Kulit Ketupat Diserbu Pembeli, Pedagang Raup Untung Jelang Idulfitri

AZL
Pedagang kulit ketupat di Pasar Kemiri Muka, Kota Depok saat menyiapkan dagangannya, Rabu (18/03/26). (Foto: adainfo.id)

adainfo.id – Ketupat tetap menjadi hidangan yang tidak tergantikan dalam tradisi perayaan Idulfitri 2026, meski berbagai makanan modern terus bermunculan di tengah masyarakat.

Di berbagai daerah, termasuk di Pasar Kemiri Muka, permintaan kulit ketupat mulai mengalami peningkatan seiring mendekatnya hari raya.

Tradisi membuat ketupat masih bertahan kuat sebagai bagian dari budaya Lebaran di Indonesia.

Ketupat yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan anyaman janur ini selalu hadir berdampingan dengan berbagai hidangan khas Lebaran.

Seperti opor ayam, rendang, sambal goreng kentang, tempe orek, hingga bihun kecap.

Ketupat Lebih dari Sekadar Makanan

Bagi masyarakat Indonesia, ketupat bukan sekadar makanan pelengkap saat Lebaran.

Hidangan ini memiliki makna simbolis yang mendalam dan telah diwariskan secara turun-temurun.

Ketupat sering dimaknai sebagai simbol permohonan maaf, kesucian, serta kebersamaan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Nilai-nilai tersebut menjadikan ketupat sebagai bagian penting dalam tradisi silaturahmi saat Idulfitri.

Kehadirannya tidak hanya melengkapi sajian makanan, tetapi juga memperkuat hubungan antar anggota keluarga.

Permintaan Kulit Ketupat Meningkat

Meningkatnya kebutuhan ketupat menjelang Lebaran turut berdampak pada penjualan kulit ketupat di pasar tradisional.

Para pedagang mulai merasakan lonjakan pembeli, terutama dari kalangan ibu rumah tangga yang ingin membuat ketupat sendiri di rumah.

“Iya Alhamdulillah, kalau mendekati hari H Lebaran, penjualan bisa langsung melonjak. Banyak ibu-ibu yang cari buat bikin ketupat di rumah,” ungkap Jaun, salah satu pedagang, Rabu (18/03/2026).

Lonjakan permintaan ini menjadi fenomena tahunan yang selalu terjadi menjelang Idulfitri, seiring meningkatnya aktivitas masyarakat dalam mempersiapkan hidangan Lebaran.

Meskipun permintaan meningkat, harga kulit ketupat di pasaran terpantau relatif stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Untuk satu ikat berisi 10 buah kulit ketupat, pedagang menjualnya di kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.

Sementara itu, janur sebagai bahan baku utama dibanderol sekitar Rp30.000 hingga Rp40.000 per ikat, tergantung kualitasnya.

Stabilnya harga tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan bahan baku yang masih mencukupi di tingkat pemasok.

Jaun menjelaskan bahwa sebagian besar janur yang dijual di pasar berasal dari wilayah Banten, yang selama ini menjadi salah satu daerah pemasok utama.

“Kalau kulit ketupat sih harganya nggak terlalu berubah dari tahun ke tahun. Alhamdulillah stok bahan di kampung juga masih banyak,” jelas Jaun.

Tradisi Bertahan di Tengah Modernisasi

Di tengah perkembangan teknologi dan gaya hidup modern, cara masyarakat dalam menikmati ketupat memang mulai mengalami perubahan.

Sebagian masyarakat kini memilih membeli ketupat yang sudah jadi dibandingkan membuatnya sendiri karena dinilai lebih praktis.

Meski demikian, tradisi membuat ketupat secara manual masih tetap dipertahankan oleh sebagian keluarga, terutama sebagai bentuk pelestarian budaya.

Proses menganyam janur yang dahulu diajarkan secara turun-temurun kini kembali diperkenalkan kepada generasi muda, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana.

Menariknya, ketupat juga menemukan ruang baru di era digital.

Di berbagai platform media sosial, generasi muda mulai membagikan proses pembuatan hingga penyajian ketupat dengan sentuhan visual yang lebih modern.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ketupat tidak hanya bertahan sebagai tradisi lama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Hidangan khas Lebaran ini bahkan menjadi bagian dari konten kreatif yang memperkenalkan budaya Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.

Simbol Kebersamaan yang Tak Tergantikan

Bagi banyak orang, Lebaran tanpa ketupat terasa kurang lengkap.

Hal ini bukan hanya karena cita rasanya, tetapi juga karena nilai emosional yang melekat pada makanan tersebut.

Ketupat menjadi simbol momen berkumpul bersama keluarga, berbagi cerita, serta saling memaafkan setelah menjalani bulan Ramadan.

Tradisi ini menjadikan ketupat sebagai bagian dari identitas budaya yang terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Seiring waktu, bentuk dan cara penyajian ketupat mungkin akan terus mengalami perubahan.

Namun, nilai kebersamaan dan makna budaya yang terkandung di dalamnya tetap menjadi alasan utama mengapa ketupat masih bertahan sebagai ikon Lebaran hingga saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *