfokus pada penyelamatan dan pembangunan kembali rumah-rumah adat tradisional di berbagai pelosok Indonesia.
Melalui yayasan tersebut, Yori memperkenalkan konsep kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari arsitek, donatur, hingga masyarakat lokal.
“Melalui Uma Nusantara, kami menginisiasi konsep ‘Rumah Asuh’, di mana arsitek modern dan donatur bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk membangun kembali rumah adat menggunakan teknik tradisional agar pengetahuan lokal tidak hilang,” ujar Yori dikutip Kamis (08/01/2026).
Menurut Yori, pendekatan ini tidak hanya menyelamatkan bangunan fisik, tetapi juga menjaga transfer pengetahuan antar generasi, terutama terkait teknik konstruksi tradisional yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.
Restorasi Seribu Rumah Gadang di Solok Selatan
Yori juga memaparkan proyek besar yang diselesaikannya pada tahun 2025, yakni revitalisasi kawasan Seribu Rumah Gadang di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat.
Proyek ini mencakup restorasi sekitar 35 hingga 40 rumah gadang dengan mengembalikan bentuk arsitektur aslinya.
Proses revitalisasi dilakukan dengan tetap menggunakan material tradisional, seperti atap ijuk, demi mempertahankan nilai otentik dan karakter budaya Minangkabau.
Tak hanya berfokus pada bangunan utama, Yori juga merancang berbagai fasilitas pendukung untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai destinasi wisata berbasis budaya.
Beberapa fasilitas yang dibangun di antaranya Menara Pandang, panggung budaya, pusat kuliner, hingga area suvenir.
Rumah-rumah gadang yang telah direstorasi pun difungsikan kembali sebagai homestay, sehingga wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman hidup dalam lingkungan budaya Minangkabau.
Langkah ini dinilai mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat sekaligus menjaga keberlanjutan kawasan berbasis kearifan lokal.
Menjaga Identitas Lokal di Tengah Arus Modernitas
Yori Antar menekankan pentingnya mempertahankan identitas lokal agar arsitektur tradisional tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Menurutnya, modernitas tidak seharusnya menghapus jejak budaya, melainkan berjalan berdampingan dengan nilai-nilai tradisional yang telah terbukti mampu bertahan selama ratusan tahun.
Yori dikenal luas sebagai arsitek yang konsisten memperjuangkan pelestarian rumah adat Nusantara.
Dedikasinya tersebut membuat ia dijuluki “Pendekar Arsitektur Nusantara”, sebuah sebutan yang merepresentasikan perjuangannya dalam menjaga warisan budaya Indonesia melalui pendekatan arsitektur.
Kehadiran Yori Antar di Makara Art Center UI menjadi momen istimewa bagi Komoenitas Makara dan civitas akademika Universitas Indonesia.
Yori merupakan alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Indonesia angkatan 1980, yang kembali ke kampus almamaternya untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman lapangan.











