Krisis Pangan Global Mengintai, Indonesia Perkuat Swasembada dan Produksi Nasional
adainfo.id – Ancaman krisis pangan global kembali mencuat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional.
Hal tersebut berpotensi memicu lonjakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut pada tahun 2026.
Laporan terbaru dari World Food Programme (WFP) memperingatkan bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah dapat memperburuk kondisi ketahanan pangan global, terutama jika berlangsung dalam jangka panjang.
Jika konflik berkepanjangan dan harga energi dunia tetap tinggi, hampir 45 juta orang tambahan diperkirakan bisa jatuh ke dalam kondisi rawan pangan akut.
Situasi ini menjadi sinyal kuat bahwa krisis pangan tidak lagi menjadi isu regional, melainkan ancaman global yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan sosial.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan kini menjadi isu strategis yang menentukan daya tahan suatu negara dalam menghadapi gejolak global.
Konflik Global Picu Lonjakan Risiko Kelaparan
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa dunia saat ini memang sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius sehingga setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak bergantung pada negara lain.
“Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain,” tutur Amran dikutip Senin (23/03/2026).
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi, gangguan jalur pelayaran internasional, serta meningkatnya biaya logistik menjadi faktor utama yang dapat memicu inflasi pangan global.
Kondisi serupa pernah terjadi saat Perang Rusia–Ukraina yang berdampak pada kenaikan harga komoditas pangan dunia.
Dampak konflik tidak hanya dirasakan di kawasan perang, tetapi merambat ke seluruh dunia melalui rantai pasok global.
Negara-negara yang bergantung pada impor pangan menjadi pihak yang paling rentan terhadap gejolak ini.
“Kalau terjadi krisis global, terlebih permasalahan geopolitik dari Iran versus Amerika dan Israel, yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri,” jelasnya.
Strategi Swasembada Jadi Kunci Ketahanan Pangan
Di tengah ancaman tersebut, Indonesia dinilai berada pada jalur yang tepat menuju kemandirian pangan.
Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi melalui strategi intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian secara bersamaan.
Program intensifikasi dilakukan dengan meningkatkan produktivitas lahan melalui penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta peningkatan indeks pertanaman.
Langkah ini bertujuan memaksimalkan hasil dari lahan yang sudah ada.
Sementara itu, ekstensifikasi dilakukan melalui pembukaan lahan baru, termasuk program cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa sebagai sumber produksi tambahan.
“Kita harus optimis. Indonesia punya lahan, air, iklim, dan sumber daya manusia. Kalau semua dimaksimalkan, swasembada bukan mimpi, lumbung pangan dunia juga bukan hal yang mustahil, salah kalau kekuatan ini kita biarkan,” ungkapnya.
Pemerintah menargetkan tidak hanya mencapai swasembada pangan, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai salah satu lumbung pangan dunia yang mampu berkontribusi dalam menjaga stabilitas pangan global.
Deregulasi dan Modernisasi Pertanian Digenjot
Menurut Amran, langkah utama yang menjadi pilar swasembada pangan berkelanjutan adalah deregulasi dan transformasi pertanian dari sistem tradisional menuju modern.
“Mandiri mutlak, swasembada mutlak. Kita tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan yang ada, tetapi juga membuka lahan baru melalui cetak sawah dan optimalisasi lahan rawa. Semua harus kita optimalkan. Produksi harus naik secara signifikan,” tuturnya.
Reformasi besar-besaran dilakukan dengan memangkas ratusan regulasi yang dinilai menghambat percepatan program pertanian.
Pemerintah juga menerbitkan berbagai kebijakan strategis untuk mempercepat distribusi sarana produksi.
“Langkah kami ada dua untuk mencapai swasembada berkelanjutan, keluar dari permasalahan geopolitik kita terus benahi aturan, deregulasi dan transformasi pertanian dari tradisional ke modern kita masifkan,” bebernya.
Deregulasi ini terbukti mampu mempercepat distribusi pupuk serta menurunkan biaya produksi petani.
Sistem distribusi yang sebelumnya berbelit kini dipangkas menjadi lebih sederhana dan efisien.
“Kalau regulasi terlalu banyak, program tidak akan jalan. Karena itu kita pangkas regulasi yang menghambat agar produksi bisa naik lebih cepat,” ucapnya.
Reformasi tata kelola pupuk menjadi salah satu langkah paling signifikan. Distribusi pupuk kini dilakukan secara langsung dari kementerian ke produsen hingga ke petani tanpa birokrasi berlapis.
“Dulu petani sudah mau tanam, pupuk belum tiba. Sekarang distribusi langsung, cepat, dan tepat sasaran,” ungkapnya
Produksi Pangan Menguat di Tengah Ancaman Global
Selain deregulasi, modernisasi pertanian juga mendorong efisiensi produksi secara signifikan.
Mekanisasi memungkinkan penghematan tenaga kerja, percepatan proses tanam dan panen, serta peningkatan frekuensi tanam dalam setahun.
Efisiensi tersebut berdampak langsung pada penurunan biaya produksi dan peningkatan kesejahteraan petani.
Hal ini tercermin dari peningkatan Nilai Tukar Petani yang mencapai level tertinggi.
“Modernisasi pertanian membuat biaya produksi turun, panen lebih cepat, dan petani lebih sejahtera. Ini yang sedang kita dorong di seluruh Indonesia,” tuturnya.
Kebijakan harga juga menjadi instrumen penting dalam menjaga kesejahteraan petani.
Penetapan harga pembelian pemerintah untuk gabah memberikan kepastian pendapatan bagi petani sekaligus mendorong peningkatan produksi.
“Kalau petani untung, mereka akan semangat menanam. Kalau petani semangat, produksi pasti naik. Itu kunci swasembada. Untuk berkelanjutan tetap kita genjot sumber-sumber input produksi,” paparnya.
Produksi beras nasional menunjukkan tren positif dengan capaian surplus yang signifikan.
Cadangan beras pemerintah juga berada pada level aman untuk memenuhi kebutuhan nasional.
“Stok kita kuat, produksi naik, cadangan pangan aman. Ini menunjukkan program kita sudah berada di jalur yang benar,” katanya.
Untuk jangka panjang, pemerintah juga mengembangkan program optimalisasi lahan rawa sebagai sumber produksi baru.
Kawasan ini diharapkan menjadi lumbung pangan masa depan yang mampu menopang kebutuhan nasional.
“Kita sedang menyiapkan lumbung pangan baru melalui optimalisasi lahan rawa. Ini untuk memastikan produksi pangan kita terus meningkat,” ujarnya.
Melalui berbagai strategi tersebut, sektor pertanian ditempatkan sebagai fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Di tengah ancaman krisis pangan global, Indonesia justru terus memperkuat produksi maupun cadangan pangan nasional.
“Kita tidak boleh takut krisis pangan global. Justru ini momentum Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri pangan dan menjadi lumbung pangan dunia, kita putar dunia,” tukasnya.












