Konflik Timur Tengah Jadi Pengingat, Dedi Mulyadi Minta Generasi Muda Siap Bersaing
adainfo.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyerukan penguatan pendidikan sains dan teknologi bagi generasi muda Indonesia sebagai respons atas memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pesan reflektif tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi perang global yang melibatkan sejumlah negara besar dan berdampak luas terhadap stabilitas dunia.
“Perang di Timur Tengah berkecamuk. Hati kita seperti remuk, karena dunia sedang tidak baik-baik saja. Tetapi yakinlah bahwa kebenaran akan menemukan jalannya. Cahayanya tidak akan pernah padam dan sirna, meski mesiu bergemuruh dalam setiap waktu,” tutur Dedi Mulyadi dikutip Selasa (03/03/2026).
Menurut Dedi, dinamika geopolitik yang memanas harus menjadi bahan refleksi nasional, khususnya dalam merumuskan arah pembangunan sumber daya manusia.
Ia menilai, bangsa yang ingin bertahan dan maju dalam kompetisi global harus memiliki fondasi kuat di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Situasi perang di kawasan Timur Tengah dinilai bukan sekadar persoalan politik internasional, melainkan cerminan kerasnya persaingan global, baik dalam bidang ekonomi, pertahanan, maupun penguasaan teknologi.
Dalam konteks tersebut, Dedi mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk tidak hanya menjadi penonton dinamika global, tetapi mengambil peran melalui peningkatan kualitas pendidikan.
Menurutnya, situasi konflik global harus menjadi bahan pembelajaran agar bangsa Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan kemajuan dunia.
Penguasaan Sains sebagai Fondasi Kemajuan
Dedi menekankan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi merupakan prasyarat utama bagi bangsa yang ingin berdaulat dan kompetitif.
Ia menyebut, anak-anak Indonesia harus didorong lebih serius menekuni bidang-bidang strategis.
“Saatnya anak-anak kita dituntut dalam setiap waktu menekuni ilmu pengetahuan alam. Belajar matematika, fisika, kimia, biologi, dan teknologi informasi. Itu prasyarat menuju kemajuan,” jelasnya.
Penegasan tersebut mencerminkan pandangan bahwa revolusi industri dan transformasi digital yang berlangsung saat ini tidak dapat dilepaskan dari kapasitas sains dan teknologi.
Dalam era persaingan global, negara-negara dengan keunggulan riset dan inovasi cenderung lebih tahan terhadap gejolak ekonomi maupun konflik geopolitik.
Oleh sebab itu, investasi pada pendidikan sains menjadi agenda strategis jangka panjang.
Peran Ilmuwan dan Insinyur dalam Pembangunan
Dedi juga menyoroti pentingnya peran ilmuwan dan tenaga ahli di bidang teknik dalam menggerakkan roda pembangunan nasional.
Ia menilai kemajuan suatu bangsa tidak terlepas dari kontribusi para akademisi, peneliti, serta praktisi teknologi.
“Kemajuan akan diraih dengan munculnya fisikawan dan ahli-ahli matematika serta biologi. Kaum insinyur adalah penggerak dari roda kemajuan,” bebernya.
Pernyataan tersebut menggarisbawahi urgensi mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik.
Akan tetapi juga memiliki kemampuan aplikatif dalam menciptakan solusi inovatif bagi berbagai persoalan bangsa.
Sektor industri, energi, pertanian modern, hingga teknologi informasi membutuhkan sumber daya manusia dengan kompetensi tinggi di bidang sains dan teknik.
Tanpa itu, ketergantungan terhadap teknologi asing akan terus berlangsung.
Tantangan Mentalitas dan Karakter
Selain aspek akademik, Dedi turut menyinggung pentingnya pembentukan karakter generasi muda.
Ia mengingatkan agar pola hidup yang terlalu bergantung dan kurang disiplin segera ditinggalkan.
Menurutnya, karakter pekerja keras dan orientasi pada prestasi menjadi modal utama dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
“Saatnya kemanjaan kita tinggalkan bagi anak-anak kita. Meraih mimpi dengan keringat, bukan dengan tangisan,” ungkapnya.
Pesan tersebut menjadi dorongan moral agar generasi muda tidak terjebak dalam budaya instan dan ketergantungan, melainkan membangun mentalitas tangguh serta kompetitif.
Pendidikan sebagai Strategi Jangka Panjang
Harapannya, momentum konflik global dapat memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan berkualitas.
Dikatakan jika pembangunan fisik semata tidak cukup tanpa dibarengi penguatan kapasitas intelektual dan inovasi.
Selain itu, ditekankan juga bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusianya.
Pesan reflektif tersebut menjadi pengingat bahwa ketidakpastian global harus dijawab dengan strategi pembangunan yang berorientasi pada masa depan.
Di tengah situasi dunia yang tidak menentu, harapannya Indonesia tetap fokus membangun kualitas sumber daya manusia sebagai kunci masa depan bangsa.
Seruan tersebut menjadi bagian dari narasi pembangunan yang menempatkan sains, teknologi, dan karakter sebagai fondasi utama dalam menghadapi era globalisasi yang penuh tantangan.











