Konsep Pertanian Modern Terpadu di Depok: Mulai Dari Hortikultura hingga Greenhouse Hybrid

ARY
Ilustrasi konsep pertanian modern di Kota Depok. (Foto: Canva/Valeriya Luzina)

adainfo.id – Transformasi sektor pangan berbasis teknologi mulai digencarkan di Kota Depok melalui konsep pertanian modern terpadu yang mengintegrasikan hortikultura, perikanan, greenhouse, hingga metode hidroponik dalam satu kawasan produksi berkelanjutan.

Konsep ini tidak dibangun dengan pendekatan komoditas tunggal, melainkan sistem terhubung yang saling mendukung antar sektor.

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menargetkan model ini menjadi percontohan pertanian perkotaan yang efisien, adaptif terhadap perubahan iklim, serta mampu meningkatkan produktivitas di lahan terbatas.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Depok, Dadan Rustandi, menegaskan bahwa integrasi lintas subsektor menjadi fondasi utama dalam pembangunan sistem ini.

Integrasi Hortikultura dan Perikanan dalam Satu Sistem

Menurut Dadan, pertanian modern Depok dirancang agar tidak ada sektor yang berjalan sendiri.

Seluruh komponen dirancang dalam satu ekosistem produksi yang saling menguatkan.

“Artinya hortikultura dan perikanannya tersambung. Tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling mendukung dalam satu sistem,” tuturnya dikutip Jumat (27/02/2026).

Model integrasi tersebut memungkinkan limbah dari satu sektor dimanfaatkan untuk mendukung sektor lainnya.

Limbah organik dari hortikultura, misalnya, dapat diolah untuk mendukung sistem budidaya perikanan atau menjadi bagian dari siklus nutrisi tanaman hidroponik.

Pendekatan ini mendekati prinsip zero waste yang semakin relevan dalam praktik pertanian modern berbasis lingkungan.

Konsep ini juga menjawab tantangan keterbatasan lahan di wilayah perkotaan seperti Depok.

Dengan sistem terpadu, produktivitas dapat ditingkatkan tanpa harus melakukan ekspansi lahan besar-besaran.

Tiga Kecamatan Jadi Pilot Project

Sebagai tahap awal implementasi, Pemerintah Kota Depok menetapkan tiga kecamatan sebagai lokasi percontohan atau pilot project, yakni Tapos, Bojongsari, serta Limo atau Sukmajaya.

Pemilihan wilayah ini mempertimbangkan potensi lahan, kesiapan infrastruktur, serta dukungan sumber daya manusia.

Pada tahap uji coba, sistem akan diuji dari sisi efektivitas produksi, efisiensi biaya operasional, hingga dampak ekonomi terhadap masyarakat sekitar.

Model yang terbukti optimal akan direplikasi secara bertahap hingga 2029.

Program ini dijadwalkan memasuki tahap uji coba pada 2025. Selanjutnya, periode 2026–2029 menjadi fase pengembangan bertahap dengan penyesuaian terhadap kemampuan fiskal daerah serta hasil evaluasi lapangan.

Greenhouse Hybrid dan Artificial Lighting

Teknologi menjadi tulang punggung dalam sistem pertanian modern terpadu Depok.

Salah satu inovasi yang diusung adalah penggunaan greenhouse hybrid artificial lighting.

Teknologi ini memungkinkan tanaman tetap mendapatkan suplai cahaya yang cukup meskipun kondisi cuaca tidak mendukung.

Sistem pencahayaan buatan akan aktif saat intensitas sinar matahari berkurang, sehingga proses fotosintesis tetap berjalan optimal.

“Tanaman umumnya membutuhkan enam jam cahaya matahari per hari,” ungkapnya.

Ketika intensitas cahaya berkurang, sistem pencahayaan buatan akan menggantikan kebutuhan tersebut.

“Dengan pendekatan ini, produktivitas tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca,” ucapnya.

Pendekatan ini dinilai penting mengingat perubahan iklim menyebabkan pola cuaca semakin tidak menentu.

Dengan dukungan greenhouse hybrid, risiko gagal panen akibat kurangnya sinar matahari dapat ditekan secara signifikan.

Selain itu, greenhouse juga berfungsi menjaga stabilitas suhu, kelembapan, serta melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit.

Kombinasi teknologi ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.

Beauty Contest dan Seleksi Konsep Makro

Untuk memastikan sistem yang dibangun benar-benar matang secara perencanaan, Pemkot Depok telah menggelar beauty contest pada 2025.

Proses ini dilakukan guna menjaring desain dan konsep terbaik dari berbagai pihak yang memiliki kompetensi di bidang pertanian modern dan teknologi agrikultur.

Dari proses seleksi tersebut, terpilih satu konsep makro yang dinilai paling sesuai dengan visi pengembangan pertanian modern di Depok.

Konsep ini mencakup tata letak kawasan, integrasi sistem produksi, hingga skema pengelolaan dan keberlanjutan ekonomi.

Namun dalam implementasinya, muncul tantangan dari sisi pembiayaan.

Skala konsep yang besar menuntut anggaran signifikan sehingga perlu dilakukan penyesuaian agar tetap realistis tanpa menghilangkan substansi utama.

“Konsep makronya memang besar dan biayanya besar. Maka kita menyesuaikan,” bebernya.

Penyesuaian tersebut meliputi desain bangunan yang bersifat semi permanen serta pembangunan bertahap sesuai prioritas kebutuhan.

Skema Pengelolaan dan Pelibatan Masyarakat

Setiap lokasi pilot project akan dikelola oleh tenaga khusus yang bertanggung jawab memastikan operasional berjalan optimal.

Pengelola ini akan mengawasi sistem produksi, perawatan teknologi greenhouse, hingga distribusi hasil panen.

“Satu lokasi satu pengelola khusus. Nanti jika sudah berjalan baik, kelompok tani dan masyarakat bisa dilibatkan,” katanya.

Pelibatan kelompok tani dan masyarakat menjadi strategi penting agar pertanian modern Depok tidak berhenti sebagai proyek pemerintah semata.

Pemerintah daerah menargetkan terbentuknya ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan warga sekitar.

Dengan pola integratif, masyarakat tidak hanya berperan sebagai pekerja, tetapi juga dapat terlibat dalam rantai nilai produksi, mulai dari budidaya hingga pemasaran.

Efisiensi Produksi di Wilayah Perkotaan

Integrasi hortikultura, perikanan, hidroponik, dan greenhouse hybrid dirancang untuk menciptakan efisiensi produksi dalam konteks wilayah perkotaan.

Lahan sempit dioptimalkan melalui teknologi, sementara siklus limbah dimanfaatkan kembali untuk mengurangi biaya operasional.

Pendekatan ini juga sejalan dengan tren urban farming yang berkembang di berbagai kota besar.

Namun, model di Depok dikembangkan dalam skala kawasan terpadu dengan sistem yang lebih terstruktur dan berbasis teknologi.

Dengan pengembangan bertahap hingga 2029, pemerintah daerah berharap pertanian modern terpadu Depok mampu menjadi model replikasi di wilayah lain.

Sistem ini diharapkan memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus mendorong transformasi sektor pertanian menuju era digital dan berkelanjutan.

Melalui strategi integratif, pemanfaatan teknologi greenhouse hybrid, serta pelibatan masyarakat secara bertahap, Depok menempatkan pertanian modern sebagai salah satu program unggulan yang diarahkan untuk memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga kota.

BSP GROUP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *