Layanan Kereta Diperluas, Hadirnya Stasiun Jatake Jadi Penopang Mobilitas Harian
adainfo.id – Pertumbuhan kawasan permukiman dan pusat aktivitas ekonomi di wilayah barat Pulau Jawa mendorong kebutuhan sarana transportasi publik yang semakin mendesak.
Arus pergerakan harian masyarakat menuju dan dari kawasan Jabodetabek terus meningkat, seiring berkembangnya kawasan penyangga Jakarta, khususnya di Kabupaten Tangerang dan sekitarnya.
Dalam konteks tersebut, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai mengoperasikan Stasiun Kereta Api Jatake di Kabupaten Tangerang, Banten, sejak 28 Januari 2026.
Pengoperasian stasiun baru ini menjadi bagian dari strategi jangka menengah KAI dalam memperluas akses layanan kereta api perkotaan di wilayah barat Jawa.
Kehadiran Stasiun Jatake diharapkan mampu memperpendek jarak tempuh masyarakat menuju layanan Commuter Line.
Sekaligus mengurangi kepadatan di stasiun-stasiun eksisting yang selama ini menjadi titik utama naik-turun penumpang.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa pembukaan Stasiun Jatake tidak lepas dari aspirasi masyarakat yang selama ini membutuhkan akses transportasi massal yang lebih dekat dan efisien.
Menurutnya, lonjakan aktivitas ekonomi dan pergerakan penduduk di wilayah barat Jawa menuntut kehadiran simpul transportasi baru yang terintegrasi dengan jaringan kereta perkotaan.
“Masukan masyarakat di wilayah barat telah kami petakan secara menyeluruh. KAI meresponsnya melalui peningkatan layanan yang dilakukan secara bertahap, sejalan dengan penguatan infrastruktur agar operasional berjalan tertib, aman, dan berkelanjutan,” kata Anne dikutip dalam keterangan resmi, Sabtu (07/02/2026).
Ia menegaskan, pembukaan stasiun baru bukan sekadar menambah titik berhenti kereta, tetapi juga bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan secara menyeluruh, mulai dari aksesibilitas, keselamatan, hingga kenyamanan pengguna jasa.
Data Awal Pengguna Tunjukkan Antusiasme
Sejak mulai dioperasikan hingga 5 Februari 2026, Stasiun Jatake mencatat angka penggunaan yang cukup signifikan.
KAI mencatat sebanyak 7.936 pengguna melakukan tap masuk atau gate in, sementara 8.206 pengguna tercatat keluar atau gate out melalui stasiun tersebut.
Data awal ini dinilai mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat akan keberadaan stasiun yang lebih dekat dengan kawasan hunian dan pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Tren ini sejalan dengan pola urbanisasi dan pengembangan kawasan barat Jabodetabek.
Di mana banyak pekerja harian memilih tinggal di wilayah penyangga dengan biaya hidup lebih terjangkau, namun tetap menggantungkan mobilitasnya pada transportasi massal menuju pusat aktivitas di Jakarta dan sekitarnya.
Selain itu, peningkatan mobilitas masyarakat wilayah barat juga tercermin dari tren penggunaan Commuter Line lintas Tanah Abang–Rangkasbitung.
Sepanjang tahun 2025, jumlah pengguna pada lintas ini mencapai 77.552.716 orang.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebanyak 69.999.362 penumpang, serta tahun 2023 yang masih berada di angka 62.085.471 penumpang.
Dalam satu dekade terakhir, layanan kereta perkotaan semakin berperan sebagai tulang punggung mobilitas harian masyarakat, khususnya bagi tenaga kerja yang bergerak dari kawasan barat Jawa menuju pusat ekonomi Jabodetabek.
Ketepatan waktu, kapasitas angkut besar, serta tarif yang relatif terjangkau menjadikan Commuter Line sebagai pilihan utama dibandingkan moda transportasi darat lainnya.
Dukungan Infrastruktur dan Elektrifikasi Jalur
Penguatan layanan kereta api di wilayah barat Jawa tidak terlepas dari pembangunan infrastruktur yang dilakukan secara bertahap.
Salah satu tonggak penting adalah elektrifikasi jalur Tanah Abang–Rangkasbitung sepanjang 72,8 kilometer yang dilaksanakan sejak 2017 hingga 2018.
Elektrifikasi ini memungkinkan peningkatan frekuensi perjalanan, efisiensi operasional, serta peningkatan kapasitas angkut penumpang.
Pada 2025, frekuensi perjalanan Commuter Line di lintas Tangerang Line telah ditingkatkan menjadi 122 perjalanan dalam satu hari penuh.
Penambahan frekuensi tersebut ditujukan untuk mengakomodasi lonjakan penumpang pada jam sibuk, sekaligus memberikan fleksibilitas waktu perjalanan bagi masyarakat.
Dengan dukungan infrastruktur yang semakin memadai, pengoperasian Stasiun Jatake dinilai akan memperkuat jaringan layanan yang telah ada, serta mengurangi beban stasiun-stasiun besar di lintas yang sama.
Dampak terhadap Distribusi dan Ekonomi Lokal
Selain layanan Commuter Line untuk penumpang harian, KAI juga mengembangkan layanan khusus yang menyasar pelaku ekonomi lokal.
Sejak 1 Desember 2025, KAI mengoperasikan kereta khusus petani dan pedagang lintas Merak–Rangkasbitung dengan tarif Rp3.000 per perjalanan.
Layanan ini dirancang untuk mendukung distribusi hasil pertanian dan barang dagangan dari wilayah barat Banten menuju pusat-pusat pasar.
Hingga 31 Januari 2026, layanan tersebut telah dimanfaatkan oleh 8.650 pelanggan.
Data KAI menunjukkan Stasiun Cikeusal menjadi titik naik dan turun dengan jumlah pengguna tertinggi.
Kehadiran kereta khusus ini dinilai membantu menekan biaya logistik skala kecil dan memperlancar aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
Menurut KAI, pengembangan layanan penumpang dan nonpenumpang dilakukan secara berimbang agar manfaat transportasi kereta api dapat dirasakan lebih luas oleh berbagai lapisan masyarakat.
“Langkah ini diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat, kelancaran distribusi ekonomi, serta kenyamanan seluruh pengguna jasa kereta api di wilayah barat Jawa,” ujar Anne.
Pengoperasian Stasiun Jatake dan penguatan layanan di wilayah barat Jawa dilakukan melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan.
KAI menyebut koordinasi tersebut mencakup tahap perencanaan, pembangunan prasarana, hingga kesiapan operasional dan pengaturan jadwal perjalanan.
Sinergi antarinstansi dinilai penting untuk memastikan pengembangan jaringan kereta api berjalan selaras dengan rencana tata ruang wilayah, pengembangan kawasan permukiman, serta kebutuhan mobilitas masyarakat yang terus berubah.
Dengan pendekatan tersebut, KAI berharap layanan kereta api tidak hanya menjadi moda transportasi, tetapi juga katalis pertumbuhan ekonomi regional.
Seiring bertambahnya simpul transportasi baru seperti Stasiun Jatake, peran kereta api di wilayah barat Jawa diproyeksikan semakin strategis dalam menopang mobilitas Jabodetabek, sekaligus mendorong pemerataan akses transportasi publik yang andal dan berkelanjutan.











